Manajer KDKMP Blora Dorong Koperasi Jadi Penggerak Ekonomi Desa

Minggu, 04 Oktober 2026 16:20 WIB
Petugas Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Desa Sarirejo, Kecamatan Bogorejo Kabupaten Blora, Jawa Tengah, saat melayani konsumen. Koperasi tersebut menjadi salah satu bentuk pengembangan unit usaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. (IDNVoice/Antara Foto)
Petugas Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Desa Sarirejo, Kecamatan Bogorejo Kabupaten Blora, Jawa Tengah, saat melayani konsumen. Koperasi tersebut menjadi salah satu bentuk pengembangan unit usaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. (IDNVoice/Antara Foto)

IDNVoice.com - Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, didorong tidak berhenti sebagai lembaga administratif. Koperasi diharapkan mampu menjadi penggerak aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus menghubungkan potensi desa dengan pasar dan berbagai sumber pembiayaan.

Manajer KDKMP Desa Sarirejo, Kecamatan Bogorejo, Dwi Febri Irawan, mengatakan manajer memiliki posisi strategis dalam mengembangkan bisnis koperasi berbasis potensi lokal.

"Manajer memiliki peran strategis dalam menghubungkan potensi ekonomi desa dengan anggota, pasar, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta berbagai sumber pembiayaan. Sehingga harus menjadi penggerak bisnis. Bukan hanya mengurus administrasi koperasi, tetapi mampu membaca potensi desa dan mengembangkannya menjadi peluang usaha," kata Febri di Blora pada Sabtu, 3 Oktober 2026.

Febri mengatakan dirinya telah mengikuti pelatihan dan pendidikan bagi manajer Kopdes selama sekitar satu setengah bulan di Jakarta, mulai 15 Juni hingga 31 Agustus.

Menurut Febri, langkah awal yang harus dilakukan manajer adalah memetakan potensi ekonomi desa, mulai dari komoditas pertanian, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kebutuhan masyarakat, hingga sumber daya lokal yang dapat dikembangkan.

Potensi tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi berbagai unit usaha koperasi. Di antaranya perdagangan sarana produksi pertanian, pemasaran hasil pertanian, distribusi kebutuhan pokok, jasa, pergudangan, hingga pengolahan pascapanen.

Salah satu contoh mulai diterapkan KDKMP Desa Sarirejo melalui keterlibatannya dalam distribusi kebutuhan pangan untuk mendukung operasional SPPG di desa setempat.

"Pertama, Kopdes mengambil beras dari Bulog sebanyak satu ton dan minyak goreng Fortune sebanyak 30 dus untuk disalurkan ke SPPG Sarirejo. Kebutuhan minyak goreng Fortune sekitar empat sampai lima karton per hari," katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan barang berikutnya, KDKMP juga mendapatkan pasokan dari pihak lain, termasuk Agrinas. Pengelolaan distribusi dilakukan sesuai mekanisme kerja sama dan pelaporan yang telah ditetapkan.

Menurut Febri, keterlibatan tersebut menunjukkan KDKMP memiliki peluang menjadi penghubung antara penyedia barang, masyarakat, dan unit layanan ekonomi di desa.

Febri menilai KDKMP juga dapat memperkuat posisi masyarakat desa dalam mengakses pasar. Koperasi tidak hanya berperan menyediakan kebutuhan produksi, tetapi juga membantu masyarakat memasarkan produk yang mereka hasilkan.

"Kalau masyarakat mampu memproduksi tetapi kesulitan memasarkan, koperasi bisa menjadi penghubung dengan pasar. Dengan begitu, posisi tawar anggota juga bisa lebih kuat," katanya.

Ia mencontohkan desa dengan jumlah petani yang besar. Dalam kondisi tersebut, koperasi tidak cukup hanya menyediakan pupuk atau kebutuhan produksi.

Manajer KDKMP dapat mengonsolidasikan kebutuhan anggota, membantu meningkatkan standar produksi, menampung hasil panen, mencari pembeli, hingga mengatur distribusi.

Dengan pola itu, koperasi dapat terlibat dalam rantai ekonomi mulai dari penyediaan kebutuhan produksi hingga pemasaran hasil. Nilai tambah dari aktivitas ekonomi masyarakat pun diharapkan dapat lebih banyak berputar di desa.

Manajer KDKMP Harus Kuasai Bisnis dan Keuangan

Selain kemampuan bisnis, Febri menilai manajer KDKMP harus memiliki kemampuan mengelola keuangan. Kemampuan tersebut meliputi penyusunan anggaran, pengelolaan arus kas, pencatatan transaksi, pengendalian biaya, hingga analisis kelayakan usaha.

Manajer KDKMP juga perlu membangun kemitraan dengan pemerintah daerah, BUMN, BUMD, perbankan, distributor, pelaku usaha, hingga offtaker untuk memperluas akses pasar dan pembiayaan.

"Manajer harus mampu membangun jaringan. Koperasi tidak bisa berjalan sendiri tanpa kemitraan," ujarnya.

Kemampuan digital juga dinilai semakin penting dalam pengelolaan KDKMP, terutama untuk pencatatan keuangan, pengelolaan inventori, pembayaran, pemasaran, dan pelaporan.

Sementara dari sisi kualifikasi, seorang manajer KDKMP tidak cukup hanya memiliki latar belakang pendidikan tertentu. Kemampuan manajemen, bisnis, keuangan, pemahaman mengenai koperasi, kepemimpinan, komunikasi, serta integritas juga menjadi faktor penting.

"Yang paling penting adalah kombinasi antara kemampuan bisnis dan pemahaman terhadap prinsip koperasi, serta integritas dalam mengelola usaha dan keuangan," katanya.

Febri berharap KDKMP dapat berkembang menjadi institusi ekonomi yang memberikan manfaat bagi anggota dan masyarakat, bukan sekadar menjalankan fungsi administratif.

Menurutnya, pola yang perlu dibangun adalah mengonsolidasikan potensi desa melalui anggota, kemudian mengembangkannya menjadi produk bernilai tambah, membuka akses pasar, dan menghasilkan transaksi melalui koperasi.

"Tujuan akhirnya bagaimana koperasi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi desa dan memberikan manfaat kembali kepada anggota," ujarnya. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid