Agrinas Palma Proyeksikan Kebutuhan 104 Juta Ton CPO pada 2045 untuk Topang Pangan dan Bioenergi

Sabtu, 05 September 2026 08:56 WIB
Para pembicara dalam Panel Diskusi 3 The 12th Indonesia EBTKE Conference and Exhibition (IndoEBTKE ConEx) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta pada Kamis, 3 September 2026. (IDNVoice/Agrinas Palma)
Para pembicara dalam Panel Diskusi 3 The 12th Indonesia EBTKE Conference and Exhibition (IndoEBTKE ConEx) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta pada Kamis, 3 September 2026. (IDNVoice/Agrinas Palma)

IDNVoice.com - PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menilai sektor agroindustri memiliki posisi strategis dalam memastikan ketersediaan bahan baku untuk kebutuhan bioenergi nasional. Peningkatan produktivitas perkebunan sawit dinilai menjadi salah satu kunci untuk menjaga pasokan energi sekaligus memenuhi kebutuhan pangan dan industri.

Direktur Utama Agrinas Palma Mohammad Abdul Ghani mengatakan Indonesia memiliki potensi bioenergi yang besar. Namun, potensi tersebut harus diimbangi dengan peningkatan produktivitas dan tata kelola perkebunan yang berkelanjutan.

"Indonesia memiliki potensi bioenergi yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan produktivitas, menjaga keberlanjutan, serta memastikan hasil dari sektor hulu dapat terhubung dengan kebutuhan industri bioenergi nasional," ujar Abdul dalam keterangannya pada Jumat, 4 September 2026.

Menurut dia, intensifikasi dan ekstensifikasi perkebunan menjadi langkah penting untuk memastikan ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Kebutuhan CPO Diproyeksikan 104 Juta Ton

Berdasarkan analisis data Agrinas Palma, Indonesia diproyeksikan membutuhkan sekitar 104 juta ton crude palm oil (CPO) pada 2045. Kebutuhan tersebut akan digunakan untuk memenuhi permintaan biodiesel, pangan, ekspor, produk turunan sawit, hingga Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Untuk mencapai kebutuhan tersebut, produktivitas sawit perlu ditingkatkan dari sekitar 3 ton menjadi 4,4 ton CPO per hektare. Selain itu, diperlukan tambahan areal perkebunan sekitar 7,4 juta hektare.

Abdul mengatakan peningkatan produktivitas melalui intensifikasi dapat dilakukan dengan mempercepat program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), menerapkan pola tumpang sari tanaman pangan, Good Agricultural Practices, digitalisasi, mekanisasi, serta memperkuat riset dan inovasi.

Sementara itu, ekstensifikasi dilakukan melalui verifikasi kawasan Hutan Produksi yang dapat Dikonversi (HPK). Langkah tersebut, kata dia, perlu disertai reforestasi terhadap sisa kawasan maupun area marginal.

Produksi Harus Berjalan Bersama Konservasi

Abdul menekankan peningkatan produksi sawit tidak boleh mengesampingkan aspek keberlanjutan. Tata kelola perkebunan perlu memperhatikan perlindungan kawasan High Conservation Value (HCV) dan High Carbon Stock (HCS), pelestarian keanekaragaman hayati, larangan penggunaan api dalam pembukaan lahan, serta penerapan sistem ketertelusuran berbasis teknologi informasi.

Di sektor hilir, Agrinas Palma juga mendorong rantai produksi sawit yang terintegrasi. Pengembangan tersebut mencakup pengelolaan kebun berkelanjutan, pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya, penggunaan truk listrik untuk menekan emisi sekaligus biaya pengangkutan, hingga pengolahan di pabrik kelapa sawit.

"Pendekatan tersebut diharapkan membuka lapangan kerja, memenuhi kebutuhan pangan dan energi, menciptakan pertumbuhan ekonomi inklusif, mengoptimalkan ekonomi sirkular, serta mewujudkan pertanian berkelanjutan," ujar Abdul.

Gandeng Pertamina Kembangkan Biodiesel dan Bioetanol

Untuk memperkuat hilirisasi energi, rencana pengembangan biodiesel dan bioetanol akan dilakukan melalui kerja sama strategis antara Agrinas Palma dan PT Pertamina (Persero) dengan dukungan Danantara.

Abdul mengatakan kerja sama tersebut diarahkan untuk menghubungkan pasokan bahan baku dari sektor agroindustri nasional dengan kebutuhan industri energi.

"Kami ingin menghasilkan biodiesel dan bioetanol dengan dukungan pasokan bahan baku dari sektor agroindustri nasional. Untuk mewujudkannya, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, BUMN, pelaku industri, lembaga pembiayaan, serta pemilik teknologi," kata Abdul.

Menurutnya, keterhubungan antara sektor hulu dan hilir menjadi penting agar potensi sawit tidak hanya menghasilkan komoditas mentah, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian sekaligus mendukung agenda ketahanan pangan dan energi nasional. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid