Investasi Triwulan II 2026 Tembus Rp511,8 Triliun, Rosan: Komitmen Investor Global Masih Sangat Kuat

Jum'at, 17 Juli 2026 10:46 WIB
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani memberikan keterangan pers setelah melaporkan capaian investasi periode Kuartal II/2026 dan Semester I/2026 kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan RI, Jakarta pada Kamis, 16 Juli 2026. (IDNVoice/BPMI Setpres)
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani memberikan keterangan pers setelah melaporkan capaian investasi periode Kuartal II/2026 dan Semester I/2026 kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan RI, Jakarta pada Kamis, 16 Juli 2026. (IDNVoice/BPMI Setpres)

IDNVoice.com - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan realisasi investasi Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai Rp511,8 triliun. Nilai tersebut tumbuh 7,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan telah memenuhi 25,1 persen dari target investasi nasional tahun 2026.

Hal itu disampaikan Rosan usai melaporkan capaian realisasi investasi kepada Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (16 Juli 2026).

Menurut Rosan, komitmen investasi jangka panjang dari para investor asing terhadap Indonesia masih sangat kuat, terutama dari negara-negara mitra utama seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.

"Kalau kita lihat long term commitment-nya ini, terutama memang dari China, Jepang, sebenarnya negara-negara lainnya itu seperti Korea juga itu masih sangat kuat," ujar Rosan.

Ia menjelaskan para investor menilai prospek investasi di Indonesia terus berkembang positif. Pemerintah pun terus memperbaiki iklim investasi melalui berbagai kebijakan yang memberikan kepastian hukum dan kemudahan perizinan bagi pelaku usaha.

"Kita juga selalu menjaga dan meningkatkan iklim, terutama iklim investasi dengan kebijakan-kebijakan yang makin baik, dan ini juga direspons positif oleh para investor, terutama juga dengan adanya peraturan pemerintah yang lebih memberikan kepastian atau certainty dari terutama segi perizinan dan juga license dan permit," lanjutnya.

Selain mencatat pertumbuhan investasi, realisasi pada triwulan II 2026 juga berhasil menyerap 742.293 tenaga kerja atau meningkat 5,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi sumber investasi, komposisi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) relatif seimbang. PMDN berkontribusi sebesar 49,6 persen, sedangkan PMA mencapai 50,4 persen.

Sementara dari sisi penyebaran wilayah, Rosan mengatakan kontribusi investasi di Pulau Jawa dan luar Jawa juga semakin merata. Bahkan, investasi di luar Jawa sedikit lebih tinggi dibandingkan Jawa pada triwulan II tahun ini.

"Kontribusinya, Jawa-luar Jawa kelihatannya hampir sama. Kalau kita lihat di triwulan kedua ini, walaupun luar Jawa masih meningkat lebih sedikit. Dan kita harapkan pemerataan ini juga makin terus berkembang untuk melihat potensi-potensi lainnya," ujarnya.

Rosan menambahkan, Maluku Utara menjadi daerah dengan realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) terbesar pada triwulan II 2026 setelah mencatat investasi sebesar Rp39,5 triliun. Posisi berikutnya ditempati DKI Jakarta, Jawa Barat, Sulawesi Tengah, dan Jawa Timur.

Sementara untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), DKI Jakarta masih menjadi daerah dengan nilai investasi terbesar mencapai Rp58,6 triliun. Jawa Barat berada di posisi kedua dengan Rp26,9 triliun, disusul Jawa Timur sebesar Rp26,8 triliun.

Dari sisi sektor usaha, industri logam dasar, barang logam bukan mesin, dan peralatan menjadi penyumbang investasi terbesar dengan nilai Rp81 triliun atau 15,8 persen dari total realisasi investasi. Selanjutnya disusul sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sebesar Rp57,3 triliun, pertambangan Rp53,1 triliun, jasa lainnya sebesar 9,7 persen, serta perdagangan dan reparasi sebesar Rp40,8 triliun.

Rosan juga mengungkapkan adanya perubahan peta negara asal investasi pada triwulan II 2026. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir, Hong Kong menjadi sumber investasi terbesar di Indonesia.

"Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir, China investasinya lebih agresif melalui Hong Kong, sehingga tempat pertama dari investasi di kuartal kedua ini ditempatkan oleh Hong Kong dengan 5 miliar, Singapura 4,2 miliar, Tiongkok 1,7 miliar, Jepang 0,9 miliar, dan Malaysia 0,7 miliar," jelas Rosan.

Pemerintah menilai capaian tersebut semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu destinasi investasi utama di kawasan. Dengan iklim usaha yang terus diperbaiki, kepastian regulasi yang semakin kuat, serta pemerataan investasi ke berbagai daerah, pemerintah optimistis investasi akan terus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus membuka lebih banyak lapangan kerja. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid