Dorong KNMP Pakai Rantai Dingin Hemat Energi, DPR: Ekspor Ikan Bisa Makin Kompetitif

Sabtu, 12 September 2026 18:38 WIB
Anggota Komisi IV DPR RI Rokhmin Dahuri saat mengunjungi pameran di Jakarta. (IDNVoice/DK-Istimewa)
Anggota Komisi IV DPR RI Rokhmin Dahuri saat mengunjungi pameran di Jakarta. (IDNVoice/DK-Istimewa)

IDNVoice.com - Anggota Komisi IV DPR RI Rokhmin Dahuri mendorong penerapan sistem rantai dingin (cold chain) yang hemat energi dalam program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk menjaga kualitas hasil perikanan sekaligus meningkatkan kesejahteraan nelayan dan daya saing ekspor Indonesia.

Rokhmin mengatakan rantai dingin berperan menjaga mutu ikan sejak ditangkap atau dipanen hingga sampai ke tangan konsumen.

"Saya sangat menyambut baik dan mengapresiasi diselenggarakannya semacam simposium atau lokakarya sistem rantai dingin yang mendukung keberhasilan program Kampung Nelayan Merah Putih," kata Rokhmin dalam keterangannya di Surabaya, Jawa Timur pada Sabtu, 12 September 2026.

Kurang dari 12 Persen Ikan Ditangani Rantai Dingin

Rokhmin mengungkapkan Indonesia menghasilkan sekitar 15 juta ton produk perikanan setiap tahun. Namun, kurang dari 12 persen produksi tersebut yang dapat ditangani dengan sistem rantai dingin.

Keterbatasan infrastruktur pendinginan membuat sebagian hasil perikanan mengalami penurunan mutu, bahkan terbuang sebelum sampai kepada konsumen.

"Kalau kualitas atau mutu ikan dan seafood sudah menurun, bukan hanya berdampak ekonomi, yaitu harga jualnya rendah atau bahkan tidak laku. Ada juga dampak terhadap kesehatan dan rendahnya nilai ekspor kita," ujarnya.

Menurut Rokhmin, persoalan tersebut menimbulkan dampak berantai. Ketika kualitas ikan menurun, harga jual yang diterima nelayan ikut tertekan. Produk yang tidak ditangani secara tepat juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan serta sulit memenuhi standar pasar ekspor.

Kondisi itu, menurut dia, turut menjadi salah satu alasan Indonesia masih tertinggal dalam nilai ekspor perikanan dibandingkan negara seperti Vietnam, Thailand, dan Norwegia, meskipun Indonesia merupakan salah satu produsen perikanan besar dunia.

Dorong Cold Chain Berbasis Energi Surya

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Rokhmin mendorong penggunaan teknologi rantai dingin yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Ia menilai teknologi low carbon hingga zero carbon perlu mulai diterapkan dalam sistem perikanan nasional dengan memanfaatkan potensi energi surya yang melimpah di Indonesia.

"Teknologi yang semakin canggih, terutama terkait teknologi low carbon atau zero carbon, harus kita manfaatkan. Indonesia ini gudangnya sumber energi matahari," katanya.

Pemanfaatan energi surya, lanjut Rokhmin, dapat diterapkan secara bertahap mulai dari kapal penangkap ikan, cold storage, refrigerator, hingga cool box.

Ia juga mengingatkan agar sistem pendinginan sektor perikanan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil atau bahan bakar minyak (BBM).

Teknologi Cold Storage Mulai Diperkenalkan

Kebutuhan terhadap teknologi rantai dingin yang efisien juga menjadi perhatian pelaku industri.

PT DS Solutions International sebagai perwakilan resmi TITAN Containers di Indonesia memperkenalkan teknologi cold storage portable dalam pameran RHVAC Indonesia 2026 yang berlangsung pada 9–11 September 2026 di Nusantara Indonesia Convention Exhibition (NICE), PIK2, Hall 5 & 6.

Dalam pameran yang mempertemukan pelaku usaha, engineer, dan operator industri refrigerasi, HVAC, serta cold chain tersebut, TITAN Containers menghadirkan dua unit cold storage portable di area pameran. Dua unit tersebut yakni ArcticBlast 20FT dan ArcticStore Horizon 40FT.

ArcticBlast 20FT dirancang untuk proses rapid chilling dan blast freezing. Unit dengan sistem mesin ganda tersebut mampu menurunkan suhu hingga -40 derajat Celsius, sehingga ditujukan untuk komoditas seperti daging, unggas, dan seafood yang membutuhkan proses pendinginan atau pembekuan cepat.

Sementara ArcticStore Horizon 40FT merupakan generasi terbaru keluarga ArcticStore yang diperkenalkan untuk pertama kalinya di Indonesia dalam ajang tersebut.

Unit ini memiliki rentang suhu -30 hingga +30 derajat Celsius dan diklaim mampu mengurangi konsumsi energi rata-rata hingga 55 persen dibandingkan reefer konvensional.

Efisiensi tersebut didukung panel insulasi generasi terbaru serta penggunaan refrigeran dengan Global Warming Potential (GWP) sebesar 0,5. Unit Horizon juga dapat dilengkapi panel surya opsional yang secara tipikal mampu mengurangi konsumsi energi hingga 25 persen lebih lanjut.

Jangan Sampai Indonesia Hanya Jadi Pasar

Meski mendukung kerja sama dengan perusahaan asing dalam pengembangan teknologi, Rokhmin menegaskan pemerintah harus memastikan kerja sama tersebut memberikan manfaat maksimal bagi industri nasional.

Salah satu aspek yang menurutnya perlu diperkuat adalah tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Pemerintah didorong tidak hanya mendatangkan teknologi dari luar negeri, tetapi juga mendorong produksi komponen rantai dingin di dalam negeri.

"Manfaat kerja sama dengan luar negeri itu harus segera kita raih, yaitu manfaat alih teknologi, manfaat nilai tambah harus jatuh di kita, dan manfaat tenaga kerja juga harus di kita. Jangan sampai kita hanya impor gelondongan, tidak ada komponen satu pun yang diproduksi di dalam negeri," tegasnya.

Rokhmin memastikan Komisi IV DPR RI akan ikut mengawal kebijakan tersebut agar kerja sama internasional tidak berhenti pada aktivitas impor teknologi.

Menurut dia, kerja sama yang ideal harus menghasilkan transfer teknologi, meningkatkan kapasitas industri nasional, menciptakan nilai tambah di dalam negeri, sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia.

Dengan penguatan rantai dingin yang hemat energi dan peningkatan kapasitas industri dalam negeri, program KNMP diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas hasil tangkapan nelayan, tetapi juga mampu mendorong produk perikanan Indonesia lebih kompetitif di pasar global. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid