IDNVoice.com - Pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menyinggung pemilu dalam pidato HUT ke-25 Partai Demokrat mendapat respons dari sejumlah partai politik. Partai Gerindra meminta seluruh pihak saat ini lebih fokus menuntaskan pekerjaan pemerintahan, sementara Partai Golkar melihat pidato tersebut sebagai sinyal AHY siap menjadi kontestan pada Pilpres mendatang.
Juru Bicara Partai Gerindra Sugiat Santoso mengatakan pelaksanaan Pemilu 2029 masih cukup jauh. Menurut dia, seluruh partai politik semestinya mengutamakan kerja-kerja yang menjadi amanah masyarakat, terlebih Demokrat saat ini masih berada dalam koalisi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
"Saya berharap setiap kita fokus saja menuntaskan kerja-kerja kita yang diamanahkan kepada kita, baik di legislatif maupun di eksekutif. Kalau terkait dengan pemilu kan masih lama kan," kata Sugiat pada Senin, 7 September 2026.
"Nah, apalagi kan Demokrat, Mas AHY adalah bagian dari pemerintahan," imbuhnya.
Sugiat berharap seluruh elemen politik dapat bersama-sama membantu pemerintahan Prabowo menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Menurut dia, perhatian terhadap kebutuhan rakyat justru menjadi modal penting bagi partai politik untuk meningkatkan kepercayaan dan dukungan publik.
Apalagi, kata Sugiat, Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Presiden Prabowo Subianto selama ini tidak pernah membahas persoalan pemilu dalam internal partainya.
"Saya yakin dan percaya partai mana pun yang berhasil katakanlah menuntaskan persoalan-persoalan rakyat, nanti secara otomatis elektoralnya pasti meningkat itu nggak usah khawatir terhadap itu," katanya.
Sebelumnya, AHY dalam pidatonya pada peringatan HUT ke-25 Partai Demokrat di kantor DPP Partai Demokrat, Sabtu (5 September 2026), menyinggung sejumlah persoalan terkait pemilu dan kekuasaan.
AHY meminta seluruh kader Demokrat yang berada di eksekutif, legislatif, maupun kepala daerah untuk tetap peka dan jujur terhadap kondisi yang dirasakan masyarakat di lapangan.
Ia juga menekankan pentingnya profesionalisme serta netralitas seluruh alat dan aparatur negara, terutama dalam penyelenggaraan pemilu.
Menurut AHY, TNI, Polri, intelijen, penegak hukum, Aparatur Sipil Negara (ASN), serta seluruh aparatur negara harus berdiri di atas semua golongan dan tidak berpihak dalam politik praktis.
"Kita patut belajar dari 10 tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, termasuk ketika pergantian kekuasaan berlangsung damai dan demokratis setelah dua periode. Kekuasaan bukan milik seseorang untuk selamanya. Kekuasaan adalah amanah rakyat yang memiliki batas waktu," katanya.
Berbeda dengan Gerindra, Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia justru membaca pidato AHY sebagai sinyal politik menuju kontestasi Pilpres mendatang.
Doli meyakini AHY bakal menjadi salah satu kontestan dalam pemilihan presiden berikutnya. Ia juga menyatakan sepenuhnya setuju dengan pesan AHY mengenai kekuasaan sebagai amanah rakyat yang memiliki batas waktu.
Namun, Doli melihat ada pesan politik lain yang tersirat dari cara AHY menyampaikan pidatonya.
"Namun, dilihat dari nuansa penyampaian, gestur, dan standing position-nya, AHY seperti memberi signal kuat bahwa beliau siap menjadi salah seorang contender dalam Pilpres mendatang," kata Doli pada Senin, 7 September 2026.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa pidato AHY tidak hanya dibaca sebagai refleksi perjalanan 25 tahun Partai Demokrat, tetapi juga mulai dikaitkan dengan arah politik menuju Pemilu 2029. [DR]