IDNVoice.com - Investasi di sektor energi terbarukan dinilai menjadi salah satu kunci bagi Indonesia untuk mengejar pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen per tahun sekaligus meningkatkan kualitas investasi nasional.
Direktur Kolaborasi Internasional Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Imaduddin Abdullah mengatakan Indonesia membutuhkan investasi yang tidak hanya besar dari sisi nilai, tetapi juga mampu menciptakan dampak ekonomi lebih luas.
Menurut dia, peningkatan kualitas investasi menjadi penting agar modal yang masuk ke Indonesia dapat mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor secara optimal.
"Kalau kita lihat investasi global antara fossil fuel dengan clean energy sejak tahun 2018 sudah bergeser. Mungkin 10 tahun lalu kita akan bicara banyak fossil fuel untuk investasi, tapi sekarang kita bicaranya clean energy," kata Imaduddin dalam acara BIG Strategic Forum 2026 di Jakarta pada Selasa, 8 September 2026.
Imaduddin mengatakan Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi sekitar 6–8 persen untuk mencapai target menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045.
Namun, target tersebut menghadapi tantangan karena pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini cenderung berada di kisaran 5 persen.
Karena itu, menurut dia, sektor energi terbarukan perlu menjadi salah satu sektor strategis yang terus dikembangkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Ia menjelaskan pergeseran investasi energi global dari energi fosil menuju energi bersih menunjukkan bahwa energi terbarukan kini tidak lagi sekadar berkaitan dengan isu lingkungan.
Energi bersih, kata dia, telah menjadi bagian dari strategi ekonomi sekaligus upaya memperkuat ketahanan energi suatu negara.
Selain membuka peluang investasi baru, pengembangan energi terbarukan juga dinilai dapat membuat perekonomian Indonesia lebih tahan menghadapi ketidakpastian dan gejolak geopolitik global.
Imaduddin menilai diversifikasi sumber energi melalui energi terbarukan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil yang harganya rentan dipengaruhi kondisi global.
"Energi hijau itu tidak lagi berbicara mengenai lingkungan, tapi juga bagaimana bisa diversifikasi energi sehingga kita bisa lebih tahan ekonomi dari gejolak global," ujarnya.
Menurut Imaduddin, manfaat ekonomi dari transisi energi akan semakin besar jika pengembangan energi terbarukan dilakukan bersamaan dengan elektrifikasi.
Investasi di bidang elektrifikasi dinilai dapat menciptakan keterkaitan dengan banyak sektor sehingga dampak ekonominya tidak hanya dirasakan oleh industri energi.
Ia mencontohkan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya yang membutuhkan berbagai investasi pendukung, mulai dari baterai hingga komponen lainnya.
Hal serupa terjadi pada pengembangan kendaraan listrik yang turut menciptakan kebutuhan investasi terhadap infrastruktur pendukung, terutama fasilitas pengisian daya.
Rangkaian investasi tersebut, kata Imaduddin, berpotensi menciptakan efek berganda bagi perekonomian karena satu investasi dapat memunculkan aktivitas ekonomi baru di sejumlah sektor.
Kondisi itu pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas investasi nasional sekaligus membantu menurunkan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia.
Dengan demikian, investasi energi terbarukan dan elektrifikasi tidak hanya dipandang sebagai upaya mengurangi penggunaan energi fosil, tetapi juga sebagai instrumen untuk memperkuat struktur ekonomi dan mendorong Indonesia menuju target pertumbuhan yang lebih tinggi. [DR]