IDNVoice.com - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai elektrifikasi armada dan alat berat pertambangan kini semakin dibutuhkan untuk memperkuat ketahanan industri di tengah ketidakpastian geopolitik dan energi global.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Aryo Djojohadikusumo mengatakan elektrifikasi yang sebelumnya masih sebatas proyek percontohan kini mulai bergeser menjadi kebutuhan operasional industri pertambangan.
"Apa yang sebelumnya hanya percontohan kini menjadi kebutuhan operasional," kata Aryo dalam Energy Insights Forum di Jakarta pada Rabu, 9 September 2026.
Aryo mengatakan gejolak geopolitik global dapat berdampak terhadap anggaran, proyeksi keuangan, hingga ketahanan usaha perusahaan pertambangan.
Menurutnya, bahan bakar seperti diesel, bensin, maupun produk olahan minyak bumi lainnya memiliki peran besar terhadap arus kas dan keberlangsungan kegiatan usaha pertambangan.
Pelaku industri saat ini tidak hanya menghadapi kenaikan harga bahan bakar akibat gejolak global, tetapi juga persoalan dalam memperoleh pasokan bahan bakar.
Kondisi tersebut membuat perusahaan perlu memperkuat ketahanan terhadap berbagai faktor eksternal yang sulit dikendalikan, termasuk perubahan geopolitik yang berpengaruh terhadap pasar energi.
Sejumlah perusahaan pertambangan, kata Aryo, telah mulai mengelektrifikasi armada maupun alat berat sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan usaha dalam jangka panjang.
Ia mengakui elektrifikasi membutuhkan biaya yang lebih tinggi. Namun, langkah tersebut dinilai lebih baik dibandingkan perusahaan terus menghadapi ketidakpastian yang bersumber dari faktor eksternal.
"Tidak ada cara yang lebih baik untuk membangun ketahanan dan kekuatan jangka panjang selain dengan terus berinovasi," ujar Aryo.
Selain elektrifikasi, Aryo menyebut pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai salah satu inovasi yang dapat dikembangkan dalam industri pertambangan.
Ia menegaskan Indonesia perlu terus berkembang dan berada di garis depan perkembangan industri pertambangan, bukan hanya di tingkat Asia Tenggara, tetapi juga di dunia.
Dalam forum yang sama, Managing Partner dan Senior Partner McKinsey & Company Indonesia Khoon Tee Tan mengatakan industri perlu terus berinovasi untuk membangun ketahanan di tengah volatilitas global serta perubahan harga, tarif, dan regulasi.
Menurut Tan, perkembangan teknologi saat ini memungkinkan penerapan teknologi secara lebih luas di lokasi pertambangan dan smelter, termasuk operasi yang berada di wilayah terpencil.
"Teknologi tidak lagi menjadi hambatan, tetapi menjadi pendukung. Pertanyaannya adalah bagaimana kita menerapkan teknologi dengan cara yang benar-benar menciptakan nilai bagi kita semua," ucap Tan.
Ia juga menilai elektrifikasi membuka peluang pemanfaatan sumber energi domestik untuk mendukung kegiatan pertambangan dan smelter.
"Dengan elektrifikasi, sumber energi domestik dapat digunakan untuk memasok energi ke lokasi tambang dan smelter," tuturnya.
Harga Minyak Masih Dibayangi Geopolitik
Ketidakpastian pasar energi global masih terlihat pada awal September. Harga minyak mentah Brent berjangka pada Selasa (8/9) naik 1,4 persen menjadi 98,5 dolar AS atau sekitar Rp1,74 juta per barel di tengah meningkatnya ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran serta kekhawatiran terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Situasi tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa industri yang bergantung pada bahan bakar fosil masih menghadapi risiko dari dinamika pasar energi global.
Karena itu, elektrifikasi dinilai dapat menjadi salah satu strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap faktor eksternal sekaligus memanfaatkan sumber energi yang tersedia di dalam negeri.
Dukungan terhadap elektrifikasi juga tercermin dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034. Pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW), dengan 52,9 GW atau sekitar 76 persen berasal dari energi baru terbarukan dan sistem penyimpanan energi.
Melalui RUPTL tersebut, pemerintah juga merencanakan pembangunan jaringan transmisi sepanjang 47.758 kilometer sirkuit untuk memperkuat sistem kelistrikan nasional.
Sementara itu, PLN pada April 2026 menandatangani Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) dengan sejumlah perusahaan pertambangan untuk mendukung elektrifikasi operasi pertambangan.
Di antaranya PT Makmur Sejahtera Wisesa sebesar 106 megavolt ampere (MVA) dan PT Maruwai Coal sebesar 71 MVA.
Langkah elektrifikasi, inovasi teknologi, serta pemanfaatan energi domestik diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi dan ketahanan perusahaan, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan industri pertambangan global. [DR]