Mentan Minta Harga Telur untuk Program MBG Naik Jadi Rp26.500 per Kg, Satgas Siap Turun

Jum'at, 16 Oktober 2026 14:05 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat melakukan kunjungan kerja di PT Widodo Makmur Unggas, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (IDNVoice/Pemkab Gunungkidul)
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat melakukan kunjungan kerja di PT Widodo Makmur Unggas, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (IDNVoice/Pemkab Gunungkidul)

IDNVoice.com – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meminta harga pembelian telur ayam untuk memenuhi kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disesuaikan menjadi Rp26.500 per kilogram. Langkah ini didorong untuk meningkatkan kesejahteraan peternak sekaligus memastikan mereka memperoleh harga yang layak.

Amran mengatakan, Kementerian Pertanian (Kementan) telah berkoordinasi langsung dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono terkait usulan penyesuaian harga tersebut.

"MBG kami minta telur beli Rp26.500 (per kilogram), kami sudah bicara langsung Kepala Badan Gizi Nasional, Pak Sudaryono," kata Amran saat melakukan kunjungan kerja di PT Widodo Makmur Unggas, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Kamis, 15 Oktober 2026.

Ia mengapresiasi langkah BGN yang telah menindaklanjuti usulan tersebut dengan menerbitkan surat edaran (SE) mengenai penyesuaian harga pembelian bahan pangan untuk Program MBG, khususnya komoditas telur ayam.

"Beliau (Sudaryono) sudah mengirim surat edaran, tapi ada yang tidak patuh," ujarnya.

Meski surat edaran telah diterbitkan, Amran mengungkapkan masih ditemukan pembelian telur dari peternak dengan harga Rp20.000 hingga Rp21.000 per kilogram untuk memenuhi kebutuhan Program MBG.

Menurutnya, praktik pembelian dengan harga rendah tersebut perlu ditindaklanjuti karena tidak sejalan dengan upaya pemerintah memperbaiki kesejahteraan peternak.

Kementan pun kembali berkoordinasi dengan BGN untuk memastikan ketentuan harga pembelian telur dipatuhi oleh pihak-pihak yang terlibat dalam rantai pasok program tersebut.

"Kami bicara lagi kemarin, ternyata ada tidak patuh membeli, tetap dibeli dengan murah Rp20 ribu hingga Rp21 ribu. Itu tidak boleh terjadi, nanti Satgas turun, ini enggak benar," katanya.

Amran menegaskan, satuan tugas (satgas) akan diturunkan untuk menindaklanjuti dugaan ketidakpatuhan terhadap ketentuan harga pembelian telur. Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah peternak terus menerima harga yang dinilai terlalu rendah.

Penyesuaian harga pembelian telur menjadi Rp26.500 per kilogram diharapkan dapat memberikan kepastian harga bagi peternak yang memasok kebutuhan MBG.

Selain memperjuangkan penyesuaian harga telur, Kementan juga berupaya membantu peternak unggas mandiri dan skala kecil melalui percepatan pelaksanaan Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Jagung Pakan.

Program tersebut ditujukan untuk membantu peternak mendapatkan pasokan jagung sebagai bahan baku pakan dengan harga yang lebih terjangkau, sehingga biaya produksi dapat lebih terkendali.

"Pakan yang ada di pulau, SPHP diturunkan segera," ujarnya.

Kementan juga memperkuat penyediaan bahan baku dan ekosistem pakan ternak nasional guna mendukung keberlangsungan usaha peternak sekaligus menjaga stabilitas harga.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah penyediaan pakan oleh ID FOOD yang bersumber dari pemerintah.

"Itulah tujuan pemerintah kehadiran ID FOOD. Nah, ini menguntungkan peternak," katanya. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid