BGN Uji Coba Pantau 70 Dapur MBG Lewat CCTV Berbasis AI, SOP hingga Kebersihan Diawasi

Selasa, 20 Oktober 2026 10:48 WIB
Ilustrasi: Logo Badan Gizi Nasional (BGN). IDNVoice/Istimewa)
Ilustrasi: Logo Badan Gizi Nasional (BGN). IDNVoice/Istimewa)

IDNVoice.com – Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji coba sistem pengawasan terpusat berbasis kamera pengawas atau CCTV yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di sekitar 70 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Langkah ini dilakukan untuk memperketat pengawasan operasional dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai dari pengolahan makanan hingga kebersihan peralatan.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, seluruh dapur SPPG sebenarnya telah dilengkapi CCTV. Namun, selama ini perangkat tersebut lebih banyak digunakan untuk pemantauan internal masing-masing dapur dan belum terintegrasi secara terpusat.

“Ada sekitar 70-an dapur yang kita piloting untuk CCTV-nya kita tarik ke pusat, kita kasih artificial intelligence (AI) sehingga kita bisa memonitor standar operasional prosedur (SOP),” ujarnya seusai rapat koordinasi di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta pada Senin, 19 Okktober 2026.

Melalui sistem tersebut, BGN ingin meningkatkan kemampuan pengawasan terhadap pelaksanaan standar operasional prosedur (SOP) di setiap dapur yang melayani program MBG.

Pemantauan mencakup berbagai tahapan operasional, mulai dari persiapan bahan makanan, proses pengolahan, hingga pencucian ompreng atau wadah makanan yang digunakan untuk mendistribusikan hidangan kepada penerima manfaat.

Selain itu, sistem pengawasan juga diarahkan untuk memantau praktik kebersihan petugas selama menangani dan mengolah bahan makanan.

Sudaryono berharap pemanfaatan CCTV yang terintegrasi dengan AI dapat membantu mengidentifikasi ketidakpatuhan terhadap SOP sehingga perbaikan bisa dilakukan secara lebih cepat dan menyeluruh.

Sudaryono menegaskan, pengawasan operasional dapur MBG tidak hanya ditujukan kepada relawan atau petugas yang mengolah makanan. Kepala dapur dan mitra yayasan yang terlibat dalam pengelolaan SPPG juga menjadi bagian dari evaluasi.

 

Menurutnya, kepatuhan terhadap SOP harus menjadi tanggung jawab seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan layanan pemenuhan gizi.

“Dengan adanya CCTV, kemudian kita bisa benahi semua, ketaatan dari SOP, dari mulai relawannya, kepala dapurnya, kemudian mitra yayasannya,” ujarnya.

Dengan pengawasan yang lebih terintegrasi, BGN berharap berbagai kekurangan dalam operasional dapur dapat teridentifikasi sehingga pembenahan tidak hanya dilakukan terhadap petugas di lapangan, tetapi juga terhadap tata kelola pengelolaan SPPG.

Penerapan teknologi tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pengawasan terhadap kualitas proses penyediaan makanan dalam program MBG.

Dalam penerapan sistem pengawasan terpusat, Sudaryono memastikan BGN berupaya memanfaatkan perangkat CCTV yang telah tersedia di setiap dapur.

Dengan demikian, integrasi sistem diharapkan dapat dilakukan tanpa harus mengadakan perangkat baru dalam jumlah besar yang berpotensi membutuhkan anggaran tambahan.

“Kami berusaha bagaimana mengkoneksikan saja CCTV yang sudah ada di setiap dapur itu. Insyaallah tidak akan ada pengadaan yang bombastis,” tuturnya.

BGN mengupayakan agar perangkat yang telah terpasang dapat dihubungkan dengan pusat pemantauan, kemudian didukung teknologi AI untuk membantu pengawasan kepatuhan terhadap SOP.

Uji coba pada sekitar 70 SPPG tersebut menjadi langkah awal penerapan sistem pengawasan berbasis teknologi untuk mendukung pengelolaan dapur MBG. Hasil pelaksanaannya diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi penguatan pengawasan operasional SPPG ke depan. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid