Teknologi Satelit Dipakai Kembangkan Industrialisasi Tebu di Transmigrasi Melolo

Senin, 14 September 2026 09:56 WIB
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara memberikan kuliah umum mengenai peran teknologi kedirgantaraan dalam transformasi kawasan transmigrasi di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (Unsurya), Jakarta. (IDNVoice/Kementerian Transmigrasi)
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara memberikan kuliah umum mengenai peran teknologi kedirgantaraan dalam transformasi kawasan transmigrasi di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (Unsurya), Jakarta. (IDNVoice/Kementerian Transmigrasi)

IDNVoice.com - Kawasan transmigrasi kini tidak lagi sekadar menjadi tempat perpindahan penduduk. Kementerian Transmigrasi (Kementrans) mulai memanfaatkan teknologi citra satelit untuk mendorong pertanian modern dan industrialisasi berbasis potensi lokal, salah satunya pengembangan tebu di Kawasan Transmigrasi Melolo, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan teknologi citra satelit dimanfaatkan untuk memetakan wilayah sekaligus mengidentifikasi kesesuaian lahan dan tanaman di kawasan tersebut.

"Saat ini di Kawasan Transmigrasi Melolo telah berjalan pemanfaatan teknologi satelit untuk mendukung industrialisasi tebu. Ini contoh konkret pertanian modern menggunakan teknologi citra satelit, dengan melibatkan ilmuwan untuk membantu mendeteksi tanaman tebu yang cocok ditanam di sana," kata Iftitah dalam keterangan resminya pada Senin, 14 September 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan Iftitah saat memberikan kuliah umum di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (Unsurya), Halim Perdanakusuma.

Menurut Iftitah, teknologi kedirgantaraan dapat menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan geografis kawasan transmigrasi. Pemanfaatannya mencakup citra satelit, pemetaan wilayah, hingga penguatan konektivitas.

Teknologi tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan produktivitas kawasan sekaligus mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi dan industrialisasi yang memanfaatkan potensi lokal.

Tebu Melolo Serap Ribuan Tenaga Kerja

Pengembangan industri tebu di Melolo telah memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja. Kementerian Transmigrasi mencatat pada Agustus 2025, industri gula di kawasan tersebut menyerap sekitar 3.500 tenaga kerja tetap.

Jumlah tersebut bahkan dapat meningkat hingga sekitar 6.000 pekerja saat memasuki musim panen.

Tak hanya dari sisi tenaga kerja, produktivitas tebu di Melolo juga menunjukkan potensi besar. Tebu yang dihasilkan di kawasan tersebut memiliki rendemen atau kadar gula hingga 21 persen, jauh di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 7 persen.

Sementara itu, pabrik gula terpadu PT Muria Sumba Manis di Sumba Timur memiliki kapasitas penggilingan sekitar 12 ribu ton tebu per hari dan terintegrasi dengan perkebunan tebu perusahaan.

"Bukan hanya sekadar memindahkan penduduk, tetapi bagaimana kita membangun industrialisasi di luar Pulau Jawa. Dengan adanya industrialisasi, lapangan kerja terbuka, daya beli masyarakat meningkat, dan pada akhirnya aktivitas ekonomi serta penerimaan negara juga tumbuh," ujar Iftitah.

Transmigrasi Jadi Pusat Pertumbuhan Baru

Iftitah menegaskan paradigma transmigrasi saat ini telah berubah. Program tersebut tidak lagi hanya berorientasi pada perpindahan penduduk, tetapi diarahkan untuk membangun kawasan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Dalam kerangka Transmigrasi Patriot, Kementerian Transmigrasi juga melibatkan perguruan tinggi melalui Tim Ekspedisi Patriot (TEP). Tim tersebut bertugas melakukan riset, kajian, pendampingan masyarakat, serta mengembangkan potensi ekonomi di kawasan transmigrasi.

Pada 2026, Kementerian Transmigrasi melepas sebanyak 1.476 peserta TEP yang tergabung dalam 246 tim untuk bertugas di 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia.

Menurut Iftitah, potensi kawasan transmigrasi tidak hanya terbatas pada sektor pertanian. Pengembangan juga dapat diarahkan ke sektor maritim, pariwisata, industri berbasis sumber daya lokal, serta sektor ekonomi lainnya sesuai karakteristik masing-masing wilayah.

"Pendekatan transmigrasi saat ini berbeda. Kita menghadirkan SDM unggul, teknologi, dan industrialisasi agar kawasan tumbuh dan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat," ucap dia.

Teknologi Kedirgantaraan Perkuat Konektivitas

Rektor Unsurya Marsda TNI (Purn) Sungkono menilai teknologi kedirgantaraan memiliki peran strategis dalam mengatasi tantangan konektivitas antardaerah di Indonesia.

"Untuk mewujudkan konektivitas, bukan mengenai jarak, tetapi bagaimana semua urat nadi wilayah, terutama ekonomi, dapat terhubung. Teknologi kedirgantaraan mampu menembus ruang dan jarak dengan cepat dan strategis," ujar Sungkono.

Ia menekankan pemanfaatan teknologi tidak semestinya hanya diukur dari tingkat kecanggihannya. Hal yang lebih penting adalah sejauh mana teknologi tersebut mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid