IDNVoice.com - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan pentingnya dunia usaha membangun bisnis yang bertumpu pada nilai, kepercayaan, dan hubungan jangka panjang di tengah perkembangan ekonomi modern. Menurutnya, filosofi Jawa Tuna Satak, Bathi Sanak tetap relevan sebagai fondasi membangun usaha yang berkelanjutan.
Pernyataan tersebut disampaikan Sri Sultan HB X saat menghadiri Jogja Brand and Business Awards (JBBA) 2026 di Yogyakarta, Rabu (15 Juli 2026). Ajang tersebut memberikan penghargaan kepada tujuh tokoh dan 55 institusi yang dinilai konsisten mengusung semangat Hamemayu Hayuning Bawana di bidang pendidikan, kebudayaan, dan ekonomi berkelanjutan.
"Dalam khazanah niaga Jawa, ada satu ungkapan yang jarang diucap, tetapi selalu dijalankan para leluhur kita di pasar. Tuna satak, bathi sanak. Rugi sedikit materi, untung mendapat saudara. Bukan kalkulasi akuntansi biasa, melainkan filosofi bisnis yang menempatkan hubungan di atas transaksi," kata Sri Sultan HB X.
Sultan menjelaskan filosofi tersebut bukan sekadar perhitungan matematis atau akuntansi semata, melainkan menjadi fondasi relasi jangka panjang dalam dunia usaha. Menurutnya, hubungan kemanusiaan harus ditempatkan lebih tinggi daripada sekadar kepentingan transaksi ekonomi.
Ia menilai konsep tradisional tersebut tetap relevan diterapkan di era digital, termasuk melalui berbagai strategi bisnis modern seperti pemberian diskon di platform digital maupun perluasan akses pasar menggunakan sistem QRIS.
Dalam kesempatan itu, Sultan juga menyoroti pengembangan UMKM di DIY yang kini diarahkan pada paradigma Local Value for Money, dengan menempatkan UMKM sebagai tulang punggung perekonomian daerah, bukan lagi sekadar pelengkap.
Pemerintah Daerah DIY, lanjut Sultan, terus memperkuat ekosistem UMKM melalui platform SiBakul DIY yang menghubungkan produk-produk unggulan lokal dengan pasar yang lebih luas sekaligus mendukung sistem pengadaan barang pemerintah.
Sementara itu, Presiden Direktur Harian Jogja Arif Budisusilo menjelaskan JBBA merupakan ajang apresiasi bagi perusahaan, institusi, dan organisasi yang mampu tumbuh secara tangguh dan berkelanjutan, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dengan membumikan falsafah Hamemayu Hayuning Bawana.
Pada ajang tersebut, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY GKR Bendara menerima penghargaan sebagai tokoh budaya pendorong pariwisata berkelanjutan atas kontribusinya menyelaraskan sektor pariwisata, alam, dan masyarakat melalui trilogi Pangeran Mangkubumi.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo juga memperoleh penghargaan pada klaster Ekonomi Berkelanjutan dan Kebudayaan sebagai kepala daerah peduli penanganan sampah. Penghargaan diberikan atas upaya Pemerintah Kota Yogyakarta mengembangkan Gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS) serta penataan kabel udara di kawasan Sumbu Filosofi Jogja.
Penghargaan turut diberikan kepada Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih sebagai kepala daerah akselerator pariwisata budaya dan alam berkat keberhasilannya mengembangkan sektor pariwisata berbasis budaya lokal, potensi alam, dan semangat gotong royong masyarakat.
Sementara itu, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menerima penghargaan sebagai kepala daerah inovator pembangunan dan ketahanan pangan atas inovasinya dalam revitalisasi identitas pangan lokal beras Rojolele serta diversifikasi ekonomi melalui pengembangan pariwisata pedesaan berbasis infrastruktur strategis.
Secara keseluruhan, Jogja Brand and Business Awards (JBBA) 2026 memberikan penghargaan kepada tujuh tokoh dan 55 institusi yang dinilai konsisten menerapkan nilai-nilai Hamemayu Hayuning Bawana dalam pembangunan pendidikan, kebudayaan, dan ekonomi berkelanjutan. [DR]