Belajar dari Industri Otomotif China, SDM dan Riset Jadi Kunci Pengembangan Kawasan Transmigrasi

Kamis, 15 Oktober 2026 11:42 WIB
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara (kanan) menyimak penjelasan mengenai teknologi dan proses produksi industri otomotif saat mengunjungi Beijing Automotive Group (BAIC Group) di Beijing, Tiongkok pada Selasa, 13 Oktober 2026. (IDNVoice/Kementerian Transmigrasi)
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara (kanan) menyimak penjelasan mengenai teknologi dan proses produksi industri otomotif saat mengunjungi Beijing Automotive Group (BAIC Group) di Beijing, Tiongkok pada Selasa, 13 Oktober 2026. (IDNVoice/Kementerian Transmigrasi)

IDNVoice.com – Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menekankan pentingnya investasi sumber daya manusia (SDM), riset, dan teknologi untuk membangun industri di kawasan transmigrasi. Menurutnya, pengalaman pengembangan industri otomotif di China menunjukkan bahwa kemajuan industri tidak cukup hanya mengandalkan modal dan pembangunan pabrik.

"Saya tertarik bukan pada produknya, melainkan pada prosesnya," kata Iftitah dalam keterangan resminya pada Rabu, 14 Oktober 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Iftitah mengunjungi Beijing Automotive Group (BAIC Group) di Beijing, China, Selasa. Kunjungan itu merupakan bagian dari agenda kerja Kementerian Transmigrasi pada 12–18 Oktober 2026.

Iftitah menilai, pengalaman BAIC menunjukkan bahwa keberhasilan industri ditentukan oleh kualitas tenaga kerja, penguasaan teknologi, serta kemampuan riset yang dikembangkan secara berkelanjutan.

"Pertama, mereka berorientasi pada manusia. Itulah sebabnya mereka berinvestasi besar-besaran pada sumber daya manusia. Itu lesson learned pertama yang saya tangkap," ujarnya.

Menurut Iftitah, pembelajaran tersebut relevan untuk mendorong transformasi kawasan transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Pulau Jawa. Karena itu, pengembangan industri harus berjalan beriringan dengan pendidikan, pelatihan, dan penyiapan tenaga kerja sesuai kebutuhan dunia usaha.

Selain penguatan SDM, Iftitah menyoroti pentingnya kerja sama internasional dalam membangun industri. Ia mencontohkan kemitraan BAIC dengan Hyundai dari Korea Selatan dan Mercedes-Benz dari Jerman sebagai bagian dari upaya pengembangan kemampuan industri.

Menurutnya, kolaborasi dengan perusahaan yang telah memiliki pengalaman dan teknologi dapat menjadi sarana pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan produksi, keterampilan tenaga kerja, serta daya saing industri nasional.

"Tidak ada sesuatu yang bisa dibuat dalam semalam. Mereka membutuhkan puluhan tahun, tetapi pada titik tertentu akan terjadi akselerasi," katanya.

Iftitah juga menekankan pentingnya membangun ekosistem industri yang melibatkan pemasok, lembaga penelitian, tenaga ahli, jaringan logistik, hingga berbagai usaha pendukung. Dengan demikian, investasi yang masuk tidak hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat sekitar.

"Kalau kita berinvestasi dalam riset dan ekosistemnya terbentuk, pihak lain tidak perlu mulai dari nol," ujarnya.

Dalam konteks kawasan transmigrasi, pengembangan ekosistem industri tersebut dapat diarahkan pada pengolahan hasil pertanian dan perkebunan, kegiatan manufaktur, serta usaha pendukung lainnya. Pengembangannya akan disesuaikan dengan potensi sumber daya dan kebutuhan pasar di masing-masing kawasan.

Sejalan dengan upaya memperkuat SDM dan riset, Kementerian Transmigrasi pada 2026 telah menerjunkan 1.476 peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP). Mereka tergabung dalam 246 tim dari 10 perguruan tinggi untuk melakukan riset dan pendampingan di 53 kawasan transmigrasi.

Salah satu penerapan teknologi dilakukan TEP Universitas Hasanuddin di kawasan Weri-Saharey, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Tim tersebut mengembangkan alat pengering pala yang menurut Kementerian Transmigrasi mampu memangkas waktu pengeringan dari tujuh hari menjadi hanya dua hari.

Inovasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pengolahan hasil perkebunan sekaligus memberikan nilai tambah bagi produk masyarakat di kawasan transmigrasi.

Sementara itu, TEP Universitas Indonesia di kawasan Barelang, Batam, Kepulauan Riau, telah memfasilitasi pengurusan nomor induk berusaha (NIB) bagi 20 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.

Pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat legalitas usaha dan mendorong pengembangan ekonomi masyarakat di kawasan transmigrasi.

Iftitah menilai, keberhasilan pembangunan pusat pertumbuhan ekonomi tidak cukup diukur dari besarnya investasi yang masuk atau jumlah pabrik yang berdiri.

Menurutnya, pembangunan juga harus menghasilkan peningkatan keterampilan masyarakat, perkembangan usaha lokal, serta terbukanya lapangan kerja dan sumber pendapatan baru. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid