AHY Peringatkan Perang Ekonomi Global Makin Tajam, Indonesia Harus Perkuat Hilirisasi

Rabu, 14 Oktober 2026 12:55 WIB
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infra) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (IDNVoice/Kemenko IPK)
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infra) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (IDNVoice/Kemenko IPK)

IDNVoice.com – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infra) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengingatkan Indonesia untuk memperkuat daya saing nasional di tengah persaingan ekonomi global yang semakin tajam. Penguatan hilirisasi, industrialisasi, penguasaan teknologi, dan diversifikasi kemitraan dinilai menjadi kunci agar Indonesia mampu menghadapi tekanan sekaligus memanfaatkan peluang global.

"Indonesia harus mampu mengubah tekanan global menjadi peluang strategis. Kita perlu memperkuat hilirisasi, industrialisasi, penguasaan teknologi dan diversifikasi kemitraan agar memiliki daya saing dan posisi tawar yang semakin kuat," ujar AHY dalam keterangannya pada Rabu, 14 Oktober 2026.

AHY menilai persaingan antarkekuatan besar dunia kini semakin bergeser dari arena geopolitik menuju konfrontasi geoekonomi. Dalam situasi tersebut, kebijakan perdagangan, teknologi, energi, hingga penguasaan rantai pasok tidak lagi semata-mata digunakan untuk kepentingan ekonomi, tetapi juga menjadi instrumen tekanan dan perebutan pengaruh antarnegara.

Ia menyoroti penggunaan tarif perdagangan, sanksi ekonomi, pembatasan teknologi, dan penguasaan rantai pasok sebagai alat untuk memperkuat posisi strategis negara di tengah persaingan global.

"Kita sedang menyaksikan perubahan mendasar. Perdagangan, teknologi, energi dan rantai pasok tidak lagi semata-mata menjadi instrumen ekonomi, tetapi juga alat tekanan dan perebutan pengaruh geopolitik," kata AHY.

Untuk menggambarkan besarnya tantangan tersebut, AHY mengutip Global Risks Report 2026 yang diterbitkan World Economic Forum (WEF). Dalam laporan itu, konfrontasi geoekonomi menempati posisi teratas risiko global jangka pendek.

Sebanyak 18 persen responden menempatkan konfrontasi geoekonomi sebagai risiko utama, disusul konflik bersenjata antarnegara sebesar 14 persen.

Menurut AHY, rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok menjadi salah satu faktor utama yang mendorong ketidakpastian ekonomi dunia. Persaingan kedua negara tersebut berpotensi memengaruhi perdagangan internasional, arus investasi, pengembangan teknologi, serta stabilitas rantai pasok global.

Fragmentasi geoekonomi, lanjutnya, dapat menimbulkan tekanan terhadap stabilitas perdagangan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Namun, kondisi tersebut juga membuka peluang bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam diversifikasi rantai pasok dunia.

Karena itu, Indonesia perlu memperkuat posisi dalam rantai nilai global agar tidak hanya bergantung pada pasar luar negeri atau menjadi pemasok bahan mentah.

AHY menegaskan tantangan utama Indonesia adalah meningkatkan nilai tambah sumber daya alam melalui industrialisasi dan pengembangan teknologi. Dengan demikian, Indonesia dapat berkembang menjadi pusat produksi dan inovasi yang memiliki daya saing lebih kuat.

Menurutnya, kesiapan dalam negeri menjadi faktor penentu untuk menghadapi perubahan ekonomi global. Hal itu perlu didukung penguatan infrastruktur, peningkatan efisiensi logistik, ketahanan energi, serta pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Langkah tersebut dinilai penting agar Indonesia mampu menarik investasi berkualitas, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan produktivitas nasional di tengah persaingan antarnegara.

AHY juga mengajak Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) berkontribusi melalui kajian geoekonomi yang dapat membantu pemerintah mengantisipasi risiko global sekaligus mengidentifikasi peluang investasi dan kerja sama strategis.

Ia menilai sinergi antara pemerintah dan kalangan akademisi diperlukan untuk merumuskan kebijakan yang mampu memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah perubahan tatanan dunia.

"Daya saing bangsa tidak cukup ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam. Kita harus mampu mengubah sumber daya tersebut menjadi produktivitas, inovasi, lapangan kerja berkualitas dan kesejahteraan rakyat," kata AHY. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid