BULOG: KDKMP Bakal Jadi Saluran Bansos hingga Penyerapan Hasil Panen Petani

Selasa, 27 Oktober 2026 15:06 WIB
Tangkapan foto udara bangunan Koperasi Merah Putih di kawasan wisata Stone Garden, Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat pada Senin, 6 Juli 2026. (IDNVoice/Dok. Kompas)
Tangkapan foto udara bangunan Koperasi Merah Putih di kawasan wisata Stone Garden, Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat pada Senin, 6 Juli 2026. (IDNVoice/Dok. Kompas)

IDNVoice.com – Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) diproyeksikan menjadi pusat pelayanan ekonomi masyarakat desa, mulai dari penyaluran bantuan pemerintah, penyediaan alat dan mesin pertanian dengan harga terjangkau, hingga penyerapan hasil panen petani. Program ini diharapkan mampu meringankan beban masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi desa.

Direktur Utama Perum BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan berbagai bantuan pemerintah ke depan akan disalurkan melalui KDKMP secara bertahap. Bantuan tersebut mencakup bantuan pangan bagi masyarakat kelompok desil 1 hingga desil 4, bantuan sosial, bantuan pendidikan, serta bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari Kementerian Pertanian.

"Pemerintah, termasuk seluruh bantuan yang diberikan, ke depannya akan dilaksanakan melalui KDKMP sambil terus berjalan proses pembelajarannya. Bahkan bantuan sosial, bantuan pendidikan, termasuk bantuan alsintan dari Kementerian Pertanian, nanti juga akan diserahkan melalui KDKMP," ujar Ahmad Rizal Ramdhani pada Selasa, 27 Oktober 2026.

Menurutnya, penyaluran bantuan melalui KDKMP bertujuan agar distribusi dan pemanfaatannya dapat dipantau serta dikoordinasikan dengan lebih baik. Dengan demikian, koperasi diharapkan tidak hanya menjadi pusat kegiatan ekonomi, tetapi juga mendukung penyaluran program pemerintah kepada masyarakat.

Selain mengelola bantuan, KDKMP akan mengoptimalkan pemanfaatan alsintan untuk membantu petani. Saat ini, koperasi telah menerima empat unit traktor roda dua, dua unit traktor roda empat, serta satu unit mesin panen combine harvester.

"Semua fasilitas ini akan diberdayakan oleh KDKMP untuk kepentingan masyarakat, yaitu disewakan dengan harga yang lebih terjangkau," katanya.

Ahmad menjelaskan, tarif sewa alsintan melalui KDKMP diharapkan lebih murah dibandingkan harga pasar. Saat ini, biaya sewa mesin panen di luar koperasi rata-rata mencapai Rp1,5 juta per hari. Melalui KDKMP, tarif tersebut diperkirakan dapat ditekan menjadi sekitar Rp1 juta per hari atau bahkan lebih rendah.

Sementara itu, biaya sewa traktor yang berkisar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per hari diharapkan dapat ditawarkan sekitar Rp200 ribu per hari. Meski demikian, penetapan tarif tetap menjadi kewenangan pengelola KDKMP dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan usaha koperasi.

Tak hanya menyediakan layanan pertanian, KDKMP juga diproyeksikan menjadi tempat penyerapan hasil produksi warga. Hasil panen petani di Kampung Ciparay dan desa-desa sekitarnya diharapkan dapat dibeli langsung oleh koperasi sehingga petani memiliki akses pemasaran yang lebih terkoordinasi.

"Ke depannya, penyerapan gabah tidak lagi dilakukan di sawah oleh pengecer, melainkan langsung melalui KDKMP," ucapnya.

Menurut Ahmad, skema tersebut diharapkan memberikan keuntungan lebih baik bagi petani sekaligus memperkuat kemandirian usaha koperasi. KDKMP diharapkan mampu membeli hasil panen masyarakat dengan harga yang lebih baik dibandingkan harga yang ditawarkan pengecer.

Karena itu, ia menekankan pentingnya kemampuan pengelola koperasi dalam membaca peluang usaha dan mengoptimalkan potensi ekonomi di wilayah masing-masing. Pengelolaan yang tepat diharapkan membuat KDKMP berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi produktif yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat desa.

Keberadaan KDKMP juga diharapkan membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru sehingga masyarakat, khususnya generasi muda, dapat mengembangkan potensi ekonomi tanpa harus meninggalkan kampung halaman untuk mencari pekerjaan di kota.

"Semoga anak-anak muda tidak perlu lagi pergi ke kota, tetapi bisa bertani, menjadi petani milenial, sekaligus pengusaha dan wirausaha muda di kampung halamannya sendiri," tandasnya. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid