IDNVoice.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan produktivitas Industri Kecil dan Menengah (IKM) olahan singkong melalui penguatan kolaborasi dengan industri skala besar. Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas akses pasar, meningkatkan kapasitas produksi, sekaligus mengintegrasikan IKM ke dalam rantai pasok industri pangan nasional.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan penguatan sinergi tersebut sejalan dengan Instruksi Menteri Perindustrian Nomor 2 Tahun 2026 tentang Program Vendor Development yang bertujuan membuka akses pasar sekaligus menjamin keberlanjutan pasokan pangan nasional.
Dalam keterangannya, Faisol menjelaskan Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) terus meningkatkan kualitas serta kapasitas pelaku IKM singkong. Salah satunya melalui Seminar dan Pendampingan Teknis Produksi serta Keamanan Produk Olahan Singkong yang digelar di Kabupaten Lampung Timur pada 16 Juli 2026.
Kegiatan tersebut diikuti 100 peserta yang terdiri atas pelaku IKM olahan singkong, baik kategori produk akhir (end product) maupun produk antara (intermediate product), serta Gabungan Kelompok Tani.
Faisol mengungkapkan sektor industri makanan dan minuman masih menjadi salah satu motor pertumbuhan industri nasional. Pada triwulan I 2026, subsektor tersebut mencatat pertumbuhan sebesar 7,04 persen dan menjadi yang tertinggi di sektor industri pengolahan nonmigas.
"Selain tumbuh kuat, subsektor ini juga memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB nasional dibandingkan subsektor industri pengolahan nonmigas lainnya, yaitu sebesar 7,31 persen," jelas Faisol pada Jumat, 17 Juli 2026.
Menurutnya, peran strategis industri makanan dan minuman semakin penting di tengah berbagai tantangan ketahanan pangan global, mulai dari perubahan iklim, gangguan rantai pasok, hingga fluktuasi harga pangan.
Karena itu, Kemenperin terus mendorong transformasi industri pangan melalui hilirisasi sumber daya alam sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto.
"Karena itu, sejalan dengan arahan Bapak Presiden mengenai percepatan industrialisasi melalui hilirisasi sumber daya alam, Kemenperin terus mendorong transformasi industri pangan agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi mampu mengolah sumber daya alamnya menjadi produk bernilai tambah tinggi," tegasnya.
Faisol menambahkan, Provinsi Lampung memiliki posisi strategis dalam pengembangan industri singkong nasional. Berdasarkan data tahun 2024, produksi singkong di Lampung mencapai sekitar 7,9 juta ton atau sekitar 51 persen dari total produksi nasional.
Menurutnya, penguatan sektor hulu menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan industri singkong. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan produktivitas, penggunaan benih unggul, intensifikasi lahan, penerapan teknologi budidaya, dukungan pembiayaan, hingga penguatan riset dan pengembangan.
"Melalui kegiatan seminar dan pendampingan teknis ini, kami berharap pelaku IKM di Kabupaten Lampung Timur memperoleh pengetahuan dan keterampilan mengenai teknologi pengolahan, penerapan sistem keamanan pangan, serta pengembangan produk olahan singkong yang berdaya saing," ujar Faisol.
Melalui kolaborasi dengan industri besar dan peningkatan kapasitas pelaku usaha, Kemenperin berharap IKM olahan singkong mampu menjadi bagian penting dari rantai pasok industri pangan nasional sekaligus menghasilkan produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar domestik maupun global. [DR]