Iran Tegaskan Tak Gentar Hadapi AS, Siap Tempur dan Negosiasi

Senin, 05 Oktober 2026 10:15 WIB
Seorang pria berjalan di depan mural dinding saat kehidupan sehari-hari berlanjut di tengah ketegangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat di Teheran, Iran, pada 6 Agustus 2026.(IDNVoice/Anadolu Agency)
Seorang pria berjalan di depan mural dinding saat kehidupan sehari-hari berlanjut di tengah ketegangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat di Teheran, Iran, pada 6 Agustus 2026.(IDNVoice/Anadolu Agency)

IDNVoice.com - Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa Teheran tidak gentar menghadapi tekanan dan tindakan Amerika Serikat. Iran, kata dia, tetap membuka peluang diplomasi, namun juga siap menghadapi konflik secara militer.

Pernyataan tersebut disampaikan Ghalibaf dalam sidang parlemen Iran pada Minggu, seperti dilaporkan kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim.

"Kami hadir di medan tempur militer dengan segenap kekuatan kami dan akan menghadapi mereka dengan kejutan-kejutan baru. Kami menggunakan instrumen diplomasi untuk menegaskan keunggulan kami di bidang militer dan memperjuangkan hak-hak rakyat Iran," kata Ghalibaf pada Minggu, 4 Oktober 2026.

Ghalibaf mengungkapkan bahwa Washington telah menyampaikan sejumlah usulan kepada Teheran melalui mediator. Hal itu terjadi setelah Iran mengajukan peta jalan selama tujuh hari untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Namun, Iran tetap mempertahankan sejumlah syarat. Ghalibaf menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sebelum tujuh persyaratan yang diajukan Teheran berdasarkan Memorandum Islamabad terpenuhi.

Kesepakatan tersebut merujuk pada kerangka kerja yang dicapai Iran dan Amerika Serikat pada Juni lalu, yang menjadi bagian dari upaya menghentikan konflik dan memulihkan kebebasan navigasi di kawasan.

Sebelumnya, Iran juga telah menyampaikan persyaratan resmi kepada Amerika Serikat melalui mediator Qatar untuk mengakhiri peang yang dimulai pada 28 Februari.

Persyaratan tersebut antara lain mencakup penghentian seluruh permusuhan di berbagai lini, pencairan dana Iran yang dibekukan, serta penghentian blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Konflik semakin memanas setelah Amerika Serikat dan Israel secara sepihak menyerang Iran pada 28 Februari. Teheran kemudian merespons dengan serangan rudal dan pesawat nirawak ke berbagai wilayah di Timur Tengah.

Iran juga secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama pasokan energi dunia.

Sejak saat itu, berbagai upaya diplomatik terus dilakukan untuk mengakhiri perang. Pada Juni, Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman yang mengatur sejumlah langkah segera, termasuk upaya memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz serta menangani persoalan program nuklir Iran.

Pernyataan Ghalibaf menunjukkan bahwa Iran masih menempatkan kekuatan militer dan diplomasi secara bersamaan dalam menghadapi Amerika Serikat. Teheran juga tetap menjadikan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari negosiasi dan pemenuhan tuntutan yang telah diajukannya. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid