KDKMP Disiapkan Jadi Jalur Distribusi Produk UMKM, Wamenkop Bidik Pasar Nasional hingga Ekspor

Minggu, 28 Juni 2026 18:56 WIB
Wakil Menteri Koperasi Republik Indonesia (Wamenkop RI) Farida Farichah berkunjung ke UMKM Sasak Maiq di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Sabtu,27 Juni 2026. (IDNVoice/Kemenkop)
Wakil Menteri Koperasi Republik Indonesia (Wamenkop RI) Farida Farichah berkunjung ke UMKM Sasak Maiq di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Sabtu,27 Juni 2026. (IDNVoice/Kemenkop)

IDNVoice.com - Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop) Farida Farichah mendorong Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) menjadi jalur distribusi utama bagi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Melalui jaringan koperasi tersebut, produk unggulan daerah diharapkan mampu menjangkau pasar yang lebih luas, tidak hanya bergantung pada penjualan di wilayah asal.

Hal itu disampaikan Farida saat mengunjungi UMKM Sasak Maiq di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (27 Juni 2026), sebagaimana dikutip dari keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Minggu.

Ia menjelaskan KDKMP tidak hanya dibangun sebagai sarana pelayanan masyarakat desa, tetapi juga diproyeksikan menjadi pusat konsolidasi sekaligus pemasaran produk-produk unggulan daerah.

"Kita ingin produk ini terkonsolidasi dan didistribusikan ke seluruh jaringan koperasi di NTB, bahkan nasional," katanya pada Minggu, 28 Juni 2026.

Menurut Farida, keberadaan jaringan KDKMP di berbagai daerah akan memperpendek rantai pemasaran sehingga produk UMKM memiliki akses yang lebih luas ke pasar.

Selain berfungsi sebagai jalur distribusi produk lokal, KDKMP juga akan menjadi penyedia kebutuhan pokok masyarakat desa, seperti beras, minyak goreng, dan pupuk, dengan harga yang lebih terjangkau karena memotong rantai distribusi yang panjang.

Farida juga menyoroti manfaat yang dapat diperoleh pelaku UMKM apabila bergabung sebagai anggota koperasi. Salah satunya adalah akses pembiayaan melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) dengan bunga sekitar 6 persen per tahun.

Menurutnya, pembiayaan tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas produksi maupun investasi peralatan usaha agar UMKM lebih siap memenuhi permintaan pasar.

"Fungsinya, saat bergabung di koperasi, bapak-ibu bisa akses pembiayaan bunga rendah untuk meningkatkan produksi atau membeli alat baru. Ada juga ruang agregasi untuk saling bertukar informasi pasar," ujarnya.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas impor, Farida mengajak pelaku UMKM memaksimalkan penggunaan bahan baku lokal guna memperkuat daya tahan usaha.

Ia menilai sektor UMKM relatif lebih tangguh menghadapi gejolak ekonomi karena lebih dekat dengan sumber daya lokal dibandingkan industri yang bergantung pada bahan baku impor.

Selain itu, pemerintah terus mendorong produk-produk UMKM daerah agar mampu menembus pasar ekspor melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Smesco Indonesia dan Kementerian Perdagangan.

Wamenkop pun mengajak pelaku UMKM di Lombok mulai membidik pasar internasional. Ia mencontohkan keberhasilan koperasi di daerah lain yang telah berhasil mengekspor produk kuliner lokal ke Malaysia dan Singapura.

"Kami di Kementerian Koperasi akan berkomunikasi dengan pihak terkait, seperti Smesco dan Kementerian Perdagangan, agar UMKM kita tidak hanya jago kandang, tapi juga bisa menembus pasar internasional," kata Farida. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid