IDNVoice.com – Sebanyak 74 siswa dan guru di SMAN 3 Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, mengalami gangguan kesehatan berupa sakit perut, mual, dan muntah. Mereka diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), meski penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan.
Kepala SMAN 3 Toraja Utara, Lukas Tandibadoang, mengatakan gejala tersebut dialami para siswa dan guru pada Kamis (8 Oktober 2026) sekitar pukul 10.00 Wita.
Dari total 74 orang yang mengalami gejala, sebanyak 68 merupakan siswa, lima guru, dan satu staf sekolah. Mereka langsung dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis.
"Total yang mengalami gejala ada 74 orang, (rinciannya) siswa 68, 5 guru dan 1 staf kita. Itu langsung kita bawa ke Puskesmas. Berdasarkan data dari puskesmas, 69 orang yang dirawat," ujar Lukas dikutip dari detikSulsel pada Jumat, 9 Oktober 2026.
Lukas menjelaskan, munculnya gejala tersebut terjadi sehari setelah para siswa dan guru menyantap menu MBG yang dibagikan pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Meski demikian, pihak sekolah belum dapat memastikan bahwa kejadian tersebut berkaitan dengan program MBG. Pasalnya, pada saat gejala mulai muncul pada Kamis pagi, makanan MBG untuk hari itu belum diantarkan ke sekolah.
"Kita belum pastikan keracunan MBG karena mereka belum konsumsi menu MBG hari itu. Kejadiannya kan jam 10.00 Wita, waktu itu MBG belum diantarkan karena jadwal kita di sini sekitar jam 12.00 Wita. Hanya saja kejadiannya massal," ungkapnya.
Lukas menyebutkan, menu MBG yang dikonsumsi para siswa dan guru pada Rabu (7 Oktober 2026) terdiri atas nasi putih, daging ayam, sayur pare, kacang panjang, dan buah melon.
Dia mengaku tidak mengetahui secara pasti metode pengolahan daging ayam yang disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Namun, dia memastikan lauk tersebut tidak berkuah dan bukan ayam goreng.
"Menunya ada nasi putih, lauknya itu ayam, saya tidak tahu masak apa tapi tidak ada kuah, dan bukan juga digoreng. Kemudian ada sayur kacang panjang sama paria lalu buah melon," tutur Lukas.
Kejadian yang dialami puluhan warga sekolah tersebut menjadi perhatian karena gejala muncul secara bersamaan, meskipun hubungan antara keluhan kesehatan dan makanan MBG yang dikonsumsi belum dapat dipastikan.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Toraja Utara sekaligus Ketua Satgas MBG Toraja Utara, Salvius Pasang, mengatakan sebagian besar warga sekolah yang mengalami gejala telah mendapatkan penanganan medis.
Hingga Jumat (9 Oktober 2026), masih terdapat satu siswa yang menjalani perawatan di puskesmas. Namun, pemerintah daerah belum dapat menyimpulkan apakah kejadian tersebut merupakan keracunan makanan.
Salvius menjelaskan, sampel terkait kejadian tersebut telah dikirimkan ke Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) untuk diperiksa.
"Kejadiannya kemarin memang dan tinggal satu siswa yang masih di puskesmas. Kita belum bisa pastikan keracunan atau bukan karena sampelnya baru kita kirim ke BBPOM tadi malam," ujar Salvius.
Pemeriksaan sampel diharapkan dapat membantu mengungkap penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa dan guru SMAN 3 Toraja Utara. Hingga hasil pemeriksaan keluar, dugaan keracunan akibat konsumsi MBG masih belum dapat dipastikan. [DR]