IDNVoice.com - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menawarkan solusi untuk menekan tingginya biaya operasional pengemudi taksi online melalui Program Bantuan Konversi BBG Kendaraan Tahun 2026. Program tersebut memberikan fasilitas pemasangan kit bahan bakar gas (BBG) secara gratis bagi pengemudi yang memenuhi sasaran program.
Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengatakan penggunaan BBG berpotensi menekan biaya bahan bakar sekaligus menjadi alternatif energi yang lebih efisien bagi pengemudi taksi online (taksol).
"Inisiatif ini diharapkan menjadi alternatif energi yang lebih efisien sekaligus membantu pengemudi menekan biaya operasional kendaraan," ujar Fajriyah dalam keterangannya di Jakarta pada Sabtu, 5 September 2026.
Melalui program tersebut, pengemudi taksol diberikan kesempatan mengonversi kendaraan dari bahan bakar konvensional menjadi BBG tanpa harus menanggung biaya pemasangan kit konversi.
Selama periode Agustus-September 2026, sebanyak 75 kendaraan ditargetkan mendapatkan bantuan konversi BBG.
Fajriyah menjelaskan, apabila 75 kendaraan tersebut rata-rata mengonsumsi 8 liter setara bensin (LSP) BBG per hari setiap bulan, total pemanfaatan BBG diperkirakan mencapai sekitar 15.000 LSP per bulan atau 180.000 LSP dalam setahun.
Dengan asumsi harga BBG nonsubsidi sebesar Rp4.500 per liter, kebutuhan bahan bakar tersebut membutuhkan biaya sekitar Rp810 juta per tahun.
Sementara apabila volume penggunaan yang sama menggunakan BBM subsidi dengan asumsi harga Rp10.000 per liter, biaya bahan bakar dapat mencapai sekitar Rp1,8 miliar per tahun.
"Dengan demikian, pemanfaatan BBG berpotensi menghasilkan penghematan biaya bahan bakar minimal sekitar Rp990 juta per tahun bagi 75 penerima manfaat secara keseluruhan," katanya.
PGN menyebut penghematan tersebut dapat menjadi manfaat signifikan bagi pengemudi taksi online yang memiliki intensitas penggunaan kendaraan dan konsumsi bahan bakar relatif tinggi.
Selain manfaat ekonomi, penggunaan BBG juga dinilai memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Fajriyah mengatakan pemanfaatan BBG sejalan dengan dukungan PGN terhadap target Indonesia mencapai Net Zero Emission pada 2060.
Dengan penggunaan energi yang setara, BBG menghasilkan emisi karbon dioksida (CO₂) sekitar 19 persen lebih rendah dibandingkan bensin subsidi.
Berdasarkan proyeksi konsumsi sekitar 180.000 LSP BBG per tahun oleh 75 penerima manfaat, program konversi tersebut diperkirakan mampu mengurangi emisi hingga sekitar 73 ton CO₂ ekuivalen per tahun.
"Dengan demikian, peralihan dari bahan bakar minyak ke BBG tidak hanya membantu pengemudi menekan biaya operasional, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam mendukung penggunaan energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan," katanya.
Fajriyah berharap program tersebut dapat memberikan manfaat langsung kepada penerima sekaligus mendorong penggunaan BBG secara lebih luas.
Penanggung jawab Administrasi Lapangan Komunitas Mobil Gas (Komogas), Riko, mengapresiasi program yang diberikan PGN. Menurut dia, bantuan tersebut sangat membantu pengemudi taksi online yang setiap hari mengandalkan kendaraan untuk mencari penghasilan.
"Bantuan konversi kit BBG secara gratis ini sangat berarti bagi para pengemudi online. Biaya pemasangan konverter secara mandiri cukup besar, sehingga program ini membuka kesempatan untuk beralih menggunakan BBG dengan lebih mudah," ujarnya.
Riko mengatakan manfaat yang paling dirasakan setelah kendaraan dikonversi adalah efisiensi biaya bahan bakar. Selain harganya lebih kompetitif, BBG juga menghasilkan pembakaran yang lebih bersih sehingga diharapkan dapat mendukung kinerja serta perawatan mesin dalam jangka panjang.
Program tersebut sekaligus menjadi upaya mendorong penggunaan energi alternatif di sektor transportasi, dengan menggabungkan manfaat efisiensi biaya operasional dan pengurangan emisi. [DR]