105 Siswa SMAN 1 Tukdana Indramayu Mual Usai Santap MBG, SPPG Kerticala 2 Disetop

Rabu, 07 Oktober 2026 18:57 WIB
Sejumlah Siswa SMAN 1 Tukdana Indramayu mual-mual diduga keracunan menu MBG. (IDNVoice/Istimewa)
Sejumlah Siswa SMAN 1 Tukdana Indramayu mual-mual diduga keracunan menu MBG. (IDNVoice/Istimewa)

IDNVoice.com - Dugaan kejadian keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di SMAN 1 Tukdana, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Sekitar 105 pelajar dilaporkan mengalami keluhan berupa mual, pusing, dan muntah setelah menyantap hidangan yang dipasok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kerticala 2.

Peristiwa tersebut terjadi pada Senin, 5 Oktober 2026. Hingga Selasa (6 Oktober 2026), dua siswa masih menjalani perawatan intensif di RSUD Indramayu, sementara dua pasien lainnya menjalani rawat jalan.

Humas RSUD Indramayu, Tarmidi, membenarkan kondisi tersebut.

*RSUD Indramayu masih melakukan perawatan intensif terhadap pasien akibat gejala pusing dan muntah, dua pasien masih dirawat, sedangkan dua menjalani rawat jalan," ujar Tarmidi pada Selasa, 6 Oktober 2026.

Camat Tukdana, Heka Sugono, mengatakan sekitar 105 siswa kelas 10, 11, dan 12 mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG.

"Tadi siang saya dapat laporan terkait dugaan keracunan MBG di SMAN 1 Tukdana, ada sekitar 105 pelajar baik kelas 10, 11 dan 12 mengalami keracunan. Yang 18 orang dilakukan tindakan di Puskesmas Tukdana, di Puskesmas Kerticala ada puluhan yang sedang ditangani, termasuk yang dirujuk ke RSUD Indramayu 2 orang siswa," kata Heka Sugono.

Para siswa yang mengalami keluhan langsung mendapat penanganan medis, baik di lingkungan sekolah maupun di fasilitas kesehatan terdekat. Sejumlah siswa kemudian dirujuk ke RSUD Indramayu.

Berdasarkan laporan medis dari Puskesmas Tukdana, gejala yang dialami siswa rata-rata berupa mual, pusing, dan muntah-muntah.

Sementara itu, sampel makanan telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan laboratorium di Labkesda Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu.

*Sekarang sampel makanan sedang diuji lab di Labkesda Dinas Kesehatan Indramayu. Soal korban masih mungkin untuk bertambah karena masih ada yang datang di Puskesmas Kerticala. Sementara dugaan akibat keracunan makanan dari kiriman SPPG 2 Kerticala," ujarnya.

Peristiwa tersebut juga memicu kekhawatiran keluarga siswa. Dalam sebuah video yang beredar di masyarakat, pihak keluarga mengimbau para pelajar membawa makanan dari rumah untuk sementara waktu.

"Mulai besok kita ga usah makan dari MBG, kita bawa bekel sendiri aja dari rumah. Ini MBG meracuni," ucap keluarga pelajar dalam tayangan video yang beredar ke publik.

Meski demikian, penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan.

Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG, Ayu, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Menurutnya, pihak SPPG langsung mengambil langkah tanggap darurat setelah mendapat informasi dari sekolah.

"Benar terjadi. Dari awal pihak sekolah menghubungi SPPG bahwa ada penerima manfaat yang terdampak, pihak SPPG langsung melakukan penanganan. Adapun hal yang dilakukan adalah menghubungi pihak puskesmas terkait karena beberapa ada yang dicek di sekolah bersama Kesling (Kesehatan Lingkungan), kemudian dirawat di dua puskesmas, yaitu Puskesmas Tukdana dan Puskesmas Kerticala," ujar Ayu.

Ayu mengatakan, penanganan dilakukan bersama puskesmas dan petugas Kesehatan Lingkungan (Kesling). Sementara sampel makanan yang diproduksi pada hari kejadian telah diamankan oleh Dinas Kesehatan untuk pemeriksaan laboratorium.

Badan Gizi Nasional (BGN) juga telah menerbitkan surat penghentian operasional sementara SPPG Kerticala 2.

"Makanan yang hari ini dimasak juga untuk sampelnya sudah diamankan oleh Dinkes dan akan dilakukan uji lab makanannya. Adapun dari BGN untuk SPPG sudah diterbitkan surat berhenti operasional sementara, sehingga SPPG mulai besok tidak beroperasional sampai persyaratan lainnya terpenuhi untuk operasional kembali," katanya.

Saat ini tim Korwil bersama Korcam masih melakukan pengecekan di lapangan dan melaporkan perkembangan situasi secara berkala ke pusat.

Kondisi para siswa yang menjalani perawatan juga terus dipantau. Sementara itu, masyarakat menunggu hasil uji laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti munculnya keluhan pada para siswa.

Hasil pemeriksaan tersebut menjadi penting untuk memastikan apakah keluhan para siswa berkaitan dengan makanan MBG yang dikonsumsi atau terdapat faktor lain. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid