PDI Perjuangan Gelar Pekan Peduli Sampah Nasional 9-14 November, Bidik Rekor MURI

Minggu, 18 Oktober 2026 08:36 WIB
Ketua Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup DPP PDI Perjuangan, Eriko Sotarduga. (IDNVoice/PDIP)
Ketua Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup DPP PDI Perjuangan, Eriko Sotarduga. (IDNVoice/PDIP)

IDNVoice.com – PDI Perjuangan akan menggelar Pekan Peduli Sampah Nasional pada 9-14 November 2026 dengan melibatkan kader partai hingga tingkat desa di seluruh Indonesia. Gerakan ini menargetkan pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi pupuk sekaligus upaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Eriko Sotarduga, mengatakan kegiatan tersebut akan dipusatkan di Jakarta, tetapi pelaksanaannya berlangsung serentak di berbagai daerah.

"Nanti kami sebagai Ketua DPP Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tanggal 9 sampai 14 November akan mengadakan Pekan Peduli Sampah Nasional. Kita akan memecahkan rekor MURI nanti tanggal 14 November," kata Eriko dalam keterangannya pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Pengumuman itu disampaikan Eriko dalam webinar di kawasan Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna, Malang Selatan.

Menurut Eriko, gerakan tersebut akan mendorong masyarakat mengolah sampah organik, seperti sisa makanan dan dedaunan, menjadi pupuk. Ia menyoroti penggunaan pupuk kimia yang dinilai dapat membuat tanah menjadi keras sehingga pengolahan sampah organik perlu diperkuat sebagai alternatif.

"Kita tumpuk sampah organik di sana, bekas sisa makanan, daun-daunan dan lain-lain, tapi nanti harus diberikan namanya bio-decomposer untuk apa? Agar tidak bau dan proses itu menjadi lebih cepat," kata Eriko.

Ia juga mengaitkan gerakan tersebut dengan peringatan Hari Pahlawan pada 10 November. Menurutnya, masyarakat dapat menjadi pahlawan dengan menjaga lingkungan di wilayah masing-masing.

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menjelaskan, puncak kegiatan pada 14 November akan diisi aksi pembersihan sampah di ibu kota provinsi dan kabupaten. Sampah yang terkumpul akan dipilah sebagai bagian dari gerakan Merawat Pertiwi.

Hasto juga mendorong pengolahan sampah organik rumah tangga mulai dari tingkat rukun tetangga (RT) melalui program yang disebut TEBA.

"Kita olah, kami akan membuat TEBA. TEBA itu sampah organik dimasukkan di situ. Bagi yang ikut webinar nanti yang perlu nanti kami berikan datanya. Termasuk diberikan biodekomposer agar sampahnya tidak berbau, sampah organik rumah tangga itu agar tidak berbau," ujar Hasto.

Selain pengelolaan sampah, Hasto menekankan pentingnya kebijakan tata ruang dan perlindungan hutan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan serta ketahanan pangan nasional.

"Maka politik tata ruang, moratorium hutan-hutan kita harus dilakukan. Tidak boleh ada konversi lahan pertanian untuk kepentingan lain karena itu menyangkut masa depan anak cucu kita. Kita harus berdaulat di bidang pangan," katanya.

Pekan Peduli Sampah Nasional juga akan menjadi ruang berbagi pengalaman para kepala daerah dari PDI Perjuangan dalam mengelola lingkungan dan menerapkan teknologi pengolahan sampah.

"Termasuk Bu Risma di dalam mengelola sampah, mengelola lingkungan, membuat taman-taman kota, politik tata ruang, kemudian penggunaan teknologi," ujar Hasto.

Dalam webinar yang sama, penggerak lingkungan M. Zamroni menceritakan pengalamannya mengelola sampah sejak 1999 melalui Tunas Hijau. Kesadarannya terhadap persoalan sampah tumbuh setelah mengikuti program pertukaran pemuda ke Australia.

Sekembalinya ke Indonesia, ia bersama tim mengajak masyarakat membuang sampah pada tempatnya, menggunakan saku sebagai tempat sampah sementara, serta mengurangi penggunaan air mineral dalam kemasan sekali pakai.

Sejak 2002, Zamroni juga mengembangkan edukasi lingkungan bagi anak-anak dan remaja melalui Akademi Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup.

Ia mengungkapkan, gerakan tersebut menghasilkan sejumlah praktik pengolahan sampah organik dalam skala rumah tangga yang cukup besar.

"Ada yang sejak pandemi bahkan 2020 itu satu anak dengan keluarganya itu mengolah sampah organik 125 kilogram dalam sehari. Di rumah," ujarnya.

Ia juga menyebut seorang siswa sekolah dasar mampu mengolah 110 kilogram sampah organik setiap hari atau mencapai 3,3 ton dalam sebulan.

Dalam kesempatan itu, Zamroni turut menyoroti keterbatasan lahan untuk menanam pohon di Surabaya akibat tingginya harga tanah. Ia menggambarkan kondisi ketika harga pohon jauh lebih murah dibandingkan lahan yang dibutuhkan untuk menanamnya.

"Kalau Surabaya tanam pohon itu mahal. Ibaratnya kalau mau tanam pohon ya mesti seyogianya beli tanahnya juga. Kalau tanah di Surabaya kok ada Rp2 juta per meter," katanya.

Ia kemudian membandingkan harga tanah tersebut dengan harga pohon yang hanya sekitar Rp25.000.

"Pohonnya murah Rp25.000 tapi mau ditaruh dimana?" ujarnya.

Mendengar persoalan tersebut, mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang mengikuti acara secara langsung menawarkan bantuan untuk menyediakan lahan penanaman pohon.

"Kontak saya ya kalau butuh lahan untuk menanamnya, nanti ayo kita kerjakan bersama-sama," ujar Risma.

Melalui Pekan Peduli Sampah Nasional, PDI Perjuangan berharap pengelolaan sampah tidak hanya berhenti pada kegiatan bersih-bersih, tetapi berkembang menjadi kebiasaan masyarakat, mulai dari memilah sampah, mengolah limbah organik, hingga menjaga ruang hijau dan kelestarian lingkungan. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid