Keluhan Usai Santap MBG Bertambah, SPPG Tutup di Blora Disetop 20 Hari

Sabtu, 03 Oktober 2026 16:30 WIB
Dapur MBG SPPG Blora Tunjungan Tutup di Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. (IDNVoice/Dok. Kompas)
Dapur MBG SPPG Blora Tunjungan Tutup di Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. (IDNVoice/Dok. Kompas)

IDNVoice.com - Keluhan kesehatan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tutup, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, terus bertambah. Hingga Jumat (2/10/2026), tercatat 24 siswa dari tiga sekolah mengalami sejumlah keluhan setelah menerima dan mengonsumsi makanan MBG yang didistribusikan SPPG di bawah naungan Yayasan Pelita Gizi Makmur pada Kamis, 1 Oktober 2026.

Ketua Satgas MBG Kabupaten Blora, Sri Setyorini atau Bude Rini, membenarkan adanya penambahan jumlah siswa yang mengalami keluhan.

Keluhan yang dilaporkan antara lain mual, sakit perut, diare hingga pusing. Para siswa tersebut berasal dari SDN 1 Tutup, SDN 3 Tutup, dan SMK Bakti Husada.

"SDN 1 Tutup 13 (siswa), SDN 3 Tutup 4 (siswa), SMK Bakti Husada 7 (siswa)," terang Bude Rini melalui keterangan tertulisnya pada Jumat, 2 Oktober 2026.

Dari total 24 siswa tersebut, tidak ada yang harus menjalani rawat inap. Para siswa mendapatkan penanganan secara rawat jalan oleh petugas Puskesmas Tunjungan.

Siswa Mulai Mengeluh di Sekolah

Kepala SDN 3 Tutup, Sri Wulandari, mengatakan gejala mulai diketahui setelah salah seorang siswa muntah di lingkungan sekolah usai menyantap makanan MBG.

Tidak lama kemudian, keluhan serupa disampaikan siswa kelas dua. Saat itu waktu sekolah telah memasuki jam kepulangan sekitar pukul 11.00 WIB.

"Bu, perutku sakit. Karena jam pulang pukul 11.00 WIB, terus saya pulangkan. Lalu saya pesan ke wali kelasnya untuk menghubungi di grup WhatsApp kelas dan menyampaikan kepada orang tua agar anak dipantau di rumah," ujar Sri.

Pihak sekolah kemudian meminta orang tua segera berkoordinasi dengan bidan desa apabila kondisi anak mengalami keluhan lanjutan.

Hingga Jumat (2 Oktober 2026), empat siswa SDN 3 Tutup tercatat mengalami keluhan. Namun, jumlah tersebut masih dapat berubah karena petugas Puskesmas Tunjungan masih melakukan pemeriksaan.

Sri mengatakan sekolah mengambil langkah antisipasi dengan menghentikan aktivitas makan siswa setelah mengetahui adanya keluhan.

"Tadi diperiksa oleh pihak Puskesmas, datanya berapa belum tahu," katanya.

Sekolah Pernah Temukan Kejadian Serupa

Menurut Sri, kejadian tersebut merupakan pengalaman pertama bagi SDN 3 Tutup. Meski demikian, ia mengaku pernah menemukan kejadian serupa ketika masih berkaitan dengan siswa SDN Sukorejo.

Saat itu, makanan MBG dibawa pulang dan dikonsumsi di rumah. Keluhan bahkan dialami anggota keluarga siswa.

"Dua murid dan satu wali murid karena dibawa pulang, ibunya yang makan," ungkapnya.

Sebagai langkah lanjutan, pihak sekolah berencana melakukan jajak pendapat kepada wali murid terkait penerimaan program MBG. Evaluasi tersebut diharapkan menjadi masukan agar kualitas distribusi makanan ke sekolah semakin diperhatikan.

Sementara itu, Satgas MBG Kabupaten Blora telah menindaklanjuti laporan tersebut kepada Koordinator Wilayah SPPG.

Bude Rini mengatakan, operasional SPPG Tutup untuk sementara dihentikan selama 20 hari. Penghentian dilakukan sembari menunggu proses evaluasi terhadap kejadian tersebut.

"Kemarin saya di luar kota, tim langsung turun lapor, dan hasilnya tutup 20 hari ke depan sambil dievaluasi," katanya.

Penghentian sementara tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut evaluasi terhadap penyedia makanan MBG, sementara pemeriksaan terhadap siswa yang mengalami keluhan masih dilakukan oleh petugas kesehatan. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid