IDNVoice.com - Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Hasanuddin Wahid atau Cak Udin menegaskan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak dapat menggantikan peran guru, ulama, maupun tokoh agama. Menurutnya, AI hanyalah alat bantu ciptaan manusia, sedangkan agama bersumber dari Tuhan dan bertumpu pada sanad keilmuan serta keteladanan.
Pernyataan tersebut disampaikan Cak Udin dalam diskusi publik bertajuk Ruang Temu AI dan Agama: Menyongsong Masa Depan Kehidupan Beragama di Era Artificial Intelligence (AI) yang digelar di Kantor DPP PKB, Jakarta, Rabu, sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB.
"AI bisa menghadirkan referensi dan data yang lengkap. Tetapi AI tetap hanya alat bantu. AI tidak akan bisa menggantikan peran guru rakyat, guru bangsa, maupun para guru yang membimbing umat dengan keteladanan dan sanad keilmuan," kata Cak Udin pada Rabu, 15 Juli 2026.
Dalam sambutannya, Cak Udin mengatakan perkembangan AI telah menghadirkan tantangan baru dalam kehidupan beragama. Menurutnya, kemajuan teknologi memunculkan beragam respons di tengah masyarakat dan kalangan tokoh agama.
Sebagian pihak menilai AI mulai mengambil alih sejumlah fungsi yang selama ini dijalankan para pemuka agama. Namun, ada pula yang menolak pemanfaatannya karena meyakini AI tidak memiliki dimensi spiritual dan tidak mampu menggantikan hubungan guru dan murid dalam tradisi keilmuan Islam.
"Fenomena tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama dalam merumuskan posisi agama terhadap AI maupun bagaimana AI dimanfaatkan secara bertanggung jawab dalam kehidupan beragama," ujarnya.
Cak Udin mengungkapkan perkembangan AI bahkan telah merambah lingkungan pesantren. Ia mencontohkan adanya santri yang menyanggah penjelasan seorang kiai dengan merujuk pada referensi kitab yang diperoleh melalui AI dan disajikan secara lebih sistematis.
Menurutnya, fenomena tersebut memunculkan sedikitnya tiga tantangan besar. Pertama, tantangan terhadap otoritas keagamaan, yakni apakah otoritas pengetahuan agama akan tetap berada di bawah bimbingan ulama dan kiai atau bergeser kepada mesin yang mampu menyajikan informasi secara instan.
Kedua, tantangan etika dan hakikat kemanusiaan. Meski AI merupakan hasil ciptaan manusia, perkembangan teknologi dinilai berpotensi memengaruhi cara manusia memandang etika, spiritualitas, dan relasi kemanusiaan.
Ketiga, AI harus tetap ditempatkan sebagai alat bantu untuk memperkuat pelayanan dan kehidupan beragama, bukan sebagai pengganti agama maupun pemuka agama. AI memang mampu menyediakan referensi, data, dan literatur secara cepat, tetapi tidak dapat menggantikan sanad keilmuan, keteladanan, pembinaan spiritual, maupun bimbingan para guru, ulama, dan tokoh agama.
Diskusi publik tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, di antaranya Anggota Komisi I DPR RI H. Oleh Soleh, Dirjen Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Dr. Edwin Hidayat A., Pengasuh Pondok Pesantren Minggir Yogyakarta Gus Muwafiq, serta Ketua Umum Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA) Prof. Hammam Riza.
Melalui forum tersebut, PKB berharap tercipta ruang dialog yang konstruktif antara perkembangan teknologi dan nilai-nilai keagamaan, sehingga pemanfaatan AI dapat memperkuat kualitas kehidupan beragama tanpa menggeser peran sentral manusia, ulama, dan tradisi keilmuan yang menjadi fondasi peradaban. [DR]