IDNVoice.com - Ketua DPR RI Puan Maharani mengingatkan pentingnya menjadikan sekolah sebagai ruang yang aman, sehat, dan bebas dari perundungan menyusul kasus peledakan bom rakitan yang diduga dirakit oleh seorang siswa di MAN 3 Padang, Sumatera Barat. Siswa tersebut disebut mengalami perundungan sebelum peristiwa terjadi.
Puan menilai insiden tersebut menjadi peringatan serius bahwa persoalan yang dihadapi remaja Indonesia telah mengalami perubahan yang sangat mendasar dan memerlukan perhatian bersama.
"Apa yang dilakukan korban memang tidak bisa dibenarkan. Tapi seringkali persoalan psikologis membawa dampak sehingga pemulihan mental korban harus menjadi prioritas," kata Puan di Jakarta pada Kamis, 16 Juli 2026.
Menurut Puan, kemudahan mengakses informasi mengenai perakitan bahan peledak melalui internet menunjukkan bahwa persoalan yang selama ini dianggap sebagai kenakalan remaja kini telah berkembang menjadi perilaku berisiko tinggi (high-risk behavior) yang dapat membahayakan keselamatan banyak orang.
"Perubahan tersebut harus menjadi alarm nasional bahwa sistem perlindungan anak Indonesia perlu segera beradaptasi dengan tantangan baru di era digital," ujarnya.
Puan menegaskan lingkungan pendidikan memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan setiap anak memperoleh perlindungan yang layak selama menjalani proses belajar.
Meski pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah, ia menilai satuan pendidikan harus mampu menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik.
"Iklim pendidikan juga harus mendapat perhatian di mana satuan pendidikan harus bisa memastikan anak mendapatkan ruang sekolah aman dan lingkungan pendidikan yang sehat. Termasuk memastikan anak terbebas dari perundungan," katanya.
Selain peran sekolah, Puan juga menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam mengawasi perkembangan anak serta memperkuat ketahanan keluarga sebagai benteng utama menghadapi berbagai pengaruh negatif.
Di sisi lain, ia meminta pemerintah menangani persoalan kenakalan remaja secara lebih komprehensif melalui berbagai pendekatan, tidak hanya mengandalkan penegakan disiplin atau proses hukum setelah sebuah peristiwa terjadi.
"Karena persoalan kenakalan remaja tidak cukup ditangani hanya melalui pendekatan disiplin sekolah atau penegakan hukum setelah suatu peristiwa terjadi," kata Puan.
Puan berharap peristiwa di MAN 3 Padang menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sistem perlindungan anak, meningkatkan pengawasan terhadap kesehatan mental remaja, serta membangun lingkungan pendidikan yang aman dan bebas dari segala bentuk perundungan. [DR]