Pasar Kripto Indonesia Mulai Matang, Tokocrypto Dorong Utilitas hingga Tokenisasi

Rabu, 09 September 2026 14:05 WIB
CEO Tokocrypto Calvin Kizana dalam panel diskusi bertajuk Go-to-Market Strategy in Asia`s Crypto Market di acara Coinfest Asia 2026 pada akhir Agustus. (IDNVoice/Tokocrypto)
CEO Tokocrypto Calvin Kizana dalam panel diskusi bertajuk Go-to-Market Strategy in Asia`s Crypto Market di acara Coinfest Asia 2026 pada akhir Agustus. (IDNVoice/Tokocrypto)

IDNVoice.com - Pasar aset kripto Indonesia dinilai mulai memasuki fase yang lebih matang. Perkembangan industri tidak lagi hanya bertumpu pada pertumbuhan jumlah investor ritel, tetapi mulai bergerak ke arah pemanfaatan aset digital yang lebih luas, peningkatan partisipasi investor institusional, hingga tokenisasi.

CEO Tokocrypto Calvin Kizana mengatakan Indonesia kini bukan lagi sekadar pasar yang sedang mencoba mengadopsi aset kripto. Menurutnya, adopsi tersebut telah terbentuk dan tantangan selanjutnya adalah memperdalam ekosistem.

"Kripto di Indonesia bukan lagi sebuah eksperimen. Kita tidak sedang memulai adopsi, tapi adopsi itu sudah terjadi," kata Calvin dalam keterangannya pada Rabu, 9 September 2026.

Menurut Calvin, perkembangan pasar kripto Indonesia tidak cukup lagi diukur berdasarkan jumlah pengguna. Setelah basis pengguna terbentuk, industri perlu mendorong pemanfaatan aset digital agar terintegrasi lebih luas dengan sektor keuangan.

"Peluangnya sekarang adalah bergerak dari sekadar adopsi ritel menuju utilitas keuangan yang teregulasi, partisipasi institusional, dan tokenisasi," ujarnya.

Indonesia Masuk Tujuh Besar Adopsi Kripto

Besarnya potensi pasar Indonesia tercermin dari tingkat adopsi aset digital. Berdasarkan Chainalysis Global Crypto Adoption Index 2025, Indonesia menempati peringkat ketujuh dari 151 negara dalam tingkat adopsi kripto berbasis masyarakat atau grassroots adoption.

Posisi tersebut bahkan berada di atas sejumlah negara yang selama ini dikenal sebagai pusat industri kripto di Asia.

Sementara itu, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan jumlah konsumen perdagangan aset keuangan digital di Indonesia mencapai 22,93 juta pada Juli 2026. Pada periode yang sama, nilai transaksi aset kripto tercatat mencapai Rp20,52 triliun.

Besarnya basis pengguna tersebut memperlihatkan posisi Indonesia sebagai salah satu pasar aset digital utama di kawasan. Namun, Calvin mengingatkan bahwa karakter pasar Indonesia memiliki perbedaan mendasar dengan negara-negara Asia lainnya.

Tak Bisa Pakai Strategi Seragam

Calvin menilai pelaku industri global kerap melakukan kesalahan dengan menerapkan strategi yang sama untuk seluruh pasar Asia Tenggara.

"Indonesia sangat berbeda dari Singapura, Vietnam, Thailand, bahkan India. Regulasinya berbeda, perilaku pengguna dan pembayarannya berbeda, budayanya berbeda, ekspektasi konsumennya pun berbeda," katanya.

Menurut dia, pemahaman terhadap karakteristik lokal semakin penting ketika pasar mulai memasuki tahap kematangan. Strategi ekspansi yang hanya mengandalkan kekuatan modal atau kampanye pemasaran agresif dinilai tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan bisnis.

Calvin menekankan pentingnya membangun kepercayaan pengguna sebagai fondasi industri.

"Uang bisa membeli awareness, bisa membeli download, bahkan bisa membeli volume sementara. Tapi uang tidak bisa membeli kepercayaan karena kepercayaan tidak bisa dipotong jalan pintas," ujarnya.

Karena itu, penguatan tata kelola, keamanan, dan kepatuhan terhadap regulasi dinilai akan menjadi faktor penting dalam perjalanan industri kripto Indonesia.

Bukan Sekadar Soal Harga Bitcoin

Calvin mengatakan pelaku industri yang ingin berkembang di Indonesia harus membangun strategi berdasarkan karakteristik pasar lokal, bukan sekadar meniru pendekatan yang berhasil di negara lain.

Ke depan, arah pasar kripto Indonesia juga diperkirakan tidak hanya ditentukan oleh pergerakan harga aset seperti Bitcoin. Dengan basis pengguna yang besar dan tingkat adopsi yang terus berkembang, industri dinilai mulai bergerak menuju penguatan ekosistem dan pemanfaatan aset digital dalam sistem keuangan yang lebih luas.

Dengan kata lain, fase berikutnya bukan lagi sekadar berapa banyak orang yang memiliki kripto, tetapi seberapa besar aset digital tersebut dapat memberikan utilitas nyata dan terintegrasi secara aman dalam sistem keuangan. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid