Benoa Disulap Jadi Hub Wisata Bahari, Menko IPK Pastikan Lingkungan dan Budaya Tetap Terjaga

Selasa, 21 Juli 2026 20:37 WIB
Ratusan kapal ikan yang hendak direlokasi ke PPN Pengambengan sedang sandar di Pelabuhan Benoa, di Denpasar, Bali pada Selasa, 21 Juli 2026. (IDNVoice/Antara-Ni Putu Putri Muliantari)
Ratusan kapal ikan yang hendak direlokasi ke PPN Pengambengan sedang sandar di Pelabuhan Benoa, di Denpasar, Bali pada Selasa, 21 Juli 2026. (IDNVoice/Antara-Ni Putu Putri Muliantari)

IDNVoice.com - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan rencana relokasi ratusan kapal ikan dari Pelabuhan Benoa, Bali, sebagai bagian dari pengembangan Bali Maritime Tourism Hub (BMTH) yang akan disulap menjadi marina bertaraf internasional.

Saat meninjau kawasan pengembangan BMTH di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Selasa, AHY mengatakan salah satu tahapan penting dalam proyek tersebut adalah menata aktivitas perikanan dengan memindahkan kapal-kapal ikan ke lokasi yang lebih sesuai.

"Tadi saya mendapatkan penjelasan dari Pelindo yang saat ini mengawal proses pengembangan Pelabuhan Benoa, salah satu yang harus dilakukan adalah relokasi dan penataan kapal-kapal perikanan yang ada di sebelah sana," ujar AHY pada Selasa, 21 Juli 2026.

Ia menjelaskan kapal-kapal tersebut nantinya akan direlokasi ke Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan di Kabupaten Jembrana, Bali.

Menurut AHY, pengembangan marina di Pelabuhan Benoa saat ini terus berjalan dan ditargetkan rampung serta beroperasi penuh pada akhir 2028. Marina tersebut diproyeksikan menjadi pusat pariwisata bahari baru yang mampu menarik wisatawan pencinta kapal pesiar dan kapal mewah dari berbagai negara.

"Direncanakan 2028, akhir 2028 akan benar-benar operasional secara keseluruhan, namun tahapan-tahapannya dimulai dari tempat kita berdiri ini, dan nanti akan terus dilakukan penataan secara profesional dan juga memenuhi asas-asas keberlanjutan," ujarnya.

Meski Pelabuhan Benoa selama ini dikenal sebagai salah satu pusat industri perikanan tangkap, AHY menegaskan transformasi kawasan tidak boleh mengorbankan kelestarian lingkungan maupun nilai-nilai budaya Bali.

"Kita ingin menjaga alam Bali, menjaga budaya Bali, jadi pengembangan ini juga harus benar-benar memenuhi standar keberlanjutan, kita juga harus terus mendengar apa yang menjadi aspirasi masyarakat yang ada di sini," katanya.

Ia menambahkan, pengembangan BMTH juga harus mematuhi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) agar pembangunan berjalan sesuai aturan serta memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

AHY optimistis, jika seluruh tahapan dilakukan secara profesional dan berkelanjutan, BMTH akan menjadi pusat wisata bahari baru yang mampu meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat regional.

"Dan mengapa tidak kalau visinya ini menjadi salah satu yang terbesar dan terbaik di Asia Tenggara, karena Indonesia sudah sepatutnya sebagai negara maritim dan negara kepulauan terbesar menjadi hub, menjadi daya tarik wisata bahari yang mendunia," kata AHY. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid