IDNVoice.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Buleleng, Bali, berhasil dipadamkan sepenuhnya. Meski demikian, peristiwa tersebut sempat menghanguskan sekitar 48 hektare lahan vegetasi perbukitan dan menjadi kejadian karhutla dengan luasan terbesar yang dilaporkan ke BNPB dalam dua hari terakhir.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan kondisi di lokasi kini telah aman setelah tim gabungan berhasil mengendalikan kobaran api.
"Kondisi di lokasi saat ini dilaporkan telah aman dan terkendali setelah tim gabungan berhasil menaklukkan api," kata Abdul Muhari pada Selasa, 21 Juli 2026.
Menurut Abdul, kebakaran mulai terjadi pada Jumat (17 Juli 2026) ketika api melalap vegetasi rerumputan kering di kawasan perbukitan Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng.
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB mengonfirmasi titik api yang berada di kawasan perbukitan tersebut sempat terlihat jelas dari kawasan wisata Villa Bukit Kursi, sehingga memudahkan pemantauan perkembangan kebakaran.
Merespons kejadian tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng segera mengerahkan tim gabungan untuk memadamkan api agar tidak meluas hingga mengancam permukiman warga.
Operasi pemadaman dilakukan secara terpadu dengan melibatkan personel BPBD, TNI, Polri, Dinas Pemadam Kebakaran, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), serta masyarakat setempat yang turut membantu proses penanganan di lapangan.
Meski kebakaran telah berhasil dipadamkan, BNPB tetap mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, terutama terhadap potensi munculnya titik api baru di kawasan yang didominasi vegetasi kering.
"Mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan untuk tetap mewaspadai potensi timbulnya titik api baru, terutama pada vegetasi kering selama berlangsungnya periode musim kemarau," ujar Abdul.
BNPB menegaskan kesiapsiagaan seluruh pihak sangat diperlukan untuk mencegah kebakaran kembali meluas, mengingat kondisi cuaca kering masih berpotensi memicu karhutla di sejumlah wilayah. [DR]