Gula Aren UMKM Garut Dilirik Eksportir, Pesanan Penjajakan Capai 30 Ton

Selasa, 08 September 2026 16:00 WIB
Pelaku usaha mikro binaan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) asal Kabupaten Garut, Jawa Barat, Susanti menunjukkan produk usahanya berupa gula aren Gasebu atau Gula semut Bungbulang. (IDNVoice/PT PNM)
Pelaku usaha mikro binaan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) asal Kabupaten Garut, Jawa Barat, Susanti menunjukkan produk usahanya berupa gula aren Gasebu atau Gula semut Bungbulang. (IDNVoice/PT PNM)

IDNVoice.com - Produk gula aren buatan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) asal Kabupaten Garut, Jawa Barat, mulai menembus pasar yang lebih luas. Gula semut produksi Susanti, pelaku UMKM binaan PT Permodalan Nasional Madani (PNM), bahkan dilirik eksportir dari Kabupaten Cianjur.

Produk yang diberi nama Gasebu (Gula Semut Bungbulang) itu mendapat permintaan hingga 30 ton dari eksportir untuk tahap penjajakan ekspor.

Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero) Kindaris mengatakan pengembangan usaha ultra mikro tidak cukup hanya melalui dukungan permodalan. Menurutnya, pelaku usaha juga perlu diberikan akses dan pendampingan agar produknya mampu naik kelas.

"Untuk membuat usaha ultra mikro berkembang bukan hanya butuh modal uang tetapi juga dibukakan jalan untuk bisa naik kelas," kata Kindaris dalam keterangannya pada Selasa, 8 September 2026.

Menurut dia, usaha ultra mikro membutuhkan dukungan lebih besar agar literasi dan kualitas usaha meningkat dibandingkan dengan skala usaha lainnya.

PNM, lanjutnya, terus berkomitmen membuka akses bagi pelaku usaha ultra mikro di berbagai daerah untuk memperkenalkan produk mereka ke pasar yang lebih luas.

Berawal dari Produksi Rumahan

Perjalanan Gasebu menuju peluang ekspor tidak berlangsung singkat. Susanti telah menekuni pengolahan gula aren sejak 2015. Namun, pada awalnya produk yang dihasilkan masih dijual secara sederhana tanpa identitas merek.

Susanti menyadari bahwa kualitas produk saja belum cukup untuk membuat Gasebu dikenal luas. Keterbatasan modal, minimnya akses promosi, hingga pencatatan usaha yang masih sederhana menjadi tantangan yang harus dihadapi.

Peluang ekspor yang sempat terbuka melalui sejumlah proses kurasi pun harus tertunda. Saat itu, produksi dan pemasaran gula aren yang dikelolanya dinilai belum cukup siap untuk memenuhi permintaan dalam jumlah besar.

Titik balik terjadi ketika Susanti bergabung sebagai nasabah PNM Mekaar dengan memperoleh pinjaman awal sebesar Rp4 juta.

Modal tersebut kemudian digunakan untuk membeli hasil produksi petani aren di sekitar Bungbulang. Para petani itu selanjutnya diajak bergabung menjadi bagian dari kelompok usaha yang dibinanya.

Melalui program pemberdayaan PNM, Susanti memperoleh pendampingan dalam berbagai aspek, mulai dari pengembangan kemasan agar lebih menarik hingga strategi pemasaran digital.

Ia juga didorong memanfaatkan penjualan daring dan live shopping untuk memperluas jangkauan pasar Gasebu.

Kini Libatkan 130 Orang

Kemitraan dengan PNM turut mendorong Susanti memperluas dampak usahanya ke masyarakat sekitar. Melalui program pemberdayaan yang disosialisasikan bersama, puluhan warga dilatih membuat gula semut dari rumah masing-masing.

Model tersebut membuat kegiatan produksi tidak hanya berpusat di satu tempat, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk memperoleh penghasilan dari pengolahan gula aren.

Kini, usaha Gasebu mampu melibatkan sekitar 130 orang, yang terdiri atas 113 petani aren dan 17 pekerja di rumah produksi.

Bagi Susanti, berkembangnya usaha bukan hanya tentang meningkatnya produksi dan terbukanya peluang pasar ekspor. Lebih dari itu, ia ingin usaha yang dirintisnya memberi manfaat bagi masyarakat di sekitar Bungbulang.

Ia berharap pendampingan dalam penguatan merek dan pengembangan usaha yang telah diterimanya dapat terus berlanjut.

"Mudah-mudahan nanti ada program-program lain yang bisa lebih mengembangkan usaha kita dan bisa berdampak lebih luas lagi untuk masyarakat banyak melalui PNM," katanya.

Permintaan 30 ton dari eksportir Cianjur tersebut kini menjadi peluang baru bagi Gasebu untuk membuktikan bahwa produk UMKM dari pelosok Garut mampu bersaing dan membuka jalan menuju pasar ekspor. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid