IDNVoice.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperluas pasar ekspor produk manufaktur nasional dengan membidik kawasan Mediterania dan Afrika Utara melalui penguatan kerja sama dagang dengan Maroko. Langkah tersebut dinilai strategis untuk meningkatkan daya saing industri Indonesia sekaligus membuka akses yang lebih luas ke pasar regional.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan Maroko memiliki posisi yang sangat strategis sebagai pintu masuk menuju Afrika Utara dan kawasan Mediterania.
"Maroko memiliki posisi strategis sebagai gerbang menuju Afrika Utara dan kawasan Mediterania. Kami melihat peluang besar untuk memanfaatkan keunggulan tersebut untuk memperluas akses produk industri Indonesia ke pasar regional, sekaligus memperkuat kemitraan di sektor-sektor industri masa depan seperti dirgantara, industri halal, farmasi, dan energi baru terbarukan," ujar Faisol Riza dalam keterangannya pada Rabu, 15 Juli 2026.
Untuk mendukung langkah tersebut, Kemenperin mendorong pembentukan Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia dan Maroko. Perjanjian ini diharapkan dapat memangkas hambatan tarif sehingga produk manufaktur Indonesia menjadi lebih kompetitif di kawasan Mediterania dan Afrika Utara.
Selain memperluas akses pasar, kerja sama tersebut juga diarahkan untuk mengamankan pasokan bahan baku industri strategis, seperti fosfat dan aluminium, yang dibutuhkan industri nasional.
Faisol menilai hubungan diplomatik Indonesia dan Maroko yang telah terjalin sejak 1956 menjadi modal penting dalam memperkuat kemitraan ekonomi kedua negara. Indonesia memandang kerja sama tersebut sebagai peluang untuk meningkatkan daya saing industri sekaligus memperluas jejaring ekonomi di kawasan Afrika.
Potensi perdagangan kedua negara juga dinilai terus berkembang. Indonesia saat ini mengekspor berbagai produk manufaktur ke Maroko, antara lain minyak nabati, karet beserta turunannya, alas kaki, tekstil, mesin dan peralatan listrik, serta komoditas unggulan seperti kopi, teh, dan rempah-rempah.
Sebaliknya, Indonesia mengimpor sejumlah kebutuhan industri dari Maroko, termasuk pupuk, aluminium, tekstil, dan berbagai bahan baku manufaktur lainnya.
Dalam rangka memperkuat kerja sama tersebut, Faisol Riza juga telah menggelar pertemuan dengan Wakil Menteri yang membidangi Perdagangan Luar Negeri Maroko, Omar Hejira.
Pertemuan itu menghasilkan komitmen bersama untuk mempercepat penguatan kerja sama di sektor industri halal.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Mutual Recognition Agreement (MRA) Sertifikasi Halal antara Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Indonesia dan Moroccan Institute of Standardization (IMANOR) pada Mei 2026.
Melalui kesepakatan tersebut, produk halal Indonesia diharapkan dapat lebih mudah memasuki pasar Maroko tanpa harus menjalani proses sertifikasi ulang. Selain itu, kerja sama tersebut juga diyakini akan membuka peluang investasi dan pengembangan industri halal di kedua negara.
Sebagai tindak lanjut, Kemenperin mengundang Pemerintah Maroko untuk berpartisipasi dalam Halal Expo 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada September mendatang.
Keikutsertaan Maroko diharapkan mampu memperluas jejaring bisnis, mempertemukan pelaku industri dari kedua negara, sekaligus membuka peluang investasi dan perdagangan produk halal yang lebih besar di masa depan. [DR]