Milenial dan Gen Z Ubah Tren Pariwisata, Kemenpar: Wisata Tematik hingga Sport Tourism Kian Diminati

Kamis, 09 Juli 2026 13:51 WIB
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengajak wisatawan Malaysia untuk menjelajahi pesona keindahan destinasi wisata Sumatra Barat (Sumbar) melalui kegiatan Familiarization Trip (Famtrip) bertajuk
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengajak wisatawan Malaysia untuk menjelajahi pesona keindahan destinasi wisata Sumatra Barat (Sumbar) melalui kegiatan Familiarization Trip (Famtrip) bertajuk "Wonderful Indonesia Journey", Sumatra Barat, 27 Oktober 2025. (IDNVoice/Kemenpar)

IDNVoice.com - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyebut generasi milenial dan Gen Z menjadi motor penggerak lahirnya tren baru di sektor pariwisata. Karakter wisatawan yang akrab dengan teknologi mendorong meningkatnya minat terhadap wisata tematik yang menawarkan pengalaman lebih autentik, berkelanjutan, dan personal.

Juru Bicara Kementerian Pariwisata Nia Niscaya mengatakan perkembangan pariwisata global saat ini menunjukkan pergeseran dari sekadar perjalanan rekreasi menuju pengalaman wisata yang lebih bermakna dengan dukungan teknologi digital.

"Generasi milenial dan Gen Z sebagai wisatawan digital-native mendorong munculnya tren baru seperti pariwisata berbasis lingkungan, wisata kebugaran, wisata olahraga dan Meetidan, Incentive, Convention and Exhibition (MICE)," kata Nia kepada dikutip dari Antara pada Rabu, 8 Juli 2026.

Menurut Nia, pertumbuhan wisata tematik semakin pesat seiring hadirnya berbagai teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), serta Augmented Reality/Virtual Reality (AR/VR) yang mampu menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih personal, efisien, dan imersif.

Teknologi tersebut juga menempatkan wisatawan sebagai pusat ekosistem digital pariwisata, sehingga pengalaman berwisata dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi masing-masing individu.

Nia menjelaskan, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara pada dasarnya memiliki minat terhadap jenis wisata yang relatif sama, meskipun terdapat perbedaan dalam urutan prioritas.

Enam tren wisata yang menjadi unggulan di kedua segmen tersebut meliputi wisata budaya imersif, pariwisata ramah lingkungan, wisata alam dan petualangan, wisata kuliner dan gastronomi, wisata kebugaran, serta wisata rekreasi.

"Perbedaan utama terletak pada motivasi dan intensitas minat terhadap masing-masing jenis wisata. Kedua segmen ini dipertemukan dengan fokus perjalanan yang lebih bermakna dan otentik," ujar Nia.

Ia menjelaskan, wisatawan mancanegara cenderung menjadikan wisata budaya imersif, pariwisata ramah lingkungan, serta wisata alam dan petualangan sebagai pilihan utama. Hal itu mencerminkan keinginan mereka untuk memperoleh pengalaman yang bermakna, membangun koneksi lintas budaya, sekaligus menunjukkan kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.

Sementara itu, wisatawan nusantara lebih mengutamakan wisata kuliner dan gastronomi serta wisata budaya imersif, yang mencerminkan orientasi pada relaksasi, eksplorasi cita rasa, dan kenyamanan saat berwisata di dalam negeri.

Meski memiliki preferensi berbeda, menurut Nia kedua kelompok wisatawan sama-sama memiliki orientasi pada eksplorasi destinasi dan pengalaman langsung yang autentik.

Selain itu, Kementerian Pariwisata juga melihat wisata olahraga (sport tourism) sebagai salah satu segmen dengan pertumbuhan paling cepat di dunia.

Mengutip data UN Tourism (UNWTO), Nia mengatakan sektor wisata olahraga kini menyumbang sekitar 10 persen dari total pengeluaran wisatawan global dan diproyeksikan tumbuh rata-rata 17,5 persen per tahun hingga 2030.

"Pertumbuhan ini didorong oleh kecenderungan wisatawan yang mencari pengalaman berkesan dan menyehatkan, bukan hanya sebagai hiburan," kata Nia.

Kementerian Pariwisata menilai perubahan preferensi wisata tersebut menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk terus mengembangkan destinasi wisata tematik yang inovatif, berkelanjutan, dan berbasis teknologi guna menarik lebih banyak wisatawan domestik maupun mancanegara. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid