Bappenas: Dunia Bisa Kesulitan Jika Green Job Tak Segera Diperbanyak

Rabu, 02 September 2026 19:20 WIB
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy dalam Indonesia’s Green Jobs Conference (IGJC) 2026 di Jakarta pada Rabu, 2 September 2026. (IDNVoice/Antara-Muhammad Baqir Idrus Alatas)
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy dalam Indonesia’s Green Jobs Conference (IGJC) 2026 di Jakarta pada Rabu, 2 September 2026. (IDNVoice/Antara-Muhammad Baqir Idrus Alatas)

IDNVoice.com - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy menilai penciptaan green job atau pekerjaan hijau perlu dipercepat seiring agenda transformasi hijau yang tengah berlangsung di berbagai negara.

Ia mengingatkan keterlambatan menciptakan pekerjaan hijau dalam jumlah lebih besar dapat menjadi persoalan bersama bagi masyarakat dunia.

"Kalau kita tidak hati-hati, tidak segera melahirkan green job lebih banyak, kita seluruh dunia akan mengalami kesulitan bersama," ungkap Rachmat dalam Indonesia`s Green Jobs Conference (IGJC) 2026 di Jakarta pada Rabu, 2 September 2026.

Indonesia sendiri telah menetapkan arah transformasi hijau dalam agenda pembangunan nasional. Salah satunya melalui target peningkatan porsi energi baru dan terbarukan (EBT) dalam bauran energi primer dari 20 persen pada 2025 menjadi 70 persen pada 2045.

Selisih 50 persen dalam target tersebut dinilai memiliki potensi besar menciptakan lapangan kerja baru, baik untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja Indonesia maupun berkontribusi terhadap kebutuhan dunia.

Green Job Menjangkau Berbagai Sektor

Dalam transformasi hijau, Rachmat mengatakan dimensi manusia menjadi salah satu elemen penting, terutama melalui pengembangan pekerjaan hijau.

Pekerjaan hijau merupakan pekerjaan layak yang berkontribusi dalam melestarikan atau memulihkan lingkungan melalui tugas atau keterampilan hijau, proses ramah lingkungan, maupun produk dan jasa hijau.

Pekerjaan tersebut telah berkembang di berbagai sektor ekonomi, mulai dari energi, manufaktur, kehutanan, terutama pertanian, hingga pengelolaan pariwisata serta ekonomi pesisir dan kelautan.

"Transformasi ini bukan sekedar mengubah tempat seseorang bekerja, melainkan juga mengubah bentuk pekerjaan, mengubah proses kerja, mengubah teknologi yang diterapkan, serta mengubah kompetensi yang dibutuhkan," ujar Kepala Bappenas.

Bappenas mencatat tenaga kerja yang telah berkontribusi secara langsung pada pelestarian lingkungan mencapai 2,5 persen atau sekitar 3,45 juta orang. Sementara itu, terdapat 36,5 persen atau sekitar 49,12 juta tenaga kerja potensial hijau yang berpeluang beralih menuju pekerjaan hijau.

Rachmat menilai jumlah tersebut masih dapat diperluas apabila Indonesia memiliki kriteria yang lebih komprehensif dalam menentukan pekerjaan hijau.

"Angka ini akan bisa ditingkatkan, bisa lebih luas dan bisa lebih banyak kalau kita punya kriteria baru. Orang yang bekerja di sektor pertanian, kehutanan, perikanan, itu sebagian bekerja di green job. Itu menurut pertimbangan saya. Mengapa? (Karena) semua pekerjaan yang menghasilkan emisi karbon rendah, menghasilkan konsumsi air rendah, menghasilkan dan menyerap energi yang hijau lebih banyak, maka itu masuk di dalam kategori green job," katanya.

Karena itu, Bappenas berupaya menyusun kriteria, indikator, hingga indeks baru mengenai pekerjaan hijau yang dapat digunakan untuk kepentingan Indonesia.

Siapkan Tiga Strategi

Untuk mengimplementasikan agenda pekerjaan hijau, pemerintah menyiapkan tiga strategi utama.

Pertama, membangun ekosistem pendukung yang memungkinkan green job tumbuh. Kedua, meningkatkan kesiapan tenaga kerja melalui pendidikan dan pelatihan vokasi yang mampu merespons dinamika perubahan di masa mendatang.

Ketiga, memperkuat kemitraan antara pemerintah, dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja agar kebutuhan tenaga kerja hijau dapat dipertemukan dengan kompetensi yang tersedia.

"Mari kita jadikan transformasi hijau ini sebagai momentum untuk melahirkan tenaga kerja Indonesia yang future ready, serta menciptakan ekonomi yang tangguh, inklusif, sekaligus berkelanjutan," ucapnya. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid