KKP Genjot 1.269 KNMP, Trenggono Klaim Dongkrak Ekonomi dan Ekspor

Jum'at, 03 Juli 2026 00:14 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan (KP), Sakti Wahyu Trenggono. (IDNVoice/Instagram-swtrenggono)
Menteri Kelautan dan Perikanan (KP), Sakti Wahyu Trenggono. (IDNVoice/Instagram-swtrenggono)

IDNVoice.com - Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono meyakini Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) akan menjadi mesin baru penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya di wilayah pesisir. Program tersebut dinilai mampu mentransformasi desa nelayan menjadi kawasan yang produktif, modern, dan berdaya saing, sekaligus mendorong pemerataan ekonomi serta pengentasan kemiskinan.

Hal itu disampaikan Trenggono dalam Rapat Koordinasi Nasional Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) Sektor Kelautan dan Perikanan Tahun 2026 di Jakarta pada Kamis, 2 Juli 2026.

Menurutnya, pembangunan sektor kelautan dan perikanan harus dimulai dari desa-desa pesisir agar mampu berkembang menjadi pusat-pusat ekonomi baru sekaligus menopang ketahanan pangan nasional.

"Program Kampung Nelayan Merah Putih merupakan salah satu strategi transformasi desa nelayan menjadi kawasan produktif dan modern, dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru di wilayah pesisir dengan proyeksi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 hingga 16,2 persen," ujar Trenggono.

Ia menjelaskan, implementasi KNMP telah dimulai sejak 2023 melalui proyek percontohan di Kampung Samber-Binyeri yang menunjukkan hasil menggembirakan. Program tersebut berhasil meningkatkan nilai tukar nelayan hingga 113,2 persen, penjualan ikan sebesar 47 persen, serta produksi tangkapan mencapai 103 persen.

Menurut Trenggono, peningkatan tersebut berdampak langsung terhadap kesejahteraan nelayan dengan kenaikan pendapatan hingga 78 persen.

Tidak hanya itu, akses pemasaran hasil perikanan juga semakin luas. Jika sebelumnya hanya dipasarkan di tingkat lokal, kini distribusi telah menjangkau Bitung, Jakarta, Semarang, dan Surabaya dengan total volume mencapai 295 ton. Bahkan, sebagian besar hasil produksi telah berhasil menembus pasar ekspor.

"Dulu penjualannya hanya di pasar lokal, sekarang sudah hampir 90 persen ekspor," katanya.

Trenggono menjelaskan pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih dilakukan melalui tiga tahapan utama, yakni peningkatan produktivitas, peningkatan kualitas, dan keberlanjutan.

Pada tahap keberlanjutan, masyarakat pesisir didorong melakukan diversifikasi usaha melalui pengembangan budidaya laut yang dinilai memiliki prospek besar. Model bisnis KNMP juga dirancang agar nelayan tidak hanya bergantung pada aktivitas penangkapan ikan, tetapi memperoleh dukungan pembiayaan, fasilitas operasional, hingga akses pasar domestik maupun ekspor.

Saat ini, kata Trenggono, terdapat 65 Kampung Nelayan Merah Putih yang sedang menjalani proses transformasi operasional. Secara paralel, pemerintah juga menargetkan pembangunan 1.269 kampung nelayan di berbagai wilayah Indonesia pada tahun ini.

Menurutnya, pembangunan sektor kelautan dan perikanan merupakan bagian dari implementasi Asta Cita Presiden, terutama dalam mewujudkan pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.

Untuk itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan terus menjalankan kebijakan ekonomi biru melalui sejumlah program prioritas, meliputi perluasan kawasan konservasi laut, penangkapan ikan terukur berbasis kuota, pengembangan budidaya berkelanjutan, pengawasan pesisir dan pulau-pulau kecil, serta penanganan sampah plastik di laut.

Trenggono menegaskan kawasan konservasi laut menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya kelautan Indonesia di masa depan.

Selain KNMP, pemerintah juga mengembangkan budidaya ikan darat tematik di hingga 40 ribu titik yang tersebar di 500 kawasan. Program tersebut dinilai strategis untuk meningkatkan produksi protein nasional tanpa menambah tekanan terhadap kawasan hutan maupun lahan.

Di sektor pergaraman, KKP menargetkan peningkatan produksi garam industri melalui program swasembada garam dengan strategi ekstensifikasi dan intensifikasi. Program ini diharapkan mampu menghasilkan sekitar 400 ribu ton garam berkualitas industri dengan kadar NaCl di atas 97 persen setiap tahun guna mengurangi ketergantungan impor yang saat ini masih mencapai sekitar 2,7 juta ton per tahun.

Pemerintah juga terus mengembangkan kawasan tambak udang terintegrasi di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, sebagai pusat budidaya udang modern dari hulu hingga hilir. Selain itu, revitalisasi tambak di Pantai Utara (Pantura) Jawa seluas sekitar 14.090 hektare juga terus dilakukan dan diintegrasikan dengan rehabilitasi kawasan mangrove.

Tak hanya itu, pemerintah juga akan memodernisasi sebanyak 4.582 unit kapal perikanan untuk meningkatkan daya saing sektor penangkapan ikan sekaligus mendongkrak penerimaan negara melalui devisa, pajak, dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP). [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid