IDNVoice.com - Pemanfaatan teknologi drone atau pesawat nirawak mulai memberikan dampak nyata terhadap efisiensi pertanian di Kawasan Transmigrasi Salor, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menyebut penggunaan drone mampu memangkas biaya penyemprotan lahan hingga 90 persen, sekaligus mempercepat waktu pengerjaan secara signifikan.
Biaya penyemprotan lahan seluas satu hektare yang sebelumnya mencapai sekitar Rp170.000 dengan metode manual turun menjadi sekitar Rp17.000 menggunakan drone. Sementara waktu pengerjaan berkurang dari sekitar empat jam menjadi hanya 20 menit.
"Penyemprotan secara manual menggunakan sprayer tetap dapat dilakukan, tetapi membutuhkan waktu dan tenaga yang jauh lebih besar. Dengan lahan pertanian di Merauke yang cukup luas, drone membuat proses penyemprotan lebih cepat, efisien, dan efektif," kata Ketua Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University Doni Sahat dalam keterangan resminya pada Senin, 7 September 2026.
Drone merupakan pesawat nirawak yang dikendalikan dari jarak jauh maupun secara otomatis. Dalam sektor pertanian, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk penyemprotan pestisida, pemupukan, pemantauan kondisi tanaman, hingga pemetaan lahan.
Drone yang digunakan di kawasan transmigrasi tersebut merupakan aset kelompok tani yang pemanfaatannya dioptimalkan melalui pendampingan teknis TEP IPB University.
Pendampingan dilakukan terutama untuk mendukung penyemprotan pestisida dan pemupukan secara lebih efisien.
Berdasarkan perhitungan program pendampingan, penggunaan drone membuat pekerjaan penyemprotan sekitar 12 kali lebih cepat dan menghemat biaya sekitar Rp153.000 per hektare untuk setiap kali penyemprotan.
Dengan luas lahan mencapai empat hektare, penghematan biaya dapat mencapai sekitar Rp612.000 untuk satu kali kegiatan penyemprotan.
Manfaat teknologi itu turut dirasakan Margono, petani padi di Satuan Permukiman (SP) 4, Distrik Tanah Miring, yang mengelola lahan sekitar empat hektare.
"Awalnya saya sempat ragu ketika ditawari pemupukan menggunakan drone. Setelah dicoba di lahan saya, perbedaannya langsung terasa. Biasanya pemupukan manual membutuhkan waktu seharian dan tenaga yang cukup besar," ujar Margono.
Menurut dia, penggunaan drone membuat proses pemupukan menjadi lebih cepat, menghemat waktu dan tenaga, serta membantu penyebaran pupuk lebih merata dibandingkan metode manual.
Kementrans menyebut pendampingan tidak hanya dilakukan saat drone digunakan di lahan. Petani juga mendapatkan pendampingan terkait pengoperasian, perawatan, dan pengelolaan teknologi tersebut.
Langkah itu ditujukan agar kelompok tani dapat memanfaatkan aset drone secara mandiri untuk mendukung kegiatan pertanian mereka.
Sebelumnya, Kementrans menyatakan penguatan produktivitas pertanian di Kawasan Transmigrasi Salor mencakup pengembangan riset, teknologi pertanian, sarana produksi, serta sumber daya manusia guna mendukung ketahanan pangan.
Hasil riset TEP pada 2025 di kawasan tersebut juga mengidentifikasi sejumlah faktor yang memengaruhi produktivitas pertanian, mulai dari persoalan bibit, hama, irigasi, hingga kondisi jalan usaha tani.
Pada 2026, Kementrans menugaskan 1.476 peserta TEP yang terbagi dalam 246 tim untuk bertugas di 53 kawasan transmigrasi.
Program tersebut tidak hanya diarahkan pada riset dan pemetaan potensi ekonomi, tetapi juga aksi nyata serta pendampingan masyarakat di kawasan transmigrasi.
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan pemanfaatan teknologi pertanian harus disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan setiap kawasan.
"Setiap wilayah memiliki potensi dan persoalan yang berbeda. Karena itu, pendekatannya tidak boleh dipukul rata," kata Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara.
Kementrans berharap penggunaan drone di Salor dapat diperluas ke lebih banyak lahan dan kelompok tani. Selain menekan biaya produksi, teknologi tersebut dinilai mampu mempercepat pekerjaan pada areal pertanian yang luas.
Pemanfaatan teknologi tepat guna itu diharapkan menjadi salah satu cara mendorong petani di kawasan transmigrasi meningkatkan produktivitas sekaligus menghadapi tantangan keterbatasan tenaga dan luasnya lahan pertanian. [DR]