IDNVoice.com - Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong penguatan kerja sama antarkoperasi peternak untuk memperbaiki tata niaga ayam petelur afkir. Langkah tersebut dinilai penting agar peternak memiliki posisi tawar lebih kuat dan tidak terus bergantung pada mekanisme tengkulak.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan Makmun mengatakan kolaborasi antarkoperasi dapat membuka akses pasar yang lebih luas sekaligus membantu menjaga harga di tingkat peternak.
"Kerja sama antarkoperasi diperlukan agar harga tidak dikendalikan oleh tengkulak. Posisi tawar dari peternak harus diperkuat," kata Makmun dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta pada Minggu, 6 September 2026.
Salah satu langkah konkret dilakukan melalui distribusi 40 ton karkas ayam layer afkir dari Jawa Timur ke Makassar, Sulawesi Selatan. Pengiriman perdana ini diharapkan menjadi awal terbentuknya jalur distribusi yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
"Pelepasan 40 ton ini merupakan langkah awal. Ke depan akan menjadi reguler," ucap Makmun.
Ayam layer afkir merupakan ayam petelur betina yang sudah tidak produktif menghasilkan telur. Setelah disembelih, ayam tersebut diproses menjadi karkas dengan membersihkan bulu, kepala, kaki, dan jeroan.
Distribusi 40 ton karkas tersebut merupakan hasil kolaborasi pemerintah, ID FOOD, dan sejumlah koperasi peternak. Koperasi yang terlibat antara lain Koperasi Peternak Perunggasan Nusantara (PPN) Blitar, Koperasi KARTINI, Koperasi Putra Blitar, Koperasi Perhimpunan Peternak Rakyat Nusantara (PPRN), dan Koperasi Berkah Telur.
Menurut Makmun, penguatan kerja sama koperasi menjadi kunci untuk mengonsolidasikan potensi produksi peternak dan menghubungkannya dengan pasar yang lebih luas.
Ia berharap distribusi perdana tersebut dapat berkembang menjadi pola distribusi reguler sehingga peternak memiliki kepastian saluran pemasaran ketika ayam memasuki akhir masa produksi.
Direktur Komersial ID FOOD Dwi Sutoro mengatakan pihaknya berkomitmen membangun ekosistem peternakan yang melibatkan koperasi dan peternak sebagai bagian penting dari rantai pasok.
"ID FOOD ingin membangun ekosistem. Koperasi ada dan diperlukan untuk memfasilitasi keinginan anggota," kata Dwi.
Melalui pola tersebut, koperasi didorong tidak hanya berfungsi sebagai wadah organisasi, tetapi juga aktif mengonsolidasikan kebutuhan anggota. Salah satunya melalui penyerapan ayam petelur afkir dan menghubungkannya dengan pasar di wilayah lain.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar Heri Widyatmoko mengapresiasi langkah penyerapan ayam petelur afkir tersebut.
Menurutnya, akses pemasaran menjadi kebutuhan penting bagi peternak ketika ayam memasuki masa akhir produksi. Penyerapan ayam afkir diharapkan dapat menjadi solusi agar komoditas tersebut tetap memiliki nilai ekonomi dan tidak dijual melalui jalur yang merugikan peternak.
Ketua Koperasi PPRN Rofi juga mengapresiasi langkah ID FOOD yang dinilai telah memberikan solusi melalui penyerapan ayam afkir petelur dengan harga di atas harga pasar.
Namun, ia menilai persoalan posisi tawar masih menjadi tantangan yang harus segera dibenahi melalui kerja sama antarkoperasi.
"Kami membenarkan bahwa selama ini posisi tawar koperasi masih rendah dan masih diatur oleh tengkulak. Kerja sama antarkoperasi diperlukan. Chemistry yang sudah ada perlu dijaga," kata Rofi.
Dengan pengiriman 40 ton karkas ayam layer afkir ke Makassar, pemerintah berharap pola kerja sama antarkoperasi tersebut tidak berhenti sebagai pengiriman perdana. Skema distribusi reguler diharapkan dapat memperluas pasar, meningkatkan posisi tawar koperasi, sekaligus memberikan nilai ekonomi yang lebih baik bagi peternak ayam petelur. [DR]