Singgung Operasi Politik, Jokowi Disebut Panik Hadapi Desakan Hak Angket Ijazah Gibran

Sabtu, 17 Oktober 2026 17:57 WIB
Presiden ke-7, Joko Widodo (Jokowi). (IDNVoice/Dok. detikJateng)
Presiden ke-7, Joko Widodo (Jokowi). (IDNVoice/Dok. detikJateng)

IDNVoice.com – Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti menilai pernyataan mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) mengenai dugaan operasi politik untuk menurunkan reputasi keluarganya bukanlah hal yang mengejutkan.

Ray bahkan menduga pernyataan tersebut menunjukkan adanya kepanikan di lingkungan Jokowi seiring menguatnya dorongan penggunaan hak angket untuk membentuk panitia khusus (pansus) terkait isu ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

"Kenapa saya nggak terkejut dan tidak heran? Karena ini sudah biasa dilakukan oleh Pak Jokowi. Dan sampai sejauh ini kita belum pernah mendapatkan kejelasan siapa aktor dan siapa penunggang gelap yang dimaksud oleh Pak Jokowi sejak 3 tahun yang lalu sudah sering diungkapkan Pak Jokowi kondisi seperti ini," katanya dikutip dari iNews pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Menurut Ray, pernyataan Jokowi tersebut perlu dilihat dalam konteks perkembangan polemik ijazah Gibran yang kembali menjadi sorotan publik. Terlebih, dorongan agar DPR menggunakan hak angket untuk membentuk pansus dinilai semakin menguat.

"Ini saya kira menunjukkan bahwa ada kepanikan di lingkungan Pak Jokowi terkait dengan perkembangan ijazah ini, khususnya dorongan supaya dilakukan hak angket yang hari demi hari makin membesar, dan seperti biasa kala Pak Jokowi kehabisan argumen, nah beliau akan sampaikan pernyataan seperti ini," ucap Ray.

Ray juga menilai pernyataan mengenai dugaan operasi politik yang menyasar keluarganya merupakan pola yang selama ini kerap muncul dalam sikap politik Jokowi.

"Kalau dulu, biasanya ada pelaporan-pelaporan ke kepolisian. Itu sebuah pola yang terlihat sejak Pak Jokowi berkuasa," ucapnya.

Sebelumnya, Jokowi buka suara mengenai isu ijazah yang kembali menyeret namanya dan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, yang kini menjabat Wakil Presiden RI.

Jokowi mengaku santai menghadapi polemik tersebut. Namun, dia menyinggung dugaan adanya operasi politik yang bertujuan menurunkan reputasi dirinya dan Gibran.

Jokowi juga tidak memungkiri bahwa isu ijazah tersebut berpotensi mengalihkan perhatian publik dari berbagai persoalan lain. Dia menduga polemik yang terus bergulir itu berkaitan dengan upaya politik untuk merusak reputasi keduanya.

Pernyataan Jokowi tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Ray Rangkuti. Dia menilai, tudingan mengenai adanya aktor politik dan penunggang gelap semestinya disertai kejelasan mengenai pihak-pihak yang dimaksud.

Di sisi lain, menguatnya dorongan hak angket di DPR menambah perhatian terhadap polemik ijazah Gibran. Wacana pembentukan pansus tersebut menjadi salah satu perkembangan politik yang disoroti di tengah kembali mencuatnya isu tersebut. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid