IDNVoice.com - Badan Karantina Indonesia (Barantin) bersama Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperkuat sistem biosekuriti nasional melalui program manajemen risiko karantina hewan terintegrasi guna menghadapi ancaman penyakit hewan lintas batas.
Kerja sama tersebut diwujudkan melalui Technical Cooperation Programme (TCP/INS/4101) bertajuk Strengthening Animal Quarantine Risk Management through Integrated Assessment and Response Toward Agri-Threats yang dimulai dengan Inception Workshop di Jakarta, Selasa. Kegiatan itu dihadiri lebih dari 50 peserta dari kementerian/lembaga, akademisi, asosiasi profesi, serta pakar kesehatan hewan.
Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mengatakan program tersebut diarahkan untuk memperkuat sistem karantina berbasis manajemen risiko, termasuk pengembangan peta hama penyakit yang terintegrasi dengan sistem peringatan dini (early warning system).
"Kita ingin memperkuat biosekuriti nasional kita agar terhindar dari banyak hal terutama keamanan pangan kita," ujar Karding pada Selasa, 7 Juli 2026.
Menurutnya, penguatan biosekuriti menjadi kebutuhan mendesak karena ancaman penyakit hewan lintas batas, penyakit yang menular dari hewan ke manusia (zoonosis), serta spesies invasif dapat berdampak pada ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, hingga kelancaran perdagangan.
"Karena itu, kami terus membangun sistem karantina yang modern, berbasis risiko, berbasis data, dan selaras dengan standar internasional agar mampu melindungi ketahanan pangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," ucapnya.
Kerja sama Barantin dan FAO akan berlangsung selama dua tahun, mulai 1 Juli 2026 hingga 30 Juni 2028, dengan dukungan hibah FAO sebesar 200.000 dolar AS atau sekitar Rp3,59 miliar.
Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste Rajendra Aryal mengatakan ancaman penyakit hewan lintas batas, zoonosis, dan spesies asing invasif terus meningkat sehingga membutuhkan sistem biosekuriti yang terintegrasi.
"FAO berkomitmen mendukung Barantin memperkuat kapasitas analisis risiko berbasis teknologi digital agar Indonesia semakin siap menghadapi berbagai ancaman," ungkap Rajendra.
Ia menambahkan penguatan biosekuriti memerlukan kolaborasi lintas sektor karena berkaitan erat dengan kesehatan hewan, kesehatan manusia, ketahanan pangan, dan penghidupan masyarakat. Menurutnya, sistem karantina yang kuat juga akan meningkatkan kepercayaan negara tujuan ekspor terhadap komoditas Indonesia. [DR]