IDNVoice.com - Kementerian Koperasi mendorong rebranding koperasi sebagai bagian dari transformasi badan usaha tersebut agar lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Langkah ini sekaligus ditujukan untuk mengembalikan citra koperasi dan menarik kembali perhatian generasi muda, termasuk milenial dan Gen Z.
Menteri Koperasi Fery Julianto mengatakan, koperasi dalam sekitar 30 tahun terakhir dinilai kurang mendapat perhatian sehingga keberadaannya tidak lagi banyak dikenal generasi muda.
Karena itu, pemerintah secara bertahap berupaya mengenalkan kembali koperasi dengan wajah yang lebih modern, termasuk melalui digitalisasi koperasi.
"Re-branding koperasi tersebut dilakukan dikarenakan saat ini koperasi kurang diperhatikan atau tidak dikenal generasi muda, milenial, maupun Gen Z. Karena dalam kurun waktu 30 tahun terakhir badan usaha ini kurang diperhatikan," kata Fery saat membuka Borobudur Indonesia Expo dan KDKMP Expo 2026 di Magelang pada Kamis malam, 17 September 2026.
Menurut Fery, transformasi koperasi melalui digitalisasi diperlukan agar badan usaha tersebut mampu bersaing di era kekinian. Sistem koperasi yang selama ini identik dengan pola tradisional didorong untuk beralih menjadi lebih modern dan mengikuti perkembangan teknologi.
Upaya menghidupkan kembali koperasi juga mendapat dukungan dari Provinsi Jawa Tengah melalui pengenalan kembali mata pelajaran perkoperasian di jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Menurut Fery, langkah tersebut penting agar generasi muda mengenal koperasi sejak dini dan memahami perannya dalam perekonomian.
Selain transformasi digital, Kementerian Koperasi mendorong pembenahan tata kelola koperasi. Kinerja koperasi tidak lagi hanya dilihat dari pelaksanaan rapat anggota tahunan (RAT), tetapi juga dari kinerja usaha serta kontribusinya terhadap perekonomian.
Fery mengatakan koperasi perlu kembali masuk ke berbagai sektor usaha, mulai dari produksi, distribusi, industri hingga keuangan.
Langkah tersebut, menurut dia, sejalan dengan cita-cita para pendiri bangsa yang menempatkan koperasi sebagai salah satu saka guru perekonomian nasional.
Fery juga mengajak pelaku UMKM, ekonomi kreatif, pariwisata hingga seni untuk membentuk badan usaha koperasi.
Dengan bergabung dalam koperasi, para pelaku usaha diharapkan dapat memperoleh akses permodalan, pendampingan, teknologi serta pasar yang lebih luas.
Ia juga meminta pemerintah daerah melakukan kurasi terhadap kelompok-kelompok usaha untuk kemudian didorong membentuk koperasi.
Dengan cara tersebut, produk-produk lokal diharapkan tidak hanya berkembang di daerah, tetapi juga memiliki akses pasar yang lebih luas hingga tingkat global.
"Saya harap Borobudur Indonesia Expo 2026 menjadi momentum penguatan pasar produk koperasi dan UMKM, sekaligus mempercepat kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat demi kemajuan ekonomi rakyat," ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Magelang Damar Prasetyono mengatakan Borobudur Indonesia Expo yang berlangsung hingga 20 September 2026 diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi koperasi dan UMKM.
Salah satunya melalui terbukanya peluang kerja sama baru dengan investor yang tertarik mengembangkan usaha koperasi dan UMKM.
"Tujuan utama dari kegiatan Borobudur Indonesia Expo 2026 ini ada manfaat bagi koperasi dan UMKM. Yakni, adanya jalinan kerja sama utamanya peluang investor yang melirik usaha koperasi dan UMKM," kata Damar.
Pemkot Magelang menargetkan nilai transaksi selama kegiatan yang berlangsung di Alun-alun Kota Magelang tersebut mencapai Rp2 miliar.
Selain itu, jumlah kunjungan ditargetkan mencapai 40 ribu orang hingga pameran berakhir pada 20 September 2026. [DR]