IDNVoice.com - Melimpahnya produksi telur ayam ras di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, belum sepenuhnya menjamin kesejahteraan peternak lokal. Di tengah produksi yang mencapai ribuan kilogram per pekan, para peternak justru menghadapi tekanan akibat kenaikan harga pakan dan anjloknya harga jual telur hingga Rp20.000.
Kondisi tersebut turut dialami peternak di Desa Kaliwedi, Kecamatan Gondang, yang memiliki kapasitas produksi sekitar 1,5 ton telur per minggu. Kepala Desa Kaliwedi, Daryono, mengungkapkan terdapat peternak dengan populasi ribuan ayam petelur yang mampu menghasilkan sekitar 2,5 kuintal telur setiap hari.
"Terjadi lonjakan harga pakan seperti jagung, dan bekatul yang cukup mahal. Di sisi lain, harga telur justru turun hingga menyentuh angka Rp20.000, yang menyebabkan kerugian luar biasa bagi para peternak lokal," ucap Daryono pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Desa Kaliwedi berinisiatif berkoordinasi dengan pengurus Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) untuk mengajukan penyerapan telur peternak lokal melalui Mitra Pangan Desa (MPD) atau satuan pelayanan di seluruh wilayah Kecamatan Gondang. Upaya ini diharapkan membuka akses pasar yang lebih luas, terutama untuk memenuhi kebutuhan telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam skema yang disiapkan, koperasi berencana mengajukan harga pembelian sekitar Rp24.000 per kilogram atau di bawah harga acuan pemerintah (HAP) yang disebut berada di kisaran Rp26.500 per kilogram. Sementara itu, harga penyerapan dari peternak lokal direncanakan sekitar Rp23.000 per kilogram agar hasil produksi mereka tetap terserap dengan harga yang lebih layak.
"Langkah ini bertujuan agar koperasi dapat membeli dari peternak dengan harga sekitar Rp23.000 sehingga harga tidak terlalu hancur dan peternak lokal tertolong," kata Daryono.
Pemerintah Desa Kaliwedi menargetkan penyusunan surat permohonan dan koordinasi bersama pengurus koperasi dapat segera rampung sehingga usulan tersebut bisa disampaikan pada awal pekan berikutnya. Pemerintah desa juga mendorong Koperasi Merah Putih berperan aktif membina peternak setempat, termasuk kelompok yang bekerja sama dengan badan usaha milik desa (BUMDes) maupun kelompok pemuda dan masyarakat.
"Koperasi Merah Putih dikoordinasikan untuk membina peternak setempat, baik yang bekerja sama dengan Bumdes maupun kelompok pemuda/masyarakat. Dengan dukungan berbagai pihak, MPD di Kecamatan Gondang lebih terbuka dan merespons," kata Daryono.
Ia menambahkan, persoalan serupa saat ini dihadapi sekitar 15 desa yang berkonsentrasi pada sektor ketahanan pangan. Karena itu, pemerintah desa berencana menghadap Wakil Bupati Sragen selaku Ketua Satgas MBG untuk mencari solusi bersama, termasuk mendorong kolaborasi antara BUMDes dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
"Tentunya agar Bumdes yang konsen ke sektor ketahanan pangan tidak kewalahan dan hancur. Tapi bisa kolaborasi dengan SPPG," pungkasnya.
Melalui sinergi pemerintah desa, koperasi, BUMDes, MPD, dan SPPG, penyerapan telur lokal diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas harga di tingkat peternak sekaligus memperkuat rantai pasok pangan untuk program MBG. Dengan demikian, potensi peternakan desa tidak hanya menghasilkan produksi melimpah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat. [DR]