IDNVoice.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) segera membuka tender pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) setelah penetapan lokasi atau tapak pembangunan. Langkah ini menjadi bagian dari persiapan pemerintah mengembangkan energi nuklir untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan menjaga keandalan pasokan listrik.
Wakil Menteri ESDM Yuliot mengatakan penetapan tapak menjadi tahapan awal sebelum tender dilaksanakan oleh PT PLN (Persero).
"Ini kan harus tapak dulu yang kita tetapkan. Dari tapak yang sudah ditetapkan, nanti PLN itu melakukan tender lelang untuk pelaksanaannya," ujar Yuliot di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Yuliot menjelaskan, pemerintah sebelumnya telah menyiapkan 28 tapak untuk pengembangan PLTN dan akan menambah beberapa lokasi lagi. Menurut dia, kebutuhan listrik yang besar untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan di sejumlah daerah tidak bisa hanya mengandalkan energi baru terbarukan (EBT).
Ia menilai PLTN dapat menjadi salah satu sumber pasokan listrik berkapasitas besar. Yuliot mencontohkan Prancis yang sebagian besar pasokan listriknya berasal dari pembangkit nuklir.
"Kalau kita lihat untuk Korea sendiri, mereka waktu awal mengembangkan PLTN justru belajar dari Indonesia, karena reaktor riset kita yang punya. Itu tahun 1962," ucapnya.
Yuliot menyebut Korea Selatan kini telah berkembang menjadi salah satu vendor teknologi PLTN. Sementara itu, sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara juga mulai mempersiapkan pengembangan energi nuklir, termasuk Timor Leste yang telah menyusun perencanaan PLTN serta Vietnam yang sudah memulai konstruksi. Thailand, Malaysia, dan Singapura juga disebut mulai menjajaki pengembangan energi tersebut.
Menurut Yuliot, persiapan harus dilakukan sejak dini karena pembangunan PLTN membutuhkan waktu yang panjang, yakni sekitar tujuh hingga 10 tahun.
"Jadi, ini kan kita karena sudah ada target waktu, dari sekarang kan kita juga sudah harus menyiapkan karena pembangunan PLTN itu kan membutuhkan waktu 7 tahun sampai dengan 10 tahun. Kalau target tahun 2034, ya dari sekarang kita harus menyiapkan tapak untuk PLTN itu sendiri," ujar Yuliot.
Sementara itu, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan Indonesia berencana membangun PLTN dengan kapasitas mencapai 7 gigawatt (GW) untuk mewujudkan ketahanan energi nasional.
Selain pengembangan energi nuklir, Hashim menyampaikan pemerintah juga memiliki target ambisius dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas 100 gigawatt peak (GWp).
Hashim menegaskan berbagai langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah menjamin keberlangsungan pasokan energi bagi masyarakat Indonesia. [DR]