IDNVoice.com - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mendorong dunia usaha membangun budaya inovasi berkelanjutan yang tidak hanya memperkuat daya saing bisnis, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat mengatakan dunia tengah menghadapi berbagai krisis yang membutuhkan terobosan baru. Inovasi, kata dia, tidak boleh hanya diarahkan untuk kepentingan bisnis, tetapi juga harus memperkuat ketangguhan sosial dan lingkungan.
"Melalui berbagai inovasi yang dihadirkan dunia usaha, dapat mendorong kontribusi nyata terhadap pemulihan lingkungan, pengelolaan sampah, rehabilitasi daerah aliran sungai, penanaman pohon, transisi energi bersih, serta pengembangan ekonomi hijau yang menjadi bagian penting dari agenda pembangunan berkelanjutan nasional," kata Jumhur dalam keterangannya pada Kamis, 10 September 2026.
Jumhur menjelaskan dunia saat ini menghadapi triple planetary crisis, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta pencemaran dan kerusakan lingkungan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, ia menyebut diperlukan inovasi yang berlandaskan empat prinsip utama, yakni Green Jobs, Social Preparation and Social Integration, Penerapan Budaya Zero Accident, dan Tobat Ekologis.
Gerakan Tobat Ekologis sendiri diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup untuk mendorong perubahan cara pandang dan perilaku seluruh pemangku kepentingan terhadap lingkungan melalui kolaborasi serta aksi nyata yang berkelanjutan.
Jumhur menegaskan inovasi lingkungan dan sosial yang dikembangkan dunia usaha memiliki peran strategis dalam mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di Indonesia.
Jumhur juga mengapresiasi PT Sucofindo (Persero) yang konsisten menghadirkan Environmental and Social Innovation Awards (ENSIA) 2026 sebagai ajang apresiasi bagi dunia usaha dan masyarakat yang menghasilkan inovasi berdampak nyata.
Menurut dia, penghargaan tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi bagian dari upaya memastikan komitmen keberlanjutan diwujudkan melalui kolaborasi dan inovasi yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Direktur Utama PT Sucofindo Sandry Pasambuna menegaskan ENSIA juga menjadi ruang kolaborasi dan wadah berbagi praktik terbaik bagi pelaku usaha dalam mengembangkan inovasi keberlanjutan.
"Bagi perusahaan yang mengikuti PROPER, apresiasi ENSIA dapat menjadi salah satu nilai tambah dalam mendukung aspek penghargaan nasional pada penilaian PROPER Hijau dan Emas," kata Sandry.
Sandry mengatakan ENSIA 2026 mengusung tema Innovation for Sustainable Business and Resilient Community. Tema tersebut dipilih untuk merespons dinamika global, mulai dari ketidakpastian geopolitik yang dapat mengganggu rantai pasok hingga ancaman bencana ekologis akibat perubahan iklim.
Tahun ini, ENSIA juga menghadirkan inovasi khusus. Fokus yang sebelumnya mengarah pada konservasi daerah aliran sungai diperluas menjadi transisi energi bersih.
Perubahan tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan terhadap ketahanan energi, efisiensi sumber daya, dan pengurangan emisi sebagai bagian dari upaya menghadapi perubahan iklim serta dinamika global.
Melalui tema tersebut, Sucofindo mendorong pelaku usaha terus mengembangkan inovasi yang mampu mengoptimalkan efisiensi sumber daya, mengurangi dampak lingkungan, sekaligus memperkuat ketahanan sosial-ekonomi masyarakat.
Sementara itu, Direktur Komersial PT Sucofindo Agus Permadi mengungkapkan antusiasme dunia usaha terhadap ENSIA terus meningkat.
ENSIA 2026 mencatat partisipasi 253 perusahaan dengan 954 paper dan 48 local hero. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang diikuti 178 perusahaan dengan 690 paper.
Peningkatan tersebut menunjukkan semakin kuatnya perhatian dunia usaha terhadap inovasi yang tidak hanya berorientasi pada keberlanjutan bisnis, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan dan masyarakat. [DR]