IDNVoice.com - Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 mendorong perubahan paradigma pendidikan global menuju pendekatan yang lebih holistik. Pendidikan dinilai tidak cukup hanya mengejar penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga harus membentuk intelektualitas, karakter, keterampilan, serta jati diri peserta didik.
Dorongan tersebut mengemuka dalam konferensi GIHES 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Minggu. Forum itu juga menyoroti penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang semakin luas dalam dunia pendidikan.
Rektor UNIDA Gontor sekaligus Ketua Peringatan 100 Tahun Gontor, Hamid Fahmy Zarkasyi, mengatakan perkembangan AI harus diimbangi dengan perhatian terhadap kepribadian dan jati diri manusia.
Menurutnya, penilaian terhadap seseorang tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada teknologi karena manusia memiliki dimensi yang lebih kompleks.
"Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan, kita harus melihat kepribadian seseorang secara utuh dan tidak boleh hanya berbasis penilaian AI semata sehingga setiap individu tetap dituntut untuk menjaga integritas serta keaslian jati dirinya," kata Hamid dalam agenda konferensi GIHES di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat pada Minggu, 6 Agustus 2026.
Ia mengatakan pendidikan yang menempatkan jati diri manusia sebagai bagian utama harus lebih diutamakan dan tidak hanya menyandarkan proses pembelajaran pada kemampuan teknologi.
Pendidikan jati diri, lanjut dia, menjadi penting untuk membentuk ketangguhan peserta didik secara optimal di tengah perubahan zaman.
Hamid menilai sistem pendidikan saat ini masih terlalu menekankan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kondisi tersebut membuat pendidikan dinilai belum sepenuhnya menerapkan pilar-pilar pendidikan yang dikemukakan UNESCO maupun para pakar pendidikan.
Karena itu, pendekatan holistik didorong untuk memperluas orientasi pendidikan. Peserta didik tidak hanya diarahkan memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki karakter dan kapasitas untuk menghadapi persoalan kehidupan yang semakin kompleks.
Ketua Panitia GIHES 2026, Anang Rikza Masyhadi, menegaskan pendidikan berkualitas tidak sebatas berorientasi pada proses belajar mengajar.
Menurutnya, pendidikan harus mampu membentuk kemampuan peserta didik secara menyeluruh, termasuk kemampuan kognitif dan intelektual.
"Tema utama seminar ini adalah sistem pendidikan berkualitas tinggi. Ini bukan hanya tentang mendidik, tetapi juga memberikan keterampilan kognitif, intelektual, dan juga kemampuan lainnya," katanya.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cakap secara akademis, tetapi juga memiliki kemampuan menghadapi berbagai tantangan di luar ruang kelas.
Ketua Panitia GIHES 2026 Hadiyanto Arief menambahkan bahwa pendidikan holistik memiliki peran penting dalam membekali peserta didik menghadapi persoalan global.
Ia menilai berbagai persoalan dunia tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, AI dan teknologi lainnya harus ditempatkan secara proporsional sebagai alat yang mendukung kehidupan manusia.
Menurut dia, pendidikan harus mampu menjawab persoalan lingkungan, perdamaian, hingga berbagai tantangan kemanusiaan yang semakin kompleks.
"Kita perlu mampu melawan penyakit ini, berjuang melawan penyakit," katanya.
GIHES 2026 juga menjadi ruang pertemuan para pemimpin dan tokoh dari berbagai sektor. Hadiyanto mengatakan forum tersebut diikuti lebih dari 300 peserta yang memiliki posisi strategis di bidang pendidikan maupun sektor lainnya.
"Ini adalah pertemuan puncak para pemimpin yang memegang posisi strategis," kata dia.
Melalui forum tersebut, pendidikan holistik didorong menjadi salah satu pendekatan untuk menghadapi perubahan teknologi sekaligus tantangan kemanusiaan. AI tetap dapat dimanfaatkan dalam pendidikan, tetapi harus ditempatkan sebagai sarana pendukung tanpa mengesampingkan integritas, karakter, dan keaslian jati diri manusia. [DR]