Ilmuwan Ingatkan Perubahan Iklim Mengancam Puluhan Ribu Spesies Bunga

Senin, 11 Mei 2026 13:59 WIB
Perubahan Iklim Mengancam Puluhan Ribu Spesies
Perubahan Iklim Mengancam Puluhan Ribu Spesies

IDNVoice.om - Ketika membahas kepunahan akibat pemanasan global, banyak orang membayangkan beruang kutub atau hewan berbulu lainnya yang menghilang. Namun, dunia tumbuhan yang sangat penting dan sering terabaikan justru diperkirakan akan mengalami kerusakan besar akibat perubahan iklim. Para ilmuwan memprediksi puluhan ribu spesies tumbuhan akan punah sebelum akhir abad ini.

Menurut penelitian yang diterbitkan Kamis di jurnal Science sebagaimana dikutip AsiaOne, antara 7 hingga 16 persen spesies tumbuhan dunia kemungkinan akan kehilangan sedikitnya 90 persen habitat mereka dan pada dasarnya punah dalam sekitar 55 hingga 75 tahun mendatang. Penyebab utamanya adalah meningkatnya suhu global serta perubahan pola hujan dan salju.

Jumlah itu setara dengan sekitar 35.000 hingga 50.000 spesies tumbuhan berdasarkan skenario emisi karbon moderat, dan bisa jauh lebih besar jika polusi dunia terus meningkat, kata salah satu penulis studi, Xiaoli Dong dari University of California Davis.

“Tingkat pemanasanlah yang mendorong kepunahan,” ujar Dong.

Dong dan rekan-rekannya menggunakan berbagai model komputer biologi dan iklim untuk meneliti kemungkinan masa depan bagi 18 persen spesies tumbuhan dunia secara rinci, guna memahami apa yang mungkin terjadi pada seluruh spesies tumbuhan.

Para ilmuwan sebelumnya memperkirakan tumbuhan dapat perlahan berpindah ke wilayah yang lebih dingin seiring meningkatnya suhu bumi, dibantu angin, air, dan hewan menuju kutub atau dataran yang lebih tinggi. Proses ini memang telah diamati, bahkan beberapa tumbuhan dipindahkan manusia demi konservasi. Namun jutaan simulasi komputer yang dilakukan Dong menunjukkan bahwa sekalipun spesies bergerak secepat mungkin, hal itu tetap tidak akan mengurangi tingkat kepunahan.

“Bukan karena mereka tidak bergerak cukup cepat,” kata Dong. “Tetapi karena habitat yang mereka butuhkan tidak akan ada lagi.”

Perubahan Iklim Merusak Habitat Tumbuhan

Perubahan iklim, baik melalui peningkatan suhu maupun perubahan curah hujan, akan membuat wilayah yang dulu cocok bagi tumbuhan menjadi tidak layak huni bagi sebagian spesies.

Dong memberi contoh bunga tulip. Tanaman itu membutuhkan kombinasi tertentu antara jenis tanah, suhu, dan tingkat hujan. Kini perubahan iklim mengacaukan kombinasi tersebut: suhu ideal bergeser ke utara, pola hujan yang tepat berpindah ke timur, sementara tanah yang cocok tetap berada di tempat yang sama.

“Kondisi sempurna yang dibutuhkan tulip kini menjadi sangat kecil,” jelas Dong.

Penelitian menemukan situasi ini sangat parah di wilayah Arktik, Mediterania, dan Australia. Di Arktik, suhu meningkat empat kali lebih cepat dibanding rata-rata global, sementara di Australia dampak terbesar berasal dari perubahan pola hujan.

Ribuan Tumbuhan Berbunga Kini Terancam

Sementara studi Dong meneliti risiko kepunahan di masa depan, studi kedua yang juga diterbitkan Kamis di jurnal yang sama meneliti risiko kepunahan tumbuhan berbunga saat ini. Kelompok tumbuhan ini memiliki lebih dari 335.000 spesies — lebih banyak dibanding sebagian besar jenis flora dan fauna lainnya.

Para ilmuwan dari Kew Gardens di Inggris menemukan hampir 10.000 spesies tumbuhan berbunga kini berada dalam bahaya kepunahan. Banyak di antaranya sangat tua secara evolusi dan unik, sehingga jika punah maka 21 persen “pohon kehidupan” bumi juga akan hilang bersamanya.

Beberapa contohnya adalah bunga bangkai raksasa titan arum—tumbuhan paling bau di dunia—serta anggrek penghasil vanila yang sangat berguna bagi manusia.

Ahli biologi evolusi tumbuhan sekaligus penulis utama studi, Felix Forest, menggunakan sistem prioritas konservasi yang dikembangkan ilmuwan Inggris selama 20 tahun untuk menyelamatkan spesies paling unik. Studi itu tidak meneliti penyebab kepunahan, melainkan apa yang akan hilang dari sejarah biologis dan keunikan evolusi.

Dalam studi prioritas spesies terbesar yang pernah dilakukan, Forest menemukan bahwa lebih banyak sejarah evolusi terancam hilang pada tumbuhan berbunga unik dibanding hampir semua kelompok flora dan fauna lain, kecuali kura-kura dan penyu.

Beberapa spesies lain, seperti berbagai jenis tikus, masih memiliki banyak kerabat dekat sehingga sejarah evolusinya tetap bertahan jika satu spesies punah. Namun tumbuhan seperti Ginkgo biloba tidak memiliki spesies serupa dan mewakili ratusan juta tahun evolusi.

Hewan Lebih Mendapat Perhatian daripada Tumbuhan

Masalahnya, kepunahan tumbuhan sering kali diabaikan, bahkan oleh organisasi resmi, dibandingkan kepunahan hewan, kata Forest dan Dong.

“Kami mencoba memperbaiki ketimpangan antara perhatian terhadap tumbuhan dan hewan, terutama vertebrata,” kata Forest.

“Manusia umumnya lebih tertarik pada makhluk berbulu lucu atau yang memiliki sayap daripada tumbuhan. Memang begitulah kenyataannya,” lanjutnya.

Kedua studi tersebut menunjukkan bahwa dunia tidak bisa lagi menunda tindakan untuk menyelamatkan spesies tumbuhan yang terancam punah, tulis ahli biologi asal Chile, Rosa Scherson dan Federico Luebert, yang tidak terlibat dalam penelitian.

Ketika masa depan tumbuhan menjadi tidak stabil, hal itu juga dapat memengaruhi ketahanan pangan manusia dan akses terhadap bahan-bahan dasar kehidupan.

“Mempertahankan kondisi yang mendukung kehidupan manusia saat ini membutuhkan tindakan mendesak,” tulis mereka. [DR]

 



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid
KATA KUNCI