IDNVoice.com - Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik pada awal September 2026. Aktivitas tersebut terjadi setelah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga sejak Juli 2026.
Gunung yang berada di tengah Selat Sunda, tepatnya di antara Pulau Jawa dan Sumatera, itu bukan gunung baru dalam sejarah kegunungapian Indonesia. Gunung Anak Krakatau merupakan bagian dari sejarah panjang Gunung Krakatau yang mengalami letusan dahsyat pada 1883.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga pernah menjadi perhatian besar pada 2018. Erupsi saat itu memicu tsunami yang menerjang wilayah pesisir Banten dan Lampung.
Tsunami tersebut terjadi sekitar 24 menit setelah letusan Gunung Anak Krakatau.
Jauh sebelum Gunung Anak Krakatau terbentuk seperti sekarang, kawasan tersebut merupakan lokasi Gunung Krakatau.
Gunung Krakatau mengalami letusan besar pada 1883. Peristiwa tersebut tercatat sebagai salah satu letusan gunung api paling dahsyat dalam sejarah.
Letusan pertama terjadi pada 26 Agustus 1883 sekitar pukul 13.00. Aktivitas kemudian berlanjut hingga keesokan harinya. Dentuman letusan bahkan dilaporkan terdengar hingga Australia.
Material vulkanik yang dimuntahkan ke atmosfer menyebabkan langit di sejumlah wilayah menjadi gelap selama lebih dari dua hari. Kondisi atmosfer akibat material letusan juga membuat matahari tampak berwarna oranye pekat.
Dahsyatnya letusan tersebut mengubah bentang alam kawasan Selat Sunda.
Pulau Rakata, tempat Gunung Krakatau berdiri, kehilangan sekitar dua pertiga wilayahnya akibat letusan dan runtuhan yang menyertainya.
Setelah letusan besar itu, kondisi ekosistem di sekitar kawasan Krakatau perlahan kembali pulih. Dalam waktu sekitar lima tahun, tumbuhan dan hewan mulai kembali memenuhi kawasan yang sebelumnya terdampak letusan.
Sejarah Gunung Anak Krakatau kemudian dimulai dari aktivitas vulkanik yang terus berlangsung di bawah laut.
Aktivitas tersebut secara perlahan membentuk daratan baru. Gundukan pertama yang menjadi cikal bakal Gunung Anak Krakatau mulai muncul pada 1928.
Tujuh tahun kemudian, pada 1935, daratan tersebut telah berbentuk hampir bundar dengan ketinggian sekitar 63 meter.
Pertumbuhan terus berlangsung seiring aktivitas vulkanik. Gunung tersebut kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau, karena terbentuk dari kawasan bekas Gunung Krakatau.
Pada 1940, ketinggiannya telah mencapai sekitar 125 meter. Pertumbuhan titik tertinggi gunung tersebut kemudian tercatat sekitar 7-9 meter per tahun.
Hingga aktivitas erupsi pada awal September 2026, Gunung Anak Krakatau disebut memiliki ketinggian sekitar 110-157 meter di atas permukaan laut.
Kemunculan Gunung Anak Krakatau menjadi bagian dari proses geologi panjang yang berlangsung setelah letusan besar Krakatau pada 1883.
Kini, aktivitas gunung api tersebut kembali menjadi perhatian setelah erupsi pada awal September 2026. Dengan status aktivitas berada pada Level III atau Siaga sejak Juli 2026, perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dipantau oleh pihak berwenang. [DR]