2,95 Juta Peserta Cek Kesehatan Gratis Alami Gangguan Mata, PERDAMI Ingatkan Ancaman Produktivitas

Selasa, 13 Oktober 2026 20:36 WIB
Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) dr. Budu di Jakarta pada Selasa, 13 Oktober 2026. (IDNVoice/Antara Foto)
Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) dr. Budu di Jakarta pada Selasa, 13 Oktober 2026. (IDNVoice/Antara Foto)

IDNVoice.com – Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) mengungkapkan sekitar 2,95 juta orang dari 23,35 juta peserta program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada 2025–2026 mengalami gangguan mata. Kondisi ini menjadi perhatian karena gangguan penglihatan yang tidak ditangani dapat berujung pada kebutaan permanen hingga menurunkan produktivitas masyarakat.

Ketua Umum Pengurus Pusat PERDAMI, dr. Budu, di Jakarta, Selasa, mengatakan banyak orang tidak menyadari bahwa mereka mengalami gangguan penglihatan. Akibatnya, pemeriksaan dan penanganan kerap ditunda hingga kondisi semakin parah.

"3,0 persen prevalensi kebutaan itu pada usia di atas 50 tahun, 81,2 persen itu oleh karena katarak," kata Budu pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Ia juga menyebutkan, berdasarkan survei Kementerian Kesehatan, terdapat sekitar 600 ribu hingga 650 ribu kasus kebutaan akibat katarak. Karena itu, pemerintah berupaya memperkuat skrining kesehatan mata secara nasional untuk mendeteksi gangguan sejak dini dan mencegah kebutaan.

Menurut Budu, persoalan kesehatan mata tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melihat, tetapi juga berdampak langsung terhadap perekonomian, keselamatan, pendidikan, dan kehidupan sosial.

Budu mengutip perhitungan International Agency for the Prevention of Blindness yang menunjukkan besarnya potensi kerugian ekonomi akibat gangguan penglihatan.

"Dihitung oleh International Agency for Prevention Blindness itu bahwa ada 411 juta USD itu miliar ya, produktivitas kita, akan hilang. Bahkan jika dihitung per hari itu akan hilang 1,1 miliar USD," katanya.

Selain mengurangi produktivitas, gangguan penglihatan juga meningkatkan risiko kecelakaan. Menurut dia, risiko kecelakaan pada orang dengan gangguan kesehatan mata mencapai 2,6 kali lebih tinggi.

Dampak lainnya menyasar anak-anak, terutama dalam memperoleh pendidikan. Budu mengatakan gangguan penglihatan dapat mengurangi peluang anak untuk menempuh pendidikan dibandingkan anak-anak yang memiliki penglihatan baik.

"Ketiga, adalah mempertaruhkan masa depan anak-anak kita adanya gangguan penglihatan maka peluang menempuh pendidikan itu itu turun menjadi lebih rendah 5 kali lebih kecil dibanding anak-anak dengan penglihatan baik," katanya.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya deteksi dan penanganan gangguan mata sejak dini, baik pada anak-anak, kelompok usia produktif, maupun lansia.

Budu menjelaskan, sebagian penyebab kebutaan dan gangguan penglihatan sebenarnya dapat dicegah atau ditangani apabila terdeteksi lebih awal.

"Penyebab utama kebutaan atau penyebab utama gangguan penglihatan itu sesungguhnya pada awalnya sangat mudah ditangani sangat mudah dicegah," kata Budu.

Ia menambahkan, secara global terdapat sekitar 510 juta orang yang mengalami gangguan refraksi dekat yang belum terkoreksi dan 161 juta orang mengalami gangguan refraksi jauh yang belum terkoreksi. Selain itu, sekitar 100 juta orang memiliki katarak yang belum menjalani operasi.

PERDAMI juga menyoroti sejumlah penyebab gangguan penglihatan lainnya, yakni degenerasi makula yang dialami sekitar 8,1 juta orang, glaukoma sebanyak 7,8 juta orang, serta retinopati diabetik yang mencapai 4,4 juta orang.

Budu menuturkan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ingin meningkatkan angka harapan hidup masyarakat Indonesia. Salah satu upaya yang diperlukan untuk mendukung target tersebut adalah memperkuat penanganan kebutaan, termasuk memfasilitasi operasi katarak bagi kelompok lanjut usia.

Senada dengan PERDAMI, Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Andi Saguni menegaskan bahwa pelayanan kesehatan mata tidak boleh berhenti pada pemeriksaan atau skrining semata.

Menurut dia, hasil skrining harus ditindaklanjuti melalui layanan kesehatan yang terintegrasi agar masyarakat memperoleh penanganan sesuai kebutuhan dan kompetensi fasilitas kesehatan.

"Investasi pada kesehatan mata sesungguhnya adalah investasi pada kualitas sumber daya manusia Indonesia," katanya.

Andi mengimbau masyarakat agar tidak menunggu hingga penglihatan mengalami gangguan serius untuk memeriksakan mata. Masyarakat perlu mengenali tanda-tanda gangguan penglihatan, melakukan skrining dan pemeriksaan secara berkala, serta segera menjalani tindak lanjut apabila ditemukan masalah.

Penguatan skrining dan akses pengobatan diharapkan dapat mencegah gangguan penglihatan berkembang menjadi kebutaan permanen. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas hidup, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid