IDNVoice.com - Sebanyak 119 dari 344 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Lebak, Banten, mulai beroperasi untuk mengembangkan berbagai usaha masyarakat di tingkat desa.
Koperasi tersebut berada di bawah naungan PT Agrinas Nusa Pangan setelah melalui proses verifikasi dan dinyatakan layak menjalankan kegiatan usaha.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak Imam Suangsa mengatakan, operasional 119 KDKMP diharapkan mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi masyarakat desa.
"Ke-119 KDMP yang beroperasi tersebut sesuai hasil verifikasi dan layak untuk melakukan kegiatan aneka usaha koperasi guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi," kata Imam pada Kamis, 8 Oktober 2026.
Menurut Imam, pengembangan koperasi di desa dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Keberadaan KDKMP juga dinilai dapat menciptakan perputaran uang di lingkungan desa karena anggota koperasi turut melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Produk yang dihasilkan UMKM nantinya dapat ditampung dan dipasarkan melalui berbagai unit usaha yang dikembangkan koperasi.
"Keberadaan KDMP dipastikan dapat menggulirkan perputaran uang, karena anggotanya juga terdapat pelaku UMKM dan produksinya bisa ditampung koperasi," ujar Imam.
KDKMP dapat mengembangkan jenis usaha sesuai kebutuhan masyarakat dan potensi ekonomi masing-masing desa. Unit usaha yang dapat dikembangkan antara lain gerai koperasi, klinik dan apotek, warung bahan pokok atau sembako, gerai pertanian hingga pergudangan.
Selain perdagangan, koperasi juga dapat bergerak dalam bidang jasa penyaluran bantuan pemerintah kepada masyarakat, seperti bantuan pangan, Program Keluarga Harapan (PKH), dan bantuan sosial lainnya.
"Kami meyakini usaha koperasi itu dipastikan dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat di daerah itu," kata Imam.
Pemerintah Kabupaten Lebak menargetkan seluruh 344 desa di wilayah tersebut memiliki KDKMP yang dapat beroperasi dan menjalankan kegiatan usaha pada tahun depan.
"Kami juga menargetkan tahun depan KDMP bisa beroperasi di 344 desa," ujar Imam.
Pengembangan KDKMP tidak hanya diarahkan pada aktivitas perdagangan, tetapi juga diharapkan melahirkan sentra-sentra ekonomi baru di pedesaan.
Potensi tersebut antara lain berasal dari produk UMKM berbahan baku lokal, seperti makanan ringan berbahan singkong, pisang, ubi-ubian hingga ikan.
Potensi lainnya terdapat pada sektor perkebunan, pertanian, peternakan dan perikanan. Sejumlah produk unggulan lokal yang dapat dikembangkan di antaranya gula aren dari pohon aren dan kaceprek berbahan baku melinjo.
"Semua produksi UMKM bisa memenuhi gerai koperasi, sehingga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat," katanya.
Salah satu koperasi yang mulai mengembangkan potensi lokal adalah KDKMP Desa Pondok Panjang.
Ketua KDKMP Desa Pondok Panjang, Aep Saepudin, mengatakan koperasi tersebut memiliki 294 anggota, yang sebagian besar merupakan pelaku UMKM dengan berbagai produk unggulan.
"Anggota koperasi di sini sebanyak 294 orang dan sebagian besar pelaku UMKM produksi usaha emping kaceprek, gula aren, sale pisang dan bakso ikan," kata Aep.
Menurut dia, KDKMP dapat menjadi wadah pemasaran produk masyarakat sekaligus membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru di pedesaan.
"Kami mendorong agar koperasi itu tumbuh dan berkembang sehingga dapat menciptakan perekonomian baru bagi masyarakat pedesaan," ujar Aep.
Dengan semakin banyaknya KDKMP yang beroperasi, pemerintah daerah berharap koperasi tidak hanya menjadi tempat transaksi ekonomi, tetapi juga menjadi penghubung antara produksi UMKM, potensi lokal, dan pasar yang lebih luas. [DR]