Forum Pengawal Muktamar NU Ke-35 Serukan Kiai Sepuh Turun Gunung demi Jaga Persatuan dan Kemandirian NU

Senin, 20 Juli 2026 21:52 WIB
Forum Pengawal Muktamar NU Ke-35; Menjaga Hikmah, Merawat Persatuan, Meneguhkan Kemandirian NU. (IDNVoice/MN-Istimewa)
Forum Pengawal Muktamar NU Ke-35; Menjaga Hikmah, Merawat Persatuan, Meneguhkan Kemandirian NU. (IDNVoice/MN-Istimewa)

IDNVoice.com - Forum Pengawal Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) Ke-35 menyerukan seluruh elemen NU untuk mengembalikan Muktamar sebagai forum permusyawaratan ulama yang menjunjung tinggi hikmah, persatuan, dan kemandirian organisasi. Seruan tersebut disampaikan melalui rilis pers bertajuk Menjaga Muktamar NU dalam Irsyad Ulama, Persatuan, dan Kemandirian.

Koordinator Forum Pengawal Muktamar NU Ke-35, Nur Khalik Ridwan, menegaskan bahwa NU tengah memasuki fase penting yang akan menentukan arah jam`iyyah, marwah ulama, serta kualitas khidmah kepada umat, bangsa, dan dunia.

Menurut forum, Muktamar sebagai permusyawaratan tertinggi NU harus menjadi ruang untuk membaca tantangan zaman, mengevaluasi perjalanan organisasi, memperkuat persaudaraan, serta menetapkan arah perjuangan berdasarkan kemaslahatan dengan berlandaskan hikmah, ilmu, dan tanggung jawab sejarah.

Forum menilai kemunculan sejumlah kandidat ketua umum merupakan dinamika organisasi yang sah. Namun, kompetisi yang tidak dilandasi nilai-nilai bersama dikhawatirkan dapat mempertajam perbedaan, memunculkan hoaks dan prasangka, hingga menyeret jamaah dan struktur NU ke dalam konflik berkepanjangan.

"Muktamar tidak boleh direduksi menjadi perebutan kepemimpinan. Amanat utamanya ialah menjaga persatuan, memperkuat kelembagaan, dan melahirkan keputusan yang menjawab persoalan internal NU, penguatan Aswaja, kehidupan kebangsaan, serta perubahan tata dunia," tulis rilis yang diterima pada Senin, 2026.

Selain itu, forum juga menekankan pentingnya kehadiran para kiai sepuh sebagai penjaga kebijaksanaan dan keseimbangan jam`iyyah. Dalam rilisnya, Forum mengutip hadis Rasulullah SAW tentang keberkahan bersama orang-orang tua dan para pembesar umat, serta pandangan Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin yang menyebut ulama sebagai pewaris para nabi dan penunjuk jalan.

Menurut forum, kehadiran kiai sepuh bukan sekadar memenuhi aspek seremonial, melainkan menjadi sumber irsyad agar peserta muktamar mampu membedakan kepentingan sesaat dengan kemaslahatan jam`iyyah dan jamaah.

Dalam rilis tersebut, Forum Pengawal Muktamar NU Ke-35 menyampaikan tiga seruan utama.

Kiai Sepuh Diminta Turun Gunung

Forum memohon kepada para kiai sepuh dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua, agar berkenan hadir memberikan nasihat, kearifan, dan panduan sejak masa persiapan, selama pelaksanaan, hingga pasca-Muktamar.

Menurut forum, pengalaman, keluasan ilmu, dan ketajaman batin para kiai sepuh menjadi modal moral untuk menjaga Muktamar tetap berada dalam koridor akhlak, ilmu, dan kemaslahatan.

Para kiai sepuh juga diharapkan mampu merumuskan pedoman moral, memediasi ketegangan antarkelompok, mengingatkan para kandidat, serta memastikan keputusan organisasi lahir melalui hikmah dan musyawarah.

Forum mengingatkan bahwa tanpa keterlibatan aktif para kiai sepuh, kontestasi dikhawatirkan dapat memecah persaudaraan hingga ke tingkat wilayah, cabang, dan jamaah.

Kandidat Didorong Bangun Platform Bersama

Forum juga menyerukan seluruh kandidat yang telah muncul agar segera bertemu secara terbuka dan penuh persaudaraan untuk membangun ittihadul-qulub (kesatuan hati), ittihadul-afham wal-afkar (kesatuan pemahaman dan gagasan), serta ittihadul-harakah (kesatuan gerak).

Pertemuan tersebut diharapkan menghasilkan platform bersama mengenai pembenahan tata kelola organisasi, supremasi ulama, kemandirian ekonomi NU, integrasi pendidikan, kaderisasi, pelayanan jamaah, advokasi kebijakan publik, penguatan masyarakat sipil, diplomasi keadilan, hingga pembelaan terhadap Palestina.

Forum menilai platform itu harus menjadi komitmen moral yang dijalankan siapa pun yang menerima mandat kepemimpinan, sehingga Muktamar tidak berhenti pada logika menang dan kalah.

Kepemimpinan mendatang juga diharapkan bersifat rekonsiliatif dengan merangkul seluruh unsur jam`iyyah dan mengakhiri politik saling meniadakan.

Tolak Intervensi dari Luar NU

Selain itu, forum mendesak Muktamar NU Ke-35 menegaskan kemandirian organisasi dalam menentukan arah perjuangan berdasarkan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), Qonun Asasi, Khittah NU, hikmah ulama, serta pengalaman sejarah jam`iyyah.

Forum secara tegas menolak segala bentuk intervensi, baik dari kekuatan politik, otoritas struktural, praktik politik uang, maupun jaringan kekuasaan di luar NU yang berpotensi memengaruhi pencalonan, pilihan muktamirin, maupun keputusan persidangan.

Forum juga meminta penyelenggaraan Muktamar dijalankan secara transparan dengan pendanaan yang akuntabel, kebebasan memilih bagi para muktamirin, pencegahan transaksi politik, serta pengawasan bersama terhadap segala bentuk intervensi.

Menurut Forum, Muktamar yang berlangsung secara merdeka, berintegritas, dan dipandu oleh para ulama akan melahirkan kepemimpinan yang memiliki legitimasi moral, mampu menjaga amanat jamaah, serta menjawab tantangan NU di masa kini dan masa mendatang. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid