Bapanas: Harga Ayam dan Telur di Tingkat Peternak Mulai Menguat, MBG Jadi Pendorong Permintaan

Jum'at, 17 Juli 2026 15:42 WIB
Ilustrasi: Pedangang telur ayam. (IDNVoice/Antara)
Ilustrasi: Pedangang telur ayam. (IDNVoice/Antara)

IDNVoice.com - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan harga ayam broiler dan telur ayam ras di tingkat peternak mulai menunjukkan tren kenaikan seiring kembali berjalannya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah masa libur sekolah 2026. Meningkatnya permintaan dinilai menjadi salah satu faktor yang mendorong penguatan harga di tingkat produsen.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut memberikan dampak positif terhadap produsen pangan, khususnya peternak ayam dan telur.

"Kalau data kami dan juga bertanya ke teman-teman peternak, relatif sudah mulai merangkak. Jadi MBG itu ada pengaruhnya dan sekarang telah melewati bulan Suro, sekaligus juga mulai masuk anak sekolah, MBG dimulai, ini merangkak sudah mulai naik," kata Ketut pada Jumat, 17 Juli 2026.

Ketut menjelaskan, setelah sempat mengalami penurunan harga, kini harga ayam hidup (broiler) dan telur ayam ras mulai bergerak naik mendekati tingkat kewajaran sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat produsen.

Berdasarkan pemantauan Bapanas, rata-rata harga ayam broiler di tingkat peternak meningkat sekitar 4,11 persen dalam sepekan terakhir. Per 14 Juli 2026, harga ayam broiler tercatat sebesar Rp21.736 per kilogram (kg) berat hidup, naik dibandingkan sepekan sebelumnya yang berada di level Rp20.878 per kg.

Meski demikian, Ketut menyebut masih terdapat disparitas harga antarwilayah. Di Sumatera Selatan, misalnya, harga ayam broiler masih berada di kisaran Rp18.125 per kg berat hidup. Sebaliknya, di Riau harga rata-rata telah mencapai Rp25.600 per kg, melampaui HAP produsen yang ditetapkan sebesar Rp25.000 per kg.

Sementara itu, harga telur ayam ras juga mulai mengalami penguatan. Per 14 Juli 2026, rata-rata harga nasional tercatat Rp22.644 per kg atau meningkat 0,66 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang masih berada di level Rp22.495 per kg.

Harga telur terendah tercatat di Provinsi Banten sebesar Rp20.300 per kg, sedangkan harga tertinggi berada di Sulawesi Utara yang mencapai Rp28.200 per kg. Adapun HAP telur ayam ras di tingkat peternak ditetapkan sebesar Rp26.500 per kg.

"Sekarang untuk petelur sudah mulai antara Rp20.000 sampai Rp21.000 per kg, sudah mulai naik perlahan. Kita lihat nanti ke depannya karena akan naik terus nih. Tapi tolong biarkan dulu peternak kita menikmati, sehingga mencapai harga acuan yang kita tetapkan," ujar Ketut.

Ia mengakui sebelumnya permintaan terhadap telur dan daging ayam sempat menurun sehingga harga di tingkat peternak ikut terkoreksi. Salah satu penyebabnya adalah bertepatan dengan bulan Suro yang biasanya diikuti berkurangnya berbagai kegiatan masyarakat, termasuk pesta pernikahan.

"Sebenarnya bulan Suro itu juga pengaruh besar karena bulan kemarin itu relatif bulan Suro, sehingga acara-acara mantenan dan lain sebagainya kan terhenti, sehingga permintaan terkait dengan ayam itu relatif menurun, sehingga harga terkoreksi," jelas Ketut.

Menurutnya, berakhirnya bulan Suro yang bersamaan dengan dimulainya kembali Program Makan Bergizi Gratis menjadi momentum penting bagi pemulihan harga komoditas peternakan.

"Tapi sekali lagi dengan mulainya MBG, kemudian melewati bulan Suro, ini krusial banget. Nah kalau ini sudah dilewati, tentu harga akan mulai terkoreksi positif bagi peternak kita," pungkasnya. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid