IDNVoice.com – Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) terus memperkuat pendampingan terhadap startup aplikasi Indonesia untuk meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, dan memulihkan kepercayaan investor. Langkah ini dilakukan di tengah penurunan investasi pada sektor startup dalam beberapa waktu terakhir.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menilai pengembang aplikasi nasional memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar domestik hingga menembus pasar regional dan global. Karena itu, pemerintah mendorong startup membangun bisnis yang sehat dengan model usaha berkelanjutan.
“Kami melihat masih banyak peluang, karena developer aplikasi kita mempunyai hasil-hasil yang bisa masuk pasar regional bahkan global,” ujarnya dalam konferensi pers WCCE 2026 di Gedung Badan Komunikasi Pemerintah (BAKOM), Jakarta pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Menurut Teuku Riefky, penguatan startup tidak cukup hanya dengan menghasilkan produk digital. Pelaku usaha juga perlu meningkatkan kualitas aplikasi, memperluas kemitraan, serta membangun nilai perusahaan yang sesuai dengan kondisi dan perkembangan bisnis.
Pendampingan yang dilakukan Kemenekraf mencakup peningkatan kualitas produk aplikasi, pengembangan kemitraan bisnis, serta penguatan nilai perusahaan. Pemerintah juga mendorong kolaborasi antara startup, asosiasi industri, dan perguruan tinggi untuk memperkuat ekosistem digital nasional.
Salah satu upaya fasilitasi tersebut diwujudkan melalui Indonesia Application Summit 2026 yang diselenggarakan di ICE BSD, Tangerang. Forum ini menjadi ruang pertemuan bagi para pengembang aplikasi untuk bertukar gagasan, memperluas jaringan, dan membangun peluang kerja sama.
Melalui berbagai program tersebut, Kemenekraf berharap startup Indonesia mampu mengembangkan bisnis secara lebih terarah dan meningkatkan nilai ekonomi produk digital yang dihasilkan.
Penguatan sektor aplikasi juga diharapkan memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian nasional, terutama melalui penciptaan lapangan kerja dan pengembangan industri kreatif berbasis teknologi.
Selain mendorong pertumbuhan startup, pemerintah memanfaatkan World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 sebagai ajang memperluas kolaborasi bisnis antara pelaku ekonomi kreatif Indonesia dan mitra internasional.
Teuku Riefky menyebut, forum tersebut akan menghadirkan sejumlah agenda strategis, mulai dari pertemuan bilateral, business matching, hingga penjajakan kerja sama antarpelaku usaha atau business-to-business (B2B).
Sejumlah perusahaan global, termasuk YouTube, Netflix, Canva, dan Tencent, turut disebut dalam rangkaian forum tersebut. Kehadiran perusahaan-perusahaan itu diharapkan dapat membuka peluang kemitraan, memperluas jaringan usaha, serta mendorong penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU).
Bagi startup Indonesia, forum internasional seperti WCCE berpotensi menjadi kesempatan untuk memperkenalkan inovasi, menjajaki pasar baru, dan membangun hubungan bisnis dengan mitra dari berbagai negara.
Deputi Bidang Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif Kemenekraf, Mohammed Ali Berawi, mengatakan WCCE 2026 dijadwalkan berlangsung pada 21–23 Oktober 2026 di Jakarta.
Rangkaian kegiatan akan mencakup pertemuan tingkat menteri atau Ministerial Meeting, penjajakan kerja sama antarpelaku usaha melalui business-to-business matchmaking, serta pertemuan bilateral untuk memperkuat hubungan dan kerja sama antarnegara di sektor ekonomi kreatif.
Menurut Ali, partisipasi internasional dalam forum tersebut juga terus berkembang seiring bertambahnya negara dan organisasi yang mengonfirmasi kehadiran.
“Ada sekitar 51 negara yang sudah konfirmasi mengikuti WCCIE dan 7 organisasi internasional, angka ini jumlahnya terus bertambah,” kata Ali.
Partisipasi berbagai negara dan organisasi internasional tersebut diharapkan memperluas peluang kolaborasi sekaligus memperkuat posisi pelaku ekonomi kreatif Indonesia dalam jaringan bisnis global.
Melalui pendampingan startup dan penyelenggaraan WCCE 2026, Kemenekraf berupaya menghubungkan pengembangan produk digital dengan peluang investasi serta akses pasar internasional.
Penguatan kualitas aplikasi, model bisnis yang berkelanjutan, dan kemitraan strategis menjadi faktor penting bagi startup untuk meningkatkan daya saing di tengah perkembangan industri digital.
Jika kolaborasi tersebut berjalan optimal, startup nasional berpeluang memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian Indonesia. [DR]