IDNVoice.com - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada akhir Juni 2026 diduga menyebabkan sedikitnya 14.000 kematian di enam negara yang paling terdampak. Angka tersebut jauh melampaui tingkat kematian normal dan memicu kekhawatiran baru terhadap dampak cuaca ekstrem di kawasan tersebut.
Mengutip laporan Politico, data kematian awal dan estimasi para peneliti menunjukkan lonjakan korban jiwa terjadi selama paruh kedua Juni di sejumlah negara Eropa.
Laporan yang dirilis pada Senin (13 Juli 2026) itu mencatat sekitar 6.800 kematian dini terjadi di Jerman, menjadikannya negara dengan jumlah korban terbanyak. Sementara itu, Prancis mencatat sekitar 2.000 kematian, Belgia 1.740 kematian, dan Belanda sekitar 480 kematian.
Dua negara lain yang juga terdampak signifikan adalah Spanyol dengan sekitar 810 kematian dan Inggris yang diperkirakan mengalami sekitar 2.200 kematian selama periode yang sama.
Para peneliti menduga lonjakan korban jiwa tersebut berkaitan erat dengan gelombang panas yang melanda kawasan Eropa. Dalam laporannya, mereka menyebut tidak menemukan penyebab lain maupun ancaman kesehatan masyarakat yang dapat menjelaskan peningkatan angka kematian tersebut.
Gelombang panas ekstrem mulai melanda Eropa sejak pertengahan Juni. Suhu udara di sejumlah negara dilaporkan mendekati, bahkan di beberapa wilayah melampaui 40 derajat Celsius, sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit kronis.
Pada pekan terakhir Juni, beberapa negara Eropa bahkan mencatat rekor suhu tertinggi baru selama periode gelombang panas, memperkuat kekhawatiran akan dampak perubahan iklim yang semakin nyata terhadap keselamatan masyarakat. [DR]