Dari Bendungan hingga B50, Prabowo Dorong Indonesia Mandiri Energi dan Sejahtera

Jum'at, 10 Juli 2026 21:42 WIB
Presiden Prabowo Subianto menghadiri peresmian pembangunan lima bendungan nasional di Bendungan Meninting, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Jumat, 10 Juli 2026. (IDNVoice/Diskomfotik NTB)
Presiden Prabowo Subianto menghadiri peresmian pembangunan lima bendungan nasional di Bendungan Meninting, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Jumat, 10 Juli 2026. (IDNVoice/Diskomfotik NTB)

IDNVoice.com - Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan lima bendungan serta keberhasilan Indonesia mengimplementasikan bahan bakar biodiesel B50 merupakan bukti nyata kerja keras pemerintah dalam mengelola kekayaan bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri dan makmur.

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden saat meresmikan lima bendungan yang dipusatkan di Bendungan Meninting, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Jumat. Dalam sambutannya, Prabowo mengaitkan pembangunan infrastruktur sumber daya air dengan capaian pemerintah dalam memperkuat kemandirian energi nasional.

Presiden mengungkapkan bahwa pembangunan lima bendungan tersebut merupakan investasi besar negara yang akan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan dan pengelolaan sumber daya air.

"Lima bendungan yang kita resmikan hari ini adalah investasi negara sekitar Rp9,79 triliun. Kemarin adalah hari yang sangat bersejarah, saya meresmikan launching Indonesia negara pertama di dunia yang bisa membuat solar dari tanaman nabati, dari kelapa sawit," kata Prabowo pada Jumat, 10 Juli 2026.

Prabowo menjelaskan, sehari sebelumnya pemerintah telah meluncurkan implementasi B50, menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang mampu memproduksi bahan bakar diesel berbasis minyak sawit dengan campuran 50 persen.

Menurut Presiden, implementasi B50 menjadi tonggak penting dalam upaya mewujudkan kemandirian energi nasional. Kebijakan tersebut juga menandai dimulainya penghentian ketergantungan terhadap impor solar dari luar negeri.

Ia menyebut langkah strategis tersebut diperkirakan mampu menghemat anggaran negara hingga Rp170 triliun setiap tahun. Dana yang sebelumnya digunakan untuk impor energi dapat dialihkan untuk membiayai berbagai program pembangunan yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Presiden menilai keberhasilan pembangunan infrastruktur dan penguatan sektor energi tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang berorientasi pada kepentingan rakyat. Karena itu, pemerintah akan terus mengedepankan efisiensi pengelolaan anggaran serta memperkuat tata kelola pemerintahan yang bersih.

Menurutnya, semakin efisien pengelolaan keuangan negara dan semakin kecil kebocoran anggaran akibat praktik korupsi, maka semakin besar pula kemampuan pemerintah untuk membiayai pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Yang kita perjuangkan adalah meraih kemakmuran untuk rakyat Indonesia dengan mengurangi, kalau bisa menghabisi korupsi, melakukan penghematan, melakukan efisiensi. Ini perjuangan kita untuk Indonesia makmur," tegas Presiden Prabowo.

Presiden menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur, penguatan ketahanan energi, efisiensi anggaran, dan pemberantasan korupsi merupakan satu kesatuan strategi pemerintah dalam mewujudkan Indonesia yang lebih mandiri, berdaya saing, dan sejahtera bagi seluruh rakyat. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid